Friday, April 21, 2017

S'lamatlah Jiwaku- 1 Petrus 1:3-9- Quasimodo Geniti

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian  yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. 

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu --yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu

Dalam buku "Nyanyian Burung Berkicau" Anthony de Mello pernah bercerita tentang seorang narapidana yang baru beberapa bulan keluar dari penjara dan berjumpa dengan temannya yang anggota gereja selepas ibadah. Temannya itu bertanya sejauh mana dia bertobat, "Kamu tahu Yesus itu anak siapa?" "Tidak", katanya. "Di mana Dia tinggal?"
"Aku tak tahu." "Dan siapa keluarganya?" "Itu aku pun tidak tahu." "Untuk seseorang yang baru mengenal Kristus, kamu tahu sedikit sekali tentang Dia." ejek kawannya. Dia pun menjawab dengan gembira, "Aku tahu. Aku hanya tahu sedikit tentang Yesus saat ini. Tapi setidaknya aku tahu ini. Setahun lalu, aku adalah seseorang yang jahat dan brengsek. Aku adalah seorang pemabuk dan sangat jahat. Setiap aku pulang, istri dan anakku sangat ketakutan melihatku. Sekarang tidak, aku bisa bekerja dengan baik. Kebiasaan mabukku berhenti dan aku bisa pulang melihat wajah istri dan anak-anakku yang gembira. Aku mungkin sedikit mengenal Yesus, tapi Dia telah mengubahku begitu banyak."

Kalimat yang diungkapkan mantan narapidana itu saudara menyiratka harta paling besar yang dia dapat sebagai pemberian. Apa itu? Hidup baru. Ya. Dia bukan hanya bebas dari penjara secara badaniah, melainkan juga secara spiritual dan jiwa. (Ingat refleksi Malam Sengsara lalu?) Dulu, dia mati, sekarang dia hidup. Dan penting bagi kita untuk bisa memahami dan terus ingat bahwa Paska erat kaitannya dengan hidup.

Hidup bagi sebagian orang, adalah hanya soal siklus. Lahir, besar, menikah, punya anak, punya cucu, lansia, lalu meninggal. Tapi, itu bukan apa yang dimaksud Petrus dalam suratnya ini. Hidup yang dipakai di sini adalah istilah zoe/zoa yang berarti hidup yang berpengharapan. Istilah yang sangat identik dengan Petrus karena Petrus sering sekali memakai istilah ini dalam nada pastoralnya, mungkin juga untuk mengaitkan dengan hidup baru yang dia alami bersama Kristus yang bangkit sebagai bagian dari pengalamannya sendiri. 

Zoe di sini adalah hidup yang merupakan bukti janji. Orang Yahudi percaya bahwa akan ada masa di mana hidup akan mencapai kesempurnaan. Tapi zoa  bukan sekadar janji. Dia adalah bukti. Dan kebangkitan Yesus adalah buktinya. Bukti bahwa hidup itu ada. Hidup itu tidak berakhir. Hidup itu selalu terjadi. Dan, ada harapan akan kelanjutan dan kualitas hidup kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Kita tidak boleh menyerah.

Nah, hidup yang baru ini, adalah hasil dari kelahiran kembali. Seperti cerita orang di atas. Dia mengalami kelahiran kembali. Bukan dilahirkan kembali dengan masuk kembali ke rahim seorang perempuan seperti yang ditanyakan oleh Nikodemus melainkan hidup dengan menoleh kepada Allah, ikut jalan Tuhan, berbalik, turning , mengarah,  kepada Dia dan tidak melakukan lagi apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Setidaknya kalau ini merupakan proses, kita memulainya dan tidak menyerah.

Petrus menyatakan pembaruan hidup dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hati dan hidup orang percaya, tapi ini adalah sebuah proses. Tidak instan karena, seketika (untuk sementara ini), kita harus melewatinya dalam berbagai-bagai pencobaan. Dalam iman, kita harus banyak mengalah untuk mengurangi seteru dan melimpahkan kasih. Dalam iman, kita harus memberi waktu dan pengorbanan bagi tiap pelayanan, dan kehilangan kenyamanan kita sendiri. Dalam iman, saudara juga diminta untuk mau ikut peduli dan mengambil bagian untuk bergerak bersama untuk menata langkah pelayanan bersama dalam Rapat Jemaat hari ini. Anda tentu saja punya agenda begitu banyak, tapi gereja juga sangat membutuhkan anda saat ini. Ada terlalu banyak bagian dalam diri kita, meerupakan proses pembaruan hidup di mana di dalamnya keselamatan dikerjakan.

