Wednesday, March 15, 2017

JANGAN KE-PD-AN! (Roma 4:1-5, 13-17

"Berdasarkan percayanya itulah Allah menerima orang itu sebagai orang yang menyenangkan hati Allah...karena Ia percaya kepada Allah sehingga ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya..sebagai suatu pemberian cuma-cuma dari Allah. Sebab Abraham adalah bapak kita semua secara rohani. ( Roma 4:5b, 13b dan 16b) BIMK

Banyak orang Kristen mengganggap percaya adalah soal mengaku lalu selesai. Padahal bahasa asli percaya yang digunakan dalam Roma adalah pisteuo  yang bermakna sikap, terhadap seseorang lalu melekat terus menerus dan berbuah dalam nilai-nilai yang ditunjukkan seperti menjadi benar dan adil. Percaya bukan hanya sekadar mengaku dan berkata melainkan ditunjukkan dalam konsitensi dan keterlekatan yang terus menerus memengaruhi yang melekat padanya. 

Karena itu kekristenan adalah proses bertumbuh dalam percaya. Ini terjadi melalui berbagai pergumulan yang orang Kristen alami dalam hidupnya di dunia: persoalan keluarga, pelayanan, masyarakat, lingkungan, bangsa, negara bahkan dirinya sendiri dengan ilah-ilah dalam dirinya. Ketika kita berada dalam proses berbalik kepada Allah dari hidup yang sebelumnya, maka itu menyangkut semua hal yang berkaitan dalam diri kita: dari yang sepele sampai yang paling susah kita lepaskan karena sudah begitu melekat.

Misalnya pengalaman saya dengan salah satu anggota keluarga yang saya pernah layani. Dalam sebuah momen kebaktian rumah tangga, sang empunya rumah yang merupakan seorang pemimpin jemaat, secara terang-terangan mengaku bahwa dia meminta bantuan dukun untuk melihat keberadaan ayah mertuanya. Dia mengaku bahwa saat itu ia dalam fase percaya gak percaya.  Jujur, ini fenomena yang biasa terjadi di berbagai pelosok Indonesia. Ada banyak agama di negeri ini, tapi bertumbuh bersama dengan klenik dan agama-agama suku dan kepercayaan. Bukan mudah, melepaskan ketergantungan pada percaya yang lama untuk beralih sepenuhnya pada percaya yang baru dan meninggalkan yang lama.

Maka saya katakan, tidak ada istilah percaya gak percaya dalam iman Kristen. Yang ada hanya percaya dan gak percaya. Kalau kita percaya pada Yesus, ya tidak boleh percaya pada hal lain kecuali Yesus. Yang lain harus sungguh ditinggalkan sepenuhnya. Harus bisa mengkritisi hal-hal yang memisahkan kita dari Kristus yang saat ini, kepada-Nya kita sudah melekat. Ini sebuah pergumulan yang tidak mudah, terutama bagi mereka yang terbiasa berurusan dengan kepercayaan lain-lain.

Abraham juga tadinya percaya hal lain di luar Allah. Sebagai anak seorang pembuat patung, tidak mudah baginya untuk kemudian menaati suara Allah dalam hatinya untuk percaya hanya kepada Suara berpribadi yang menjanjikannya hidup baru itu. Tapi, dia bisa. Dia mungkin jatuh, tapi Allah tidak membiarkannya menyerah. Dia terus membimbing Abraham. Sama seperti sampai saat ini, Allah membimbing Gereja melalui Firman-Nya yang diberitakan di tiap-tiap kesempatan. Ini adalah sebuah panggilan untuk menguatkan hati, mengarahkan hati dan tetap bertumbuh dalam percaya pada Allah.

Janji Allah kata Paulus didasari dengan itu. Yesus secara saklek  mengatakan bahwa jika kita percaya pada Allah dengan level penuh dalam kuantitas yang kecil saja, kita pasti bisa memindahkan gunung. Masalahnya, kita begitu lemah dan membuka begitu banyak celah dalam hidup kita untuk membiarkan diri kita dikendalikan hal-hal lain yang mengalihkan fokus kita dari Allah kepada dunia ini. Sehingga, pencobaan kecil saja, mampu memalingkan kita dari Tuhan dan kita menjadi mundur. 

Hubungan pribadi bersama Allah di dalam Yesus menjadi tekanan yang kuat dalam surat Roma. Kenapa? Karena itulah satu-satunya modal iman yang memampukan jemaat Roma bertahan di dalam segala tantangan dan pergumulan mereka, selama Paulus belum mengunjungi mereka. Paulus menuliskan surat ini, ketika dia dipenjara karena iman. Tapi dalam segala kelemahan dan pergumulan yang mereka lalui, tidak menghalangi mereka untuk bertahan dalam iman. Surat ini menguatkan Paulus sendiri dan jemaat Roma. Dan, semoga kita juga.

