Friday, September 22, 2017

LOGAY aka LOBA GAYA- MATIUS 20:1-16

"Apabila Allah memerintah, keadaannya seperti perumpamaan ini: Seorang pemilik kebun anggur keluar pada waktu pagi mencari orang untuk bekerja di kebun anggurnya. Sesudah ia setuju membayar mereka satu uang perak sehari, ia menyuruh mereka bekerja di kebun anggurnya. Pukul sembilan pagi, pemilik kebun itu pergi lagi, dan melihat beberapa orang sedang menganggur di pasar. Maka berkatalah ia kepada mereka, 'Pergilah kalian bekerja di kebun anggur saya. Saya akan membayar kalian dengan upah yang layak.' Mereka pun pergi. 

Pukul dua belas tengah hari dan juga pukul tiga petang, pemilik kebun itu keluar lagi dan berbuat hal yang sama. Dan kira-kira pukul lima sore, ia keluar lagi dan melihat masih ada orang yang menganggur. Lalu ia bertanya kepada mereka, 'Mengapa kalian berdiri terus seharian di sini dengan tidak melakukan apa-apa?' Orang-orang itu menjawab, 'Tidak ada orang yang mempekerjakan kami.' 'Kalau begitu,' kata pemilik kebun itu, 'pergilah kalian bekerja di kebun anggur saya.' 

Petang hari, pemilik kebun anggur itu berkata kepada mandurnya, 'Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarlah upah mereka masing-masing, mulai dari orang yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk pertama.' Lalu datanglah pekerja-pekerja yang mulai bekerja dari pukul lima petang. Mereka masing-masing menerima satu uang perak. Kemudian datang pula pekerja-pekerja yang disewa sejak pagi. Mereka berpikir mereka akan menerima lebih. Padahal mereka hanya diberi satu uang perak juga. 

Waktu menerima uang itu, mereka menggerutu terhadap pemilik kebun: 'Pekerja-pekerja yang datang terakhir itu cuma bekerja satu jam. Sedangkan kami bekerja seharian di bawah panas terik matahari, namun Tuan membayar mereka sama dengan kami!' Pemilik kebun anggur itu menjawab kepada salah seorang dari mereka, 'Kawan, saya tidak bersalah terhadapmu. Bukankah engkau setuju menerima upah satu uang perak untuk pekerjaan sehari? Nah, ambillah upahmu, dan pergilah. Saya memang ingin memberi kepada orang yang masuk terakhir itu upah yang sama dengan yang saya berikan kepadamu. Apakah saya tidak boleh berbuat semau saya dengan kepunyaan saya? Ataukah engkau iri, karena saya bermurah hati?'" 

Lalu Yesus berkata lagi, "Begitu juga orang-orang yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan orang-orang yang pertama akan menjadi yang terakhir."


Komplain, adalah satu hal yang biasa kita lakukan pada seseorang atas sesuatu yang kita terima dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, misalnya kalau kita sudah bayar barang tapi barangnya rusak sebelum dipakai, atau ketika makanan yang sudah kita pesan dan bayar tidak seenak yang seharusnya. Wajar saja, kita mengajukan keluhan atas itu supaya si empunya pelayanan bisa memperbaiki kualitas layanannya.

Lalu, kenapa orang meng-komplain Tuhan? Mengapa orang bersungut pada Tuhan? Karena kita memerlakukan Tuhan seperti seseorang yang harus melayani kita dengan baik. Ketika kita sakit waktu bangun tidur, kita komplain. Ketika kita ditipu orang dalam usaha hari ini, kita komplain. Waktu jalanan macet, kita komplain. Saat loket antrian RS panjang, kita komplain. Waktu masakan kita gosong, lagi-lagi kita komplain, padahal kita yang salah, tapi Tuhan yang disalahkan.

Kita tidak akan bisa memahami isi perumpamaan dalam Matius 20:1-16 kalau kita tidak tahu latar belakangnya. Bisa-bisa kita juga seperti para pekerja pertama yang ujug-ujug komplain pada Tuannya dan merasa tuannya tidak adil. Kerja lebih lama tapi upahnya sama. Nah, kalau dari kacamata dunia ini, pasti komplain layak dilakukan. Tapi nanti dulu, lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi.