Untuk apa? Agar iman kita makin murni.  Surat ini ditujukan bagi jemaat pendatang dan perantau yang harus berjuang untuk tidak kehilangan iman mereka di tengah berbagai penindasan yang mereka alami. Mereka mesti bertahan, berlatih, berjuang, bergumul, jatuh dan bangun. Seringkali dalam hempasan, kelelahan dan aniaya. Tapi jika mereka berhasil, maka iman mereka akan makin murni. Dan memperoleh pujian, sukacita, dan keselamatan jiwa.

Ya, ini semua akan memotivasi kita tergantung dari sejauh mana kita merasakan bahwa zoe itu begitu penting dalam hidup kita. Kalau kita merasa tahu dan kenal saja cukup. Ya, begitulah yang terjadi. Tapi saya selalu bisa melihat ada orang yang tetap kuat dan berakar, meski tantangan dan cobaan melanda hidupnya, dia tidak mudah menyerah. Bahasa pemazmur dalam Mazmur 1 bagi orang seperti ini adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air: kuat dan sungguh menjadi berkat.

Semoga, hari ini, kita bisa sungguh selamat. Selamat itu bukan hanya badani saja, melainkan rohani. Selamat itu bukan hanya tubuh saja melainkan jiwa. Selamat bukan hanya bisa turun naik angkot tapi bisa bersyukur bayar angkot dan tidak ngambil uang orang untuk bisa bayar angkot. Selamat itu kualitas. Sebuah hidup yang penuh nilai dan manfaat sehingga tiap orang yang bertemu dengan kita yang hidup ini sungguh merasa bahwa hidup kita ini hidup sehingga kehidupannya bisa dirasakan orang lain. Selamat itu merasa cukup dan bahagia. Selamat itu selalu ingin memberi selamat pada orang lain, tapi bukan untuk menyukuri penderitaan mereka. Selamat itu sungguh bermanfaat dan membawa nikmat. Maka, hiduplah dalam selamat, dengan menyambut Juruselamat!




Menjadi Suami Istri yang Saling Mensyukuri Satu sama Lain- 1 Korintus 6:20

Allah sudah membeli kalian dan sudah membayarnya dengan lunas. Sebab itu, pakailah tubuhmu sedemikian rupa sehingga Allah dimuliakan.
(I Korintus 6:20)

Ajahn Abram pernah menceritakan kisahnya yang terkenal dalam bukunya, Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Suatu kali ada dua orang sahabat karib meninggal. Dalam siklus karma, orang yang satu bereinkarnasi menjadi dewa, sementara temannya yang satu justru bernasib malang: menjadi cacing yang hidup dalam kotoran. Karena kasihan dan merasa tidak enak meninggalkan karibnya hidup dalam kemewahan dan kenyamanan, sang dewa mencoba mencari di segala tempat di mana karibnya berada, dan dia pun menemukan temannya sedang bersembunyi di sebuah kotoran. "Kamu masih ingat aku? aku temanmu, mari, ulurkan tanganmu, aku akan mengangkatmu dari kotoran itu dan hiduplah dengan bahagia bersamaku. " Tak disangka temannya si cacing menolak, " Untuk apa di surga? Apa di sana ada kotoran?" "Aish, tentu saja tidak!" "Aku tidak mau di sana, aku mau di sini saja, sudah pergi sana, tinggalkan aku!" Berkali-kali sang dewa mencoba menarik si cacing keluar dari kotorannya tapi cacing itu selalu kemudian masuk kembali ke dalam kotoran bahkan semakin dalam. Akhirnya sang dewa menyerah, dengan temannya itu. Si cacing lebih suka melekat pada kotoran, kotoran kesayangannya.
Kisah ini mungkin membuat kita jijik dan mau muntah. Kita merasa cacing itu begitu bodoh karena tidak bisa melihat mana yang paling baik bagi dirinya. Tapi, bukankah sebagai mahluk kita pun sering seperti itu: kurang bersyukur. Sudah punya yang ini, mari diupgrade, sudah punya satu mau dua, sudah punya dua mau tiga, sudah punya tiga mau selamanya punya semuanya. Kita kurang bersyukur.

Juga dengan dosa. Seperti cacing dan kotorannya, kita lebih suka melekat pada kotoran-kotoran yang melekat pada bathin dan hidup kita, sehingga bahkan ketika Allah menawarkan pengampunan, pembebasan, dan keselamatan dan minta kita meraih tangan-Nya, kita memilih menolak daripada menyambut-Nya dengan sukacita. Kita lebih suka berkubang dengan dosa kita, kotoran kesayangan kita.