Jadi, jangan ke-pede-an, karena kita beriman. Itu bukan hasil upaya kita, melainkan karena kasih karunia Allah dalam hidup kita. Maka, terus terima panggilan untuk memperkuat rasa percaya itu dalam hidup kita. 

Wednesday, March 8, 2017

Kembali pada Hakikat ( Kejadian 2:15-17, 3:1-7

Kemudian TUHAN Allah menempatkan manusia itu di taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu. TUHAN berkata kepada manusia itu, "Engkau boleh makan buah-buahan dari semua pohon di taman ini, kecuali dari pohon yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Buahnya tidak boleh engkau makan; jika engkau memakannya, engkau pasti akan mati pada hari itu juga."
Ular adalah binatang yang paling licik dari segala binatang yang dibuat oleh TUHAN Allah. Ular itu bertanya kepada perempuan itu, "Apakah Allah benar-benar melarang kalian makan buah-buahan dari segala pohon di taman ini?"  "Kami boleh makan buah-buahan dari setiap pohon di dalam taman ini," jawab perempuan itu, "kecuali dari pohon yang ada di tengah-tengah taman. Allah melarang kami makan buah dari pohon itu ataupun menyentuhnya; jika kami melakukannya, kami akan mati." Ular itu menjawab, "Itu tidak benar; kalian tidak akan mati. Allah mengatakan itu karena dia tahu jika kalian makan buah itu, pikiran kalian akan terbuka; kalian akan menjadi seperti Allah dan mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat." Perempuan itu melihat bahwa pohon itu indah, dan buahnya nampaknya enak untuk dimakan. Dan ia berpikir alangkah baiknya jika dia menjadi arif. Sebab itu ia memetik buah pohon itu, lalu memakannya, dan memberi juga kepada suaminya, dan suaminya pun memakannya. Segera sesudah makan buah itu, pikiran mereka terbuka dan mereka sadar bahwa mereka telanjang. Sebab itu mereka menutupi tubuh mereka dengan daun ara yang mereka rangkaikan.


William Shakespare, sang penyair terkenal mengatakan bahwa makna hidup dicapai ketika kita menyadari bahwa hidup adalah sebuah pemberian, dan tujuan kita ada adalah memberi hidup bagi orang lain. Tapi, belum tentu semua orang sampai pada tingkat pengertian seperti ini. Ada begitu banyak orang memahami hidup hanya sebatas apa yang dia alami saat ini, tanpa memahami, kenapa dan untuk apa dia ada.

Ini hanya bisa dilakukan dengan refleksi yang mendalam. Kekristenan memahami hidup sedemikian dalam. Bukan dangkal dan singkat. Kalaupun sementara tapi ada maknanya. Bahkan hakikat hidup ini bisa kita lihat dalam kitab Kejadian pasal 2 dan 3 yang bagi banyak orang Kristen bukan kesukaan. Kitab Kejadian hanya dianggap pemaparan tentang sejarah dan cerita, kendati sebenarnya kalau kita tahu apa maksud penulis menulisnya, kita bisa banyak belajar tentang hidup melalui Kejadian.

Kisah dalam Kejadian 2 mengingatkan kita, bahwa manusia diciptakan karena sebuah tujuan yang ditetapkan Allah baginya. Jadi, kita tidak ujug-ujug ada. Bukan juga karena teori alam ini dan itu melainkan karena ada Pribadi yang menginginkan kita ada dan ingin kita mengada dengan sebuah tugas demi kasihNya pada dunia dan segala isinya. Dengan demikian, manusia tidak boleh lupa bahwa keberadaannya tidaklah lepas dari keberadaan ciptaan Allah lainnya.

Allah memberi semua kebebasan pada manusia dalam menikmati dan melaksanakan semua tugasnya. Perintah untuk tidak makan buah satu pohon adalah ujian dan tantangan terhadap ketaatan. Di antara semua pemberian yang diberi Allah bagi kita dalam hidup, apa kita bisa setia dan tidak serakah? Nyatanya, Adam dan Hawa jatuh.

Kenapa? Karena Iblis tahu apa yang paling lemah dari kita dalam hubungan kita bersama Allah. Dia tahu bahwa selalu ada bagian dalam diri kita yang ingin sama seperti Allah, dan bahkan terus menerus memberontak pada Allah. Peran Iblis hanya melancarkan tipu daya dan semua godaan untuk memberi makan ego dalam diri kita. Ketika Hawa kalah, Adam kalah, maka rusaklah benteng pertahanan iman mereka. Hubungan mereka yang tadinya baik dan harmonis dengan Allah dan seisi ciptaan menjadi rusak karena mereka gagal memelihara perjanjian mereka dengan Allah.