Dulu, ada begitu banyak orang tidak punya pekerjaan, di zaman Yesus hidup. Jangan bayangkan Yerusalem seperti Bandung dan Cimahi yang bisa jualan makanan di mana-mana. Kehidupan di sana sangat miskin, lebih banyak orang miskin daripada orang yang mampu. Karena itu banyak orang begitu merindukan punya pekerjaan. Meskipun, upahnya hanya satu dinar per hari, yang jelas jelas, hanya cukup untuk makanan satu hari. 

Meski hanya satu dinar, tapi mereka kebanyakan harus puas. Ada yang lebih melarat lagi dibanding mereka. Orang-orang pertama yang dikaryakan oleh sang tuan ini adalah para pekerja yang tidak jauh lebih melarat dibanding pekerja kedua. Karena masih perlu banyak orang, si tuan akhirnya pergi ke jalan-jalan. Di jalan-jalan itu, banyak orang yang menadahkan tangannya minta pekerjaan. Mereka bersedia bekerja apa pun, jadi buruh kasar, mengangkut apa pun, mereka mungkin baru bisa keluar siang karena harus gantian dengan teman-temannya. Jadi, kondisi mereka tidak kalah mengenaskan dibanding kelompok kerja pertama. Maka, tuan itu memberi mereka pekerjaan. Ada yang bekerja di pukul 12 siang, ada yang jam 3 sore ada yang jam 5 sore, sedapatnya sang tuan dapat tambahan pekerja. Jadi, jangan bayangkan suasana bekerja ini seperti shift di pabrik ya!

Wajar sih, kalau pekerja yang datang pagi, merasa kalau kawan mereka keenakan. Tapi mereka lupa bahwa sebagai pekerja, mereka tidak boleh komplain karena sejak awal, dengan rela hati mereka mau bekerja dan mengabdi. Kadang-kadang, kita merasa lebih dulu kenal Yesus, jadi kita lebih senior. Karena kita lebih tua kita jadi merasa lebih tahu semua. Sama dengan yang muda, karena lebih tahu perkembangan masa kini, jadi kurang sopan pada yang tua. Dua-duanya merasa unggul. Lalu, karena merasa pernah melakukan ini itu dan belajar ini itu sebagai murid Yesus, kita juga merasa jumawa dan orang lain direndahkan. Ini maksud Yesus dengan perumpamaan mengenai pekerja ini: kita semua sama di hadapan Allah. Sama-sama diangkat dari titik terendah. Dan, sama-sama memeroleh kasih karunia di hadapan Allah. Apa kita masih merasa bangga diri, dan merendahkan orang lain?

Ingatlah! Allah itu murah hati. Dia melimpahkan berkat pada semua orang. Dia mencintai dan mengasihi semua orang. Kita selalu memilah, memilih dan mengkotak-kotakkan, tapi Dia tidak. Kasih-Nya merata dan meraih semua orang, bahkan semua mahluk. Kenapa kita marah kalau Allah murah hati? Kenapa kita jauh lebih sibuk mengurusi orang lain dibanding diri sendiri? Jangan sampai kita lupa bahwa kacamata yang sibuk kita cari-cari di mana-mana sebenarnya ada di kepala kita sendiri. Jangan sampai kita pintar mencari kesalahan orang lain dan lupa bahwa kita ini tidak sempurna dan punya banyak kesalahan. Orang cerdas akan kelihatan cerdas tanpa harus menunjukkan kecerdasannya. Orang bijak bisa terlihat bijak tanpa harus berkata banyak. Jadilah rendah hati dalam persekutuan!