Karena itu, Paulus mengingatkan Korintus dan kita bahwa harga keselamatan kita adalah setara dengan darah Yesus, hidup dari Allah yang menjadi manusia: yang amat mahal dan tidak bisa diukur dengan apa pun nilainya. Korintus suka sekali bermain dengan kekudusan mereka. Mereka punya satu kuil dewi di mana banyak sekali tindakan asusila dan percabulan terjadi di sana. Bukan lagi dalam skala perselingkuhan dan penyelewengan melainkan dilakukan terang-terangan di depan banyak orang. Ini menjadi sebuah kejijikan. Bahkan lebih jijik dari kotoran kesayangan si cacing.

Makna pernikahan yang kudus menjadi tereduksi tajam. Semua merasa tidak perlu lagi menghormati pernikahan dan keluarga. Tidak ada lagi nilai baik terhadap kedirian manusia. Apalagi kehadiran anak-anak dan lembaga pernikahan. Semua jadi salah. 

Karenanya, Paulus menekankan kepada mereka, jika mereka memberi diri diubah Kristus, mereka juga harus bertobat dan membarui hidup mereka dengan cara yang baru. charis (=Yunani, kasih karunia Allah) harus diresponi dengan tekad kuat dari mereka untuk berhenti berbuat dosa dan menjaga kekudusan. Paulus menekankan ini sebagai hal yang penting. Mereka mulai dari mengendalikan hawa nafsu mereka sendiri dan menaklukannya di bawah kehendak Allah. Mereka mesti belajar memuliakan Allah dengan tubuh mereka sendiri, dan menganggap semua bagian profan/sekuler dalam hidup mereka juga bagian yang harus disakralkan. 

Nah, jika pria dan perempuan di depan kita ini, memutuskan berjanji hidup bersama dan menjadi penolong bagi satu sama lain, kita anggap mereka sadar bahwa ini anugerah dan pemberian Tuhan. Pernikahan adalah pemberian dan anugerah yang perlu dijaga, dirawati, dipelihara dan ditumbuhkan. Anda berdua adalah sebuah keluarga yang baru yang diberkati oleh Allah karena anda berdua sudah menjaga diri anda dengan baik, sebelum menikah, apalagi sesudah menikah nanti. Perjuangan mensyukuri sebuah pernikahan itu akan anda lakukan dalam cinta dan jenuh, dalam marah dan mesra, dalam ribut rukun (kata pak Andar Ismail), dan dalam segala keadaan. 

Kita percaya bahwa perjalanan perjumpaan anda berdua, dan perjuangan sampai hari ini disyukuri oleh anda berdua sebagai anugerah dan pemberian Tuhan tidak terkira. Demikian juga dengan kedua keluarga besar yang hadir hari ini untuk mendoakan pasangan ini dan menjadi alat Allah untuk membina mereka bersama Gereja dalam Firman. Kita mensyukuri pernikahan dan keluarga kita masing-masing. Meski mungkin anda yang hadir saat ini belum tentu tidak ada yang bergumul dengan kejenuhan masing-masing.

Maka, dalam semangat Paska, mari rayakan kebangkitan Tuhan dengan hidup makin baik dari hari ke hari, melepaskan kotoran-kotoran kesayangan dari hidup kita sendiri, dan dari pernikahan serta kehidupan keluarga kita. Jadilah suami, istri, anak-anak, orang tua yang terus memberi diri untuk diperbarui dalam kekudusan tiap-tiap hari. Ingatlah semua masa dan perjuangan anda, wahai mempelai! Sehingga jika anda bertengkar dan tidak sepaham sangat hebat suatu saat dan mulai mempertanyakan banyak hal: anda ingat bahwa pernikahan anda berdua adalah anugerah dari Allah bagi anda. 

Dan, marilah kita songsong Paska dengan memelihara keselamatan yang sudah diberi Allah bagi kita. Berjuanglah terus mengasihi satu sama lain sebagai pasangan dan keluarga, saling mensyukuri satu sama lain sebagai sahabat dan penolong, dan memegang keselamatan dari Kristus, karena untuk itu, Dia meregang nyawa dan menyerahkan diri-Nya. 

Selamat Mengikut Dia! 