Dalam hal ini, kita tidak bisa menganggap remeh dosa. Dosa adalah dosa. Tidak ada dosa kecil dan dosa besar. Tidak ada dosa hitam dan dosa putih. Dosa tetaplah berisi pemisahan, perpisahan, kutuk dan kesedihan. Ini yang terjadi, mereka jadi tahu segala sesuatu. Adam dan Hawa tidak lagi innocent tapi makin tahu bahwa mereka bisa berpotensi melakukan ini dan itu tanpa Allah. Pada akhirnya, manusia jadi makin "cerdik" dan "licik" seperti Iblis, kita tahu bagaimana kita bisa mengakali Allah, sesama dan ciptaan ini. Inilah dampak dosa.

Tepat ketika dosa terjadi, relasi manusia menjadi terganggu. Kita menjadi terluka, sesama terluka lalu saling melukai. Teologi yang sedang dikembangkan dalam Kekristenan saat ini, adalah teologi trinitarian, di mana kita menyadari bahwa Allah (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang bergerak sepanjang sejarah sedang memulihkan bumi. Nah, pertanyaannya, apa kita menjadi bagian dari arak-arakan pemulihan tersebut? Atau sebaliknya, kita malah kemudian tenggelam dan gagal? Semestinya tidak. Panggilan pertobatan itu juga harus berlaku dan kita terima jadi bagian dari hidup kita.

Maka, inilah momen bagi kita merenungi dan mengaku segala dosa kita. Lebih penting lagi, menetapkan hati dan mengubah hidup kita yang selama ini abai dan jahat menjadi mau dipulihkan dalam pengampunan Allah. Baru kemudian, kita bisa berjalan dalam relasi baru bersama Allah, sesama dan alam ini. Jangan bicara soal alam yang diperbaiki keadaannya, kalau hidup kita sendiri tidak mau diperbaiki Allah!

Selamat memasuki minggu sengsara 3

Thursday, February 9, 2017

CREATIO ET RELATIO- Roma 8:26-39

Begitu juga Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. Maka Allah, yang mengetahui isi hati manusia, mengerti kemauan Roh itu; sebab Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah, dan sesuai dengan kemauan Allah. Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya. 

Mereka yang telah dipilih oleh Allah, telah juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Dengan demikian Anak itu menjadi yang pertama di antara banyak saudara-saudara. Begitulah Allah memanggil mereka yang sudah ditentukan-Nya terlebih dahulu; dan mereka yang dipanggil-Nya itu, dimungkinkan-Nya berbaik kembali dengan Dia. Dan mereka yang dimungkinkan-Nya berbaik kembali dengan Allah, mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Apakah yang dapat dikatakan sekarang tentang semuanya itu? Kalau Allah memihak pada kita, siapakah dapat melawan kita? Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya?

Siapakah yang dapat menggugat kita umat yang dipilih oleh Allah, kalau Allah sendiri menyatakan bahwa kita tidak bersalah? Apakah ada orang yang mau menyalahkan kita? Kristus Yesus nanti yang membela kita! Dialah yang sudah mati, atau malah Dialah yang sudah dihidupkan kembali dari kematian dan berada pada Allah di tempat yang berkuasa. Apakah ada yang dapat mencegah Kristus mengasihi kita? Dapatkah kesusahan mencegahnya, atau kesukaran, atau penganiayaan, atau kelaparan, atau kemiskinan, atau bahaya, ataupun kematian? 

Dalam Alkitab tertulis begini,“Sepanjang hari kami hidup di dalam bahaya maut karena Engkau. Kami diperlakukan seperti domba yang mau disembelih.” Tidak! Malah di dalam semuanya itu kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh Dia yang mengasihi kita! Sebab saya percaya sekali bahwa di seluruh dunia, baik kematian maupun kehidupan, baik malaikat maupun penguasa, baik ancaman-ancaman sekarang ini maupun ancaman-ancaman di masa yang akan datang atau kekuatan-kekuatan lainnya; baik hal-hal yang di langit, maupun hal-hal yang di dalam bumi atau apa saja yang lain, semuanya tidak dapat mencegah Allah mengasihi kita, seperti yang sudah ditunjukkan-Nya melalui Kristus Yesus, Tuhan kita.