Suatu kali, seorang karyawan yang baru saja diangkat jadi manager ingin pamer pada orang-orang. Seseorang di kantornya datang dan dia pura-pura jadi sibuk. "Ya? Oh ya, baik-baik, saya akan kirimkan barangnya segera pak! Tenang, saja! Saya manager baru pak, ok! Selesai dia pura-pura, dia menatap orang baru itu yang menatapnya dengan keheranan. " Kenapa? Kamu heran ya, saya manager baru di sini! Ayo duduk, ada apa? katanya. Orang itu berkata, "Tidak pak! Saya petugas kantor telepon. Ada komplain telepon bapak mati dan saya datang untuk memperbaikinya!" Muka manager baru itu merah padam. Kenaaa deh!

Orang Bandung pintar cari singkatan, dan orang seperti itu disingkat LOGAY (alias Loba=banyak, Gaya). Banyak Gaya padahal tidak punya modal apa pun untuk bergaya. Supaya tidak logay, memang kita harus memahami bahwa Allah yang empunya semua. Dia pemilik hidup kita. Dia pemilik tubuh, jiwa dan roh kita. Dia pemilik keluarga kita. Dia pemilik semua harta dan kekayaan kita. Kalau kita sombong, berarti kita LOGAY hehehehe!

Mari kerjakan tugas pelayanan kita di dunia ini tanpa komplain. Jangan bandingkan dengan orang lain, supaya hati kita tetap memeroleh sukacita. Ya! Sukacita adalah upah sorgawi. Ad berkat yang melebihi apa pun di hidup kita, jika hidup kita berpaut pada Tuhan. Jangan pandang mereka yang malas, karena mereka juga sedang dibentuk Tuhan! Percayalah kalau mereka jadi rajin nanti, mereka pasti akan bilang, kita yang rajin ini lebih beruntung! Karena itu jangan tawar hati lalu berhenti jadi rajin melayani. Kenapa? Melayani mendatangkan sukacita. 

Lakukan semua dengan rendah hati. Jangan berpikir bahwa semua yang kita dapat adalah upah melainkan pemberian yang sudah lebih dulu kita terima dari Allah. Jadi, jangan komplain dan hanya mau menerima yang baik, karena pertandingan kita di dalam dunia ini belum berakhir. Akhirnya adalah di sorga nanti. Lakukan bagian kita dengan setia sampai akhir, dan berlarilah kepada-Nya dengan tekun dan pantang menyerah!

Saturday, September 16, 2017

Lettting God Controlled -- Leviticus 14:15-31

And the LORD said unto Moses, Wherefore criest thou unto me? speak unto the children of Israel, that they go forward: But lift thou up thy rod, and stretch out thine hand over the sea, and divide it: and the children of Israel shall go on dry [ground] through the midst of the sea. And I, behold, I will harden the hearts of the Egyptians, and they shall follow them: and I will get me honour upon Pharaoh, and upon all his host, upon his chariots, and upon his horsemen. 
And the Egyptians shall know that I [am] the LORD, when I have gotten me honour upon Pharaoh, upon his chariots, and upon his horsemen. And the angel of God, which went before the camp of Israel, removed and went behind them; and the pillar of the cloud went from before their face, and stood behind them: And it came between the camp of the Egyptians and the camp of Israel; and it was a cloud and darkness [to them], but it gave light by night [to these]: so that the one came not near the other all the night. And Moses stretched out his hand over the sea; and the LORD caused the sea to go [back] by a strong east wind all that night, and made the sea dry [land], and the waters were divided. 
And the children of Israel went into the midst of the sea upon the dry [ground]: and the waters [were] a wall unto them on their right hand, and on their left. And the Egyptians pursued, and went in after them to the midst of the sea, [even] all Pharaoh’s horses, his chariots, and his horsemen. 
And it came to pass, that in the morning watch the LORD looked unto the host of the Egyptians through the pillar of fire and of the cloud, and troubled the host of the Egyptians, And took off their chariot wheels, that they drave them heavily: so that the Egyptians said, Let us flee from the face of Israel; for the LORD fighteth for them against the Egyptians. And the LORD said unto Moses, Stretch out thine hand over the sea, that the waters may come again upon the Egyptians, upon their chariots, and upon their horsemen. And Moses stretched forth his hand over the sea, and the sea returned to his strength when the morning appeared; and the Egyptians fled against it; and the LORD overthrew the Egyptians in the midst of the sea. And the waters returned, and covered the chariots, and the horsemen, [and] all the host of Pharaoh that came into the sea after them; there remained not so much as one of them. 
But the children of Israel walked upon dry [land] in the midst of the sea; and the waters [were] a wall unto them on their right hand, and on their left. Thus the LORD saved Israel that day out of the hand of the Egyptians; and Israel saw the Egyptians dead upon the sea shore. 
And Israel saw that great work which the LORD did upon the Egyptians: and the people feared the LORD, and believed the LORD, and his servant Moses.