Wednesday, April 19, 2017

Menjaga dan Memelihara Soliditas dalam Pelayanan (Kolose 3:14)- PASKA RS IMMANUEL

" Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kolose 3:14-15)

Seorang ayah yang sadar sebentar lagi meninggal, begitu mencemaskan kedua anaknya yang kurang rukun. Satu kali dia berkata, “Aku menaruh harta karun di ladang, aku tidak akan memberitahukan pada kalian, di mana letaknya. Carilah ketika aku sudah tidak ada lagi.” Si bapak pun meninggal, dan seperti dugaannya, kedua anaknya yang suka bertengkar itu sibuk memikirkan di mana letak warisan ayahnya ditempatkan. Bergegas mereka mencari di seluruh penjuru ladang yang sangat luas itu. Hari demi hari berlalu, mereka tidak juga menemukan harta karun yang dimaksud. Namun, sepucuk surat ayahnya mengatakan, harta karun itu bisa ditemukan jika mereka mengolah tanah pertanian dan ladang mereka. Sehingga, mereka pun melakukan wasiat ayahnya. Bertahun-tahun, harta karun itu tidak kunjung ditemukan. Namun lambat laun kedua saudara itu menyadari harta karun yang sesungguhnya dimaksud oleh ayah mereka. Mereka sibuk mengolah lahan pertanian milik mereka sendiri dengan kerja keras dan kekompakkan sehingga kemudian ladang mereka menghasilkan hasil yang berlimpah lebih dari yang mereka sangka. Mereka sadar, itulah harta karun yang sesungguhnya.
Dengan begitu banyaknya nilai-nilai dunia yang ditawarkan pada dunia, kita diundang untuk memilih. Memilih mana yang terbaik, namun dalam panggilan sebagai orang percaya yang menerima kematian dan kebangkitan Kristus dalam diri kita, harus ada satu lagi standarnya yaitu: mana nilai yang berkenan kepada Allah? Itu kata Paulus.
Saya sendiri seorang teolog, bidang keilmuan saya belajar mengenai hubungan antar pribadi dan pertumbuhan komunitas. Tentu saja jika bicara mengenai realitas maraknya kehadiran rumah-rumah sakit dan persaingannya, saya tidak bisa bicara banyak. Saya begitu memahami bahwa dalam prakteknya, RSI pun bergumul dalam persaingan. Tapi tentu saja, semua organisasi perlu nilai utama untuk dijunjung. Core values, bukan hanya core business. Apalagi kehadiran RS Immanuel sejak tahun 1900 adalah perwujudan kehadiran gereja yang melayani masyarakat luas sebagai sasaran cinta kasih Allah.
Marilah melihat bahwa seperti kisah di atas, kehadiran dan kebersamaan yang ada selama ini adalah sebuah harta yang berharga. Paska selalu mengingatkan kita bahwa di atas kayu salib itu, relasi kita dan Allah kembali dipulihkan bukan karena pekerjaan kita, melainkan karena prakarsa Allah dalam diri kita. Karenanya, Paska mengingatkan kita untuk selalu menumbuhkan, memperkuat, dan membuka diri, dan membangun, bukan sebaliknya, mematikan, melemahkan, menutup diri dan meruntuhkan. Itu yang si jahat inginkan, bukan Allah inginkan.
Nah, yang tentu saja ada tantangan dalam tiap organisasi dan komunitas. Jika semuanya serba sederhana, maka pengaturannya bisa juga sederhana dan mudah. Tapi, jika semua Tuhan beri anugerah untuk bertumbuh dan berkembang maka, RSI harus menghadapi situasi ini dengan hikmat Allah untuk tetap menjadi RS dengan komunitas yang bertumbuh ke arah Kristus ( karena nilai Heman Geten Kapapancen-nya= Menjadi RS yang diberi kepercayaan untuk merawat dengan penuh peduli dan perhatian). Dan dalam rangka itu, semua bagian dari yang paling atas sampai bawah dalam komunitas ini harus menyadari identitas  bersama dan berupaya memelihara kekompakan.
Tentunya tantangan hadir begitu banyak. Ketika unit makin banyak. Ketika pasien makin banyak. Ketika pemerintah mendorong RS swasta dengan kebijakannya dengan segala konsekuensinya. Ketika kita berpikir untuk mengembangkannya ke depan. Dan, satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan: kehadiran RS di tengah keperluan untuk menjadi sehat di tengah kota Bandung, yang saya tidak tahu tingkat kemiskinan dan kesejahteraannya saat ini.