Saya masih ingat, dalam pembelajaran geografi, meski mempelajari bagian-bagian bumi dan langit, tetap saja pembelajaran dilakukan menyeluruh. Guru saya memakai globe untuk menjelaskan bagian langit dan bagaimana kegunaannya, tidak pernah terpisah dari kebaikan bagi bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika semuanya terpisah? 
Upsidedown, adalah sebuah film yang menggambarkan terpisahnya dunia atas dan bawah. Sungguh mengerikan, dan menyakitkan.

Banyak teolog memakai konsep perikoresis (= Yunani, tidak terpisahkan) untuk menggambarkan hubungan Allah Tritunggal yang juga dalam relasi bersama dunia tidak terpisahkan. Ini tentu saja, sangat berbeda dengan dualisme Stoik yang berkembang dalam beberapa komunitas Perjanjian Baru yang memisahkan tubuh dan roh, juga memisahkan dunia (yang telah diciptakan dengan sangat baik oleh Allah meski kemudian dirusak dosa), dengan kerajaan Allah. Konsep creation et relatio juga diusung Martin Luther ketika dia bicara bagaimana keselamatan selalu bicara soal manusia yang berbaikan kembali bukan hanya bersama dengan Allah tapi juga dengan seisi ciptaan.

Bagaimana dengan kita?
Apa Gereja memisahkan kita satu sama lain? Teorinya tidak. Sakramen Perjamuan Kudus tidak memisahkan kita melainkan menyatukan kita, orang berdosa yang dipanggil untuk bertobat, saling mengampuni dan saling mendoakan. Kenyataannya, ritual yang tidak dipahami dan iman yang kurang diperdalam, membuat kita kurang bertumbuh. Kemudian, kita sering terjebak pada pengkotak-kotakan. 

Ketika Gereja tidak bisa menghubungkan dirinya dengan Injil yang didengar dan dunia di mana dia ada, maka dia akan gagap dan gugup dalam menyatakan kesaksiannya. Itu mesti selalu disadari dan direspon oleh Gereja dengan belajar terus memahami kehendak Allah dan melakukan dalam hidup keseharian. 

Tiap komunitas punya cara sendiri menyatakan persekutuan ini: ada komunitas yang selalu mengawali kerja seharian dengan doa pagi yang isinya kontekstual dengan kerja yang mereka awali saat itu. Ada juga predestinasi Calvin yang kemudian menjadi dasar etos kerja dan ekonomi Kapitalisme Prostestan di banyak negara Eropa yang meski tidak sempurna dalam pergerakkannya kemudian, tetap memberi dasar bagi teologi-kristologi unitarian-trinitarian.

Nah, apakah kita sungguh bisa menghindarkan diri dari jebakan memisahkan segalanya dalam hidup kita? Apa kerja sehari-hari dan kebaktian gerejawi terpisah? Apakah kita hanya harus menjaga perkataan di gereja, dan bisa berkata kotor, kasar dan jorok di luar gereja? Apakah jabatan kependetaan bukan jabatan yang mesti dihidupi dalam segala situasi, dan bukan hanya di atas mimbar saja? Mestinya ketika kita berkata bahwa kekristenan kita adalah dalam dan pada hubungan bersama yang lain, tidak.

Alangkah indahnya, bahwa surat Roma yang sarat dengan muatan hubungan yang diperbaiki bersama Allah, rekonsiliasi, pengampunan dan keselamatan melalui iman, mengingatkan kita untuk terus menjadi alat pendamaian itu dalam apa pun dan bagaimana pun, bersama apa pun. Keselamatan tidak terlepas dari apa yang kita pikir, katakan, dan lakukan. Keselamatan tidak terpisah dari uang di kantong, di ATM, di rekening gereja, dan di mana pun. Kasih Tuhan tidak berhenti ketika kita ada di surga atau masih di dunia, Dia tidak dapat dipisahkan dari kita, karena Dia tidak bisa dan sama sekali tidak ingin terpisah dari kita. Lalu, mengapa kita masih membiarkan diri ini terasing dari Dia dan sesama?

Maka, panggilan keselamatan adalah panggilan berbaikan, panggilan untuk memberi diri diperdamaikan. Ini adalah panggilan rekonsiliatif, panggilan yang memulihkan dan menjadikan baik kembali. Yang baru, menurut kitab Wahyu bukan berarti membuang yang lama, melainkan memulihkannya dengan kekuatan, semangat, dan kasih. Inilah panggilan Allah bagi Gereja dan untuk Gereja.

Apakah dengan pemahaman ini, kita masih abai dengan segala hal dalam hidup dan dunia ini yang mesti kita perbaiki? 
Jangan! Kita tidak diselamatkan untuk menjadi seperti itu!