I believed that some people will questioned that why God let some people died and the others saved? Did He be cruel or play favor? Did He choosed some people and neglected others? Is it God can't be like that? So why did He destory the Egyptians? Did He always loving everyone?

So i just can guessed. I was considering that He was loving everyone. Nevertheless, in some case, He could not moved our desicion to disobeyed Him, like Pharaoh. If, He harden his heart but it could not be changed by Himself without surrendered heart. So, for His free will which had been given to us, with all my grief and sorrow, i was regretting that was happende to all the Egyptians.

But, we still could see some good news in this chaotic events. For that night, God hear the grief and pain of His and decided to set them free from their slavery. He could forgot and abandoned them but He still work to doing His salvation. Since before and until now.

So, this story then flews with the flews of the Israelite to step out and moving forward from Egypt to Promised Land. They did that in the dark night with hurry and fast. When Pharaoh changed his mind and angrily chased them, Israelite start to look behind and became affraid. 

In this journey, to be exact when they be chased and really worried, God protected them with the pillar of clouds and fire. God fullfilled and finished His work. He never be failed. 
They supposed to look forward and crossing the sea. Even, i know that they were scared, they followed Moses and crossed the sea. God built a wall beside their path to protect them, as same as He did it too then and always.

What can i learnt from this story?
Firstly, i didn't care if this story false or true, just a myth or sage or tale or somewhat. I just tried to look upok this story with my trust and faith to God hands in my life. I should learnt to depend to Him more and more, even if i think everystep that i was take is a big mistake in my life. As long as i trust that this decision is good for Him and other, i will walk with Him and tried to persist. 

Secondly, Israel need to start and moved forward to going out from their past. Egypt is a comfort zone which gave pleasure and enjoyment. Even so, God didn't want to let this. He want to forming His people to maturity. And to be mature, we should step out from comfort to challenge. Challenge and struggle gives pain and hardwork but it gain goodness and growth and leading to be fruitfull lifes. So that, they have to obey and trust.

Thirdly, when Egypt be destroyed, the Hebrews said it with hamam, which refers to destroyed, chaos, panic and lose their confidence. If we against God, we could not have confidence to bring everything which good and joyfull to our community. Hamam is a condition that pointed a alienated from God and separated from His love. We can't join peace without God, because He is peace and love. So, our communion with God is our strength. 

What should i say? I just can do best for myself as a preacher to enjoy communion with Him. There is one of my friend that was cheating me and hurting me now, but i know that i have to forgive and forget. If not, i'll never get my chance to enjoy pure communion with God. I choosed myself to be with him and i have to bear this. Hehe! So, what is the struggle of your life now? Are you so pain in bear this unconfident situation and you think that God drived you to moving forward the comfort zone? May we be strong to decide a right thing in our life. 

Friday, September 8, 2017

Apa Anda Selamat? (Keluaran 12:1-14)

