Friday, September 9, 2016

KESEMPATAN TIDAK PERNAH DATANG DUA KALI- LUKAS 23:33-43

Ketika sampai di tempat yang disebut "Tengkorak", mereka menyalibkan Yesus dan kedua penjahat itu--seorang di sebelah kanan dan seorang lagi di sebelah kiri Yesus. 
Lalu Yesus berdoa, "Bapa, ampunilah mereka! Mereka tidak tahu apa yang mereka buat." Pakaian Yesus dibagi-bagi di situ di antara mereka dengan undian. 
Orang-orang berdiri di situ sambil menonton, sementara pemimpin-pemimpin Yahudi mengejek Yesus dengan berkata, "Ia sudah menyelamatkan orang lain; cobalah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, kalau Ia benar-benar Raja Penyelamat yang dipilih Allah!" 
Prajurit-prajurit pun mengejek Dia. Mereka datang dan memberi anggur asam kepada-Nya, serta berkata, "Kalau Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Di sebelah atas kayu salib Yesus, tertulis kata-kata ini: "Inilah Raja Orang Yahudi." 
Salah seorang penjahat yang disalibkan di situ menghina Yesus. Ia berkata, "Engkau Raja Penyelamat, bukan? Nah, selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi penjahat yang satu lagi menegur kawannya itu, katanya, "Apa kau tidak takut kepada Allah? Engkau sama-sama dihukum mati seperti Dia. Hanya hukuman kita berdua memang setimpal dengan perbuatan kita. Tetapi Dia sama sekali tidak bersalah!" Lalu ia berkata, "Yesus, ingatlah saya, kalau Engkau datang sebagai Raja!" 
"Percayalah," kata Yesus kepadanya, "hari ini engkau akan bersama Aku di Firdaus." 



Beberapa hari lalu, saya menyempatkan nonton sebuah film Korea berjudul Ms. Granny. Film ini menceritakan seorang nenek berusia 65 tahun yang diberi kesempatan jadi muda lagi ketika dia difoto di sebuah studio foto. Dengan masa muda yang terulang itu, dia bisa melakukan apa pun yang belum sempat dia lakukan ketika masih muda, termasuk bernyanyi dan mempercantik dirinya. 

Pada akhirnya, sang nenek harus kembali lagi ke wujud asalnya. Tuhan seakan tidak membiarkan kita mengulang masa lalu. Ketika anaknya minta dia terus menjadi muda, sang nenek yang masih ada dalam rupa cantik berkata, "Kalau aku harus kembali lagi jadi muda, tidak akan ada yang berubah. Aku akan tetap jadi ibu. Dan, aku akan tetap bahagia menjalani kehidupanku sebagai ibu bagimu dan bersyukur karena engkau jadi anakku!" Meski masa lalu demikian berat, ibu ini tidak menyesal karena sudah merasa melakukan yang terbaik di masa mudanya dulu, meski hidupnya berat.

Pada kenyataannya, masa lalu tidak bisa diulang. Kita mungkin bisa mengenang dengan fitur FB atau memajang foto di ruang tamu, tapi kita tetap tidak bisa kembali ke masa lalu. Karena itu, kita mesti bijak memandang masa kini supaya kita tidak menyesal di masa depan.

Tidak banyak orang bisa memahami makna ini. Sebelum Roh Kudus hadir pada diri para rasul, mereka tidak bisa memahami betapa di masa kini, kehadiran Yesus sangat berarti bagi mereka. Demikian juga, orang-orang yang menghina dan mengejek Yesus di kayu salib. Dengan pongahnya mereka mengejek Yesus. Orang-orang yang sudah mendengar ajaran Yesus dan mengelu-elukkan Dia dengan gampangnya menghina dan mentertawakan Dia. Tragis!

Itu semua terjadi karena ketidaktahuan mereka. Kebencian karena ketidaktahuan. Disalahpahami karena tidak dikenal. Dan, kadang itu harus terjadi dalam hidup. Pada akhirnya, pengorbanan Yesus di kayu salib membuahkan hasil yang luar biasa. Salib yang merupakan tanda kehinaan itu, menjadi bermakna begitu dalam karena kebangkitan pada hari ketiga yang menandai babak baru dalam hidup iman Kristen. 

Kita bisa belajar banyak dari pengampunan Yesus di kayu salib. Kalimat terindah diucapkanNya. "Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu....." Kita pasti merasa sangat bodoh mengetahui itu. Puji Tuhan, kita sekarang memperoleh gambaran tentang Allah dalam diri Yesus itu melalui Alkitab yang nyata berbicara tentang karya Allah. Masihkah, kita akan menutup mata dan telinga kita, bersikap tidak mau tahu?

Di antara banyak ketidaktahuan itu, ada kisah persekutuan yang indah terjadi antara Yesus dan dua penjahat yang disalib bersama Dia. Sekali lagi, Lukas yang penuh kasih, memaparkan bahwa dalam kesulitan dan bahaya serta penderitaan, tidak pernah sekalipun, Yesus gagal menyatakan kasihNya. Dia mengampuni, Dia menerima, dan Dia mengundang masuk orang berdosa masuk dalam KerajaanNya, ya seberdosa apa pun kita. Penjahat di kanan Yesus, sudah lama mendengar tentang Yesus. Dia menjadi percaya, dia memutuskan mengimani semua yang dikatakan Yesus dan dia memperoleh buahnya: ada di taman Firdaus, bersama-sama dengan Tuhan Juruselamat.