Kolose adalah jemaat yang tidak pernah dikunjungi oleh Paulus. Tapi, mereka bertumbuh karena Epafras yang lebih dulu mendengar kotbah Paulus di Efesus, dan jemaat ini bertumbuh. Bahaya dalam komunitas mereka adalah paham sesat yang jika dibiarkan bertumbuh maka akan mengancam keutuhan jemaat. Maka, selain menekankan ke-Allah-an Kristus, Paulus juga mengarahkan kesatuan mereka sebagai jemaat ke arah Kristus. Damai sejahtera Kristus harus memerintah sebagai yang utama.
Dua anak lelaki bertengkar memperebutkan sesuatu. Ibu mereka yang seorang Kristen taat berkata, “Jika Yesus ada di tempat ini saat ini, pasti dia akan lebih dulu mengalah!” Yang sulung kemudian menoleh pada adiknya dan berkata, “Kamu saja deh yang jadi Yesus!” Kisah ini mengingatkan sekalipun kita kerap mendengar tentang Yesus, ketika bicara soal ego dan merendahkan hati, akan jadi dulu-duluan untuk mengikut Dia. Buktikan saja, ketika anda mungkin sudah lebih tinggi tingkatnya di atas teman anda. Ketika kuasa yang kita punya lebih besar. Ketika gaji kita mulai lebih besar. Ketika kita mulai mengarahkan nilai-nilai hidup kita pada nilai dunia ini: kuasa lebih besar dan lebih banyak. Maka, hancurlah sebuah hubungan.
Karena itu, di tengah kecenderungan untuk memisahkan diri satu sama lain seperti yang dilakukan “orang dunia” dengan “keangkuhan” nya, orang Kristen diajak untuk tetap guyub dan hidup dalam komunitas. Teologi trinitarian menyebutnya, tetap dalam lingkaran communi, communicatio, dan communitas. Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus yang kita percaya, mengajarkan kita dalam tariannya. Tarian bersama, selaras, berbela rasa, saling terhubung, tidak bisa berpisah sebab jika berpisah maka kita tidak utuh lagi. Pertanyaannya: apakah komunitas RSI di Paska ini menemukan spirit ini? Semangat untuk saling berkomuni, terus berkomunikasi, dan terhubung satu sama lain? Apa kuncinya? Damai sejahter Kristus.
Jika kita bicara soal perbedaan satu sama lain, maka akan lain ceritanya. Tapi, jika kita bicara soal apa yang Kristus inginkan untuk kita lakukan? Apa aku mempertimbangkan keinginan Kristus ketika aku bekerja? Ketika aku menyapa orang? Ketika aku bersikap hemen geten kapapancen kepada semua yang dilayani? Maka dengan itulah kita akan mempertahankan diri kita sebagai satu tubuh. Dan ingat frasa terakhir. Bersyukurlah!
Kita mesti hidup untuk bersyukur. Bukan nyukurin yah! Syukurin si itu! Tapi sungguh bersyukur dengan segala yang ada pada kita saat ini, termasuk semua yang melekat pada diri kita, kita rasakan, kita alami, kita punya, sahabat kita, komunitas kita. Sebuah komunitas yang saat ini kita diami mungkin menyebalkan dan tidak membuat kita puas, tapi tetap ketika kita meninggalkannya, kita tetap akan merasa sedih. Kenapa? Karena hati kita ini dibuat Allah seperti Dia: tidak bisa hidup tanpa mencintai dan dicintai. Ingat film Cast Away-nya Tom Hanks? Karena dia sadar dia butuh orang lain, bola basketnya pun diajak bicara jadi teman selama bertahun-tahun di pulau terpencil.
Semoga Paska menguatkan semua unit dan bagian dalam RS Immanuel untuk terus membangun, menumbuhkan, dan memperkuat soliditas komunitas. Masing-masing punya tugas tapi tidak ada yang tidak bernilai, karena semua bernilai dan berharga. Di Hotel Grand Hyat Amerika, Jansen Sinamo pernah mengatakan bahwa ada seorang penjaga pintu masuk yang sangat ramah. Tidak ada yang bisa menandingi keramahannya, sehingga semua karyawan hotel yang gajinya lebih tinggi dibanding dia selalu merasa malu kalau datang ke hotel dengan wajah yang muram. Mulailah menjadi teladan dengan melakukan yang terbaik.

Kiranya, Paska membawa semangat baru, membarui motivasi kita hidup dan bekerja. Dan, memulihkan semua relasi yang retak. Jadilah alat pendamaian Allah karena Kristus mati agar kita hidup dalam perdamaian, dan memperoleh damai. Selamat Paska.