TUHAN berbicara kepada Musa dan Harun di tanah Mesir. Katanya, "Bulan ini menjadi bulan pertama dari tahun penanggalanmu. Sampaikanlah perintah ini kepada seluruh umat Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini, setiap orang lelaki harus memotong seekor anak domba untuk dimakan bersama keluarganya. Kalau anggota keluarga itu terlalu sedikit untuk menghabiskan seekor anak domba, maka keluarga itu dan tetangganya yang terdekat boleh bersama-sama makan anak domba itu. Anak domba itu harus dibagi menurut jumlah orang yang makan. Kamu boleh memilih domba atau kambing, tetapi harus yang jantan, berumur satu tahun, dan tidak ada cacatnya. Kamu harus menyimpannya sampai tanggal empat belas. 
Pada hari itu, sorenya, seluruh umat Israel harus memotong anak domba itu. Sedikit darahnya harus dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas pintu rumah tempat mereka memakannya. Malam itu juga dagingnya harus dipanggang dan dimakan dengan sayur pahit dan roti tak beragi. Anak domba itu harus dipanggang seluruhnya, lengkap dengan kepalanya, kakinya dan isi perutnya. Makanlah daging yang sudah dipanggang itu, jangan ada yang dimakan mentah atau direbus. 
Jangan tinggalkan sedikit pun dari daging itu sampai pagi; kalau ada sisanya, harus dibakar sampai habis. Pada waktu makan kamu harus sudah berpakaian lengkap untuk perjalanan, dengan sandal di kaki dan tongkat di tangan. Kamu harus makan cepat-cepat. Itulah perayaan Paskah untuk menghormati Aku, TUHAN. Pada malam itu Aku akan menjelajahi seluruh tanah Mesir, dan membunuh setiap anak laki-laki yang sulung, baik manusia, maupun hewan. Aku akan menghukum semua ilah di Mesir, karena Akulah TUHAN. Darah yang ada pada pintu rumahmu akan menjadi tanda dari rumah-rumah tempat tinggalmu. Kalau Aku melihat darah itu, kamu Kulewati dan tidak Kubinasakan pada waktu Aku menghukum Mesir. Hari itu harus kamu peringati sebagai hari raya bagi TUHAN. Untuk seterusnya hari itu harus kamu rayakan setiap tahun."


video

Kita berdosa ketika ego dan nafsu mengalahkan kita. Dosa seperti sebuah lubang hitam yang menggoda kita untuk memuaskan dan menyenangkan diri sendiri lebih lagi, makin intens bagi diri kita sehingga yang ada pada akhirnya adalah hidup jauh tanpa Allah dan kebinasaan karena kita hanya bergantung pada diri kita sendiri. Makin kita berdosa, makin ingin kita menyenangkan diri sendiri. Kita lupa bahwa hidup kita bisa ada karena ikatan perjanjian bersama dengan Allah, yang menciptakan kita dan berjalan bersama kita.

Karena lubang hitam dalam hidup manusia itu, Allah menyelamatkan kita. Kisah Pesakh mengingatkan ini. Melalui perayaan ini mereka diingatkan bahwa mereka tadinya adalah budak yang diselamatkan dan dibebaskan.  Umat Allah tidak boleh lupa bahwa bukan mereka yang memilih Allah, melainkan Allah yang memilih mereka, untuk diciptakan lalu dipelihara dan diselamatkan. Kita ini tidak ujug-ujug ada sendiri. Karena itu, sekeras apa pun hidup kita di dalam dunia, kita tidak bisa menjadi keras hati lalu merasa semua bisa kita penuhi dengan kekuatan kita. 

Makanya, mereka merayakan Pesakh, atau Paskah, atau Passen dalam bahasa Belanda, sebuah rangkaian kegiatan yang mendorong mereka beranamnesa, mengingat apa yang terjadi beratus tahun lalu. Ini mengingatkan mereka untuk berhenti melebarkan lubang hitam dalam diri mereka, menjadi tuan bagi sendiri. Harus Allah yang menjadi satu-satunya tuan dan penguasa dalam hidup. Dalam perjalanan mereka sebagai kafilah, mereka ingat: "Jangan lupa, ini bukan rumah kita, rumah kita jauh di sana, dan suatu saat nanti Allah akan membawa kita pulang!"

Perayaan itu merupakan sebuah rahasia yang besar. Bahwa anak domba yang dikorbankan itu perlambang sikap penyerahan diri umat kepada Allah. Israel merituskan penyerahan dirinya serta menyatu di dalam segala kehendak dan karya Allah. Mengingat bahwa ketika mereka tidak menyerah maka hidup mereka akan dibuat menyerah karena dosa yang mereka buat. Tidak mungkin Allah menyelamatkan kalau kita sendiri masih merasa kita ini Juruselamat. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali di dalam Allah. 

Susah kan? Berjalan bersama Allah adalah sebuah perjalanan di mana kita kebanyakan ditantang dan harus mau dibenahi. Pembentukan dari Allah untuk menyiapkan mereka menjadi umat yang dewasa dalam iman dan perbuatan. Karena itu, jika kita menghadapi pergumulan dan harus memikul salib dalam hidup dan keluarga kita saat ini, kita diajak untuk melihat pada anak domba yang telah dipotong dalam Paska. Dalam hidup, kita memang harus mau menyerahkan diri pada Allah. 

Daging anak domba itu mesti dimakan, dihabiskan, bersama dengan yang lain sebagai sebuah perayaan bersama. Daging ini  tidak boleh dimakan mentah tapi harus habis untuk membuktikan karya penyelamatan sempurna dari Allah. Mereka diselamatkan di malam otu dengan keadaan tergesa-gesa. Mereka diselamatkan dalam keadaan genting. Tadinya mereka tidak punya harapan, tapi diselamatkan Tuhan di detik terakhir. Allah beserta kita. Dieu le  veut, Gott mit uns, with God on our side. Gusti nyarengan urang sadaya. 

Untuk menyerahkan diri tentunya tidak mudah. Perlu percaya dan mau ikut. Ketika bahkan kita tahu perjalanan macam apa yang akan kita hadapi ke depan. Pilihan hidup macam apa yang akan kita pilih? Dengan siapa kita mau hidup dan menghabiskan hidup? Apa kita menganggap persekutuan kita hanya tempat singgah atau tempat kita bertumbuh? Untuk melaluinya dalam iman, kita butuh penyerahan diri yang penuh. Bertobat dari karakter dan tabiat buruk kita. Tidak mudah. Seorang guru sekolah minggu pernah mengkotbahkan tentang bersyukur dan hidup sederhana, ketika kemudian dia terduduk lemas di depan almarinya, ada begitu banyak sepatu dan tas baru yang dia beli tapi belum pernah dipakai. 

Diselamatkan itu mudah, tapi hidup di dalam selamat susah sekali. Dan, tidak terhitung kita memakai tubuh dan mulut kita untuk berdosa, sehingga kita harus senantiasa mengingat 10 Firman dalam hidup kita. Kita mesti menjaga hubungan baik kita dengan Tuhan dalam kekudusan. Seperti kita juga harus menjaga hubungan baik dengan sesama dalam kekudusan. Kita sudah diselamatkan tapi kita perlu mengingat karya penyelamatan itu, supaya kita tetap dapat memelihara keselamatan kita. Itulah Pesakh. 

Dalam pembelajaran mengenal Allah, alam maut memenuhi bumi Mesir malam itu. Ketika Firaun mau menjadi allah bagi dunia, menggantikan Allah Israel, Allah menunjukkan siapa yang bisa mencabut nyawa. Allah menunjukkan bahwa Dia lebih daripada dewa-dewa Mesir. Orang Mesir ketakutan dan meratap menyuruh bangsa Israel pergi saking panik dan sedihnya. "..Berikan semua yang ada pada kita kepada mereka! Mudah-mudah-an Allah mereka tidak lagi jadi marah pada kita! Di malam itu mereka sadar, siapa Allah Israel.  Demikian seru orang Mesir di malam itu. Dan dengan tergesa, Israel pergi dari negeri yang besar itu. Kafilah yang penuh dosa, diselamatkan oleh tangan kanan Allah yang kuat. 

Perjamuan Paska yang kemudian dirayakan tiap tanggal 10 bulan Nissan dan Sabat mengingatkan itu. Semua ayah akan bercerita tentang kisah nenek moyang yang bergegas dan terburu-buru di malam hari, diwujudkan dengan roti yang belum mengembang karena tidak beragi yang kemudian dirayakan sebagai peristiwa pembebasan selama sepuluh hari, dan sayur yang pahit.  Juga kuah dan daun ara yang berwarna kecoklatan menyerupai batu bata yang selalu harus dibakar ketika mereka jadi budak. Para bapak Israel akan berkata, Pada mulanya....agar mereka ingat siapa diri mereka, siapa Mesias mereka? Dan bagaimana agar mereka tetap selamat hidup dalam dunia. Dan juga dalam kekekalan. 

Dulu, nenek saya pernah bercerita bahwa dalam masa penjajahan Jepang dulu, mereka mengenakan baju dari karung goni dan makan nasi jewawut. Saking susahnya. Cerita itu diturunkan dan dituturkan supaya kita tidak lupa di mana kita berasal dan siapa Pembebas kita. Ingatkah saudara, bahwa Allah sudah dan masih berkarya menyelamatkan kita saat ini, dalam susah, kuatir, derita, dan berbagai persoalan hidup dan dunia? Dunia mungkin masih dirundung duka karena dosa, tapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Israel berusaha tetap mengingatnya, dalam satu Sabat ke Sabat lain. Dalam satu Paskah ke Paskah yang lain.

Hari Minggu diingat sebagai Hari Kebangkitan. Kita ingat bahwa kisah kasih Perjanjian kita bersama Allah digenapi dalam pengorbanan Yesus, Anak Allah. Kita ini adalah budak dosa, tapi Yesus mau menyelamatkan kita dari tabiat dan karakter dosa kita. Karena itu ingatlah perjalanan hidup kita yang tidak mudah untuk menerima Yesus, dan jangan lagi hidup dalam lubang hitam yang membuat kita lupa perjanjian kita bersama dengan Allah.

Selamat artinya hidup dalam damai Allah. Selamat artinya mau diajak dan dibawa berlari untuk meninggalkan dosa oleh Allah. Selamat artinya mau hidup diperdamaikan dengan sesama. Selamat artinya bisa bersyukur dalam segala hal. Selamat itu mau terus menjadi pribadi yang lebih baik karena ingin menghormati Allah. Selamat itu mau melakukan Firman meski sulit. Selamat itu mau mengupayakan supaya tanah hati kita yang keras ini mau jadi lebih lembut. Selamat itu menghayati hidup dan tiap helaan nafas sebagai sebuah berkat. Selamat tidak hidup dalam iri hati dan cemburu. Senang melihat orang senang, bukan senang melihat orang susah, atau susah melihat orang senang. Itu selamat. Merasa bahagia dan bersyukur, menerima dan mengasihi, memberi dan menyediakan diri dengan tulus hati. Selamat adalah berhenti berjuang menjadi penguasa diri, dan menjadikan Allah sebagai yang paling kita hormati dan penguasa atas segala keputusan yang kita ambil dalam hidup kita. 


Allah, karuniailah aku dengan ketenangan
untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah,
keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah,
dan hikmat untuk mengerti beda di antara keduanya

Menjalani hari demi hari,
menikmati setiap perguliran waktu,
menerima kesukaran sebagai langkah menuju kedamaian,
seperti Yesus, rela menghadapi dunia yang sarat dengan dosa,
apa adanya, bukan seperti yang kumau;

memercayai bahwa Engkau akan membuat segala sesuatu menjadi baik
jika aku berserah pasrah pada kehendak-Mu;
aku dapat menerima kebahagiaan yang wajar di hidup ini
dan menerima kebahagiaan yang tak terhingga bersama-Mu untuk selamanya di kehidupan mendatang, Amin
-REINHOLD NIEHBUHR-

Hiduplah menghargai keselamatan kita. Rayakan penyelamatan Tuhan dengan semua kebaikan yang bisa kita lakukan. Mungkin kita datang dengan masalah yang sama pada Allah, tiap saat: adakah yang harus kita tinggalkan untuk tidak terjebak dalam lubang hitam kita masing-masing? Mari sambut keselamatan dari Allah!