Untuk hal baik, tidak akan ada kata merugi. Asal, kita tahu apa yang baik dan buruk. Sebab, seringkali, kita yang salah memilih bukan? Pagi ini, tentu banyak orang memilih menghabiskan waktu dalam kemacetan di Puncak. Saya selalu berdoa, semoga orang yang bermacet itu sungguh bahagia dalam hidup. Mungkin, kata mereka, hidup tidak akan datang dua kali, selama masih bisa senang-senang, kenapa enggak? hehe...itu hak prerogatif orang memang!

Tapi, di sisi lain, anda dan saya memutuskan melakukan hal lain pagi ini. Pagi ini jadwal saya padat sekali. Setelah melayani Kebaktian, saya harus rapat dengan tim seminar HIV AIDS dan mempersiapkan magang relawan unit HIV AIDS GKP ke Medan beberapa minggu lagi. Belum lagi, kebaktian Pemuda sore nanti. Semua itu bukan hal yang menyenangkan bagi beberapa orang. Melayani orang lain bukan hal yang mudah, tapi itu yang saya pilih karena memang Allah sudah memanggil saya untuk melakukannya. Maka, dengan bercermin pada karya kasih Yesus yang tidak pernah berhenti, dan pilihan bijak yang dibuat Demas sang tersangka, saya menjalani pilihan saya menjalani hari ini dengan penuh sukacita.


Nah, apa pilihan aktifitas anda hari ini? Semoga itu adalah sesuatu yang akan membuat kita diterima dan berjalan bersama Allah dalam Kerajaan-Nya. Semoga kita bahagia dan tidak kehilangan kesempatan untuk ada dalam kekekalan bersama Allah. Saya senang sekali berjumpa dengan orang dalam persekutuan. Saya tidak membayangkan jika hidup saya sendirian. Dan, bagi saya, kita tidak bisa hidup kesepian. Karena itu, di tengah hal berat yang dihadapi Yesus, Dia mati tidak dalam keadaan sendirian. Selain Allah Bapa menguatkanNya, Dia bersama dua penjahat. Dia menjadi rekan bagi mereka. Mereka menjadi rekan bagi Dia. Alangkah indahnya persekutuan. Apalagi persekutuan yang saling melayani satu sama lain!

Selamat merayakan Sabat :)

Sunday, September 4, 2016

DIKUATKAN untuk MENGUATKAN

Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. (I Korintus 15:28)

Menjadi pelayan Tuhan tidak menjamin semuanya berjalan dengan mudah. Buktinya, Paulus. Dia adalah contoh nyata bahwa kelemahan dan kesulitan menghadang seumur hidup ketika kita mau dan memutuskan setia. Hidupnya seperti sebuah kekalahan, meski Paulus sendiri tidak menganggap hidupnya seperti itu. Dia beranggapan, dengan hidupnya yang sulit itu, justru dunia ditaklukan di bawah Kristus Yesus.

Paulus adalah seseorang yang luar biasa di mata saya. Tidak banyak orang mau memberi hidupnya dengan segala embel-embel kepada Yesus. Bahkan, saya yang pelayan gereja, kadang berpikir banyak tentang kesenangan pribadi, dibanding bagi Allah. Hanya satu hal yang bisa membuat Saulus menjadi Paulus: ROH KUDUS dan cinta.

Saya bangun pagi dengan meminum segelas kopi hari ini. Bisa menghabiskan sepanjang pagi di hari senin ini, dengan agak santai selepas mengerjakan pelayanan yang menguras energi minggu kemarin. Tapi, saya membayangkan Paulus, saat ini pasti ada di lautan, mengarungi perjalanan yang diselingi badai hebat dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak ratusan km. Dia selalu siap sedia, tanpa libur, mengerjakan pelayanannya. Dibanding dirinya, saya lemah sekali.

Kita bisa mengerjakan sesuatu yang begitu berat dengan rasa cinta. Rasa cinta akan mendorong kita melakukan segala yang perlu dalam kerja dan pelayanan kita. Rasa cinta akan membuat kita bangkit lagi ketika mulai menyerah. Rasa cinta akan membuat kita mampu berdoa bagi mereka yang menghambat kita untuk naik tinggi. Rasa cinta membuat kita sadar bahwa di dunia ini, kita akan tetap dicintai, walau hanya dengan sedikit orang. Ya, jika pun, kita kehilangan perhatian dan dukungan banyak, kita tahu Tuhan tetap cinta kita apa adanya. 

Di mata Paulus, target operasionalnya yang utama adalah menaklukan dunia bagi Yesus. Dia diutus karena daya tahan, semangatnya yang tak pernah padam, kekerasan tekadnya, dan cintanya pada Tuhan yang luar biasa. Dalam tiap surat dan perkataannya, tidak ada gambaran dan nada cinta pada Allah yang saya rasakan. Dia bersedia mengorbankan segalanya demi Kristus. Ah, kekuatan hebat macam itu, sangat ingin saya dapatkan.

Itu yang terjadi pada seseorang yang sudah diubahkan. Dia dikuatkan untuk menguatkan. Dia berani untuk memberi keberanian pada orang lain. Paulus penuh dengan ketidakberdayaan, jelas. Dia diserang oleh penyakit malaria hebat yang menghambat pelayanannya. Tapi, dia tidak pernah menyerah. Ketika dia merasa sendirian, Tuhan tidak menunjukkan bahwa dia sendirian. Ya, ada banyak orang yang berdoa baginya. Saya juga percaya itu. Dalam kesendirian, kita mungkin tidak menemukan apa-apa. Tapi, saya percaya, dunia ini bergerak dalam kuasa Allah dan kekuatan iman. Dosa memang masih ada dan menggelayut di permukaan bumi, tapi dia kehilangan kuasanya karena Yesus sudah mati dan bangkit bagi kita. Dan, sekarang, kita bisa bangkit meski ada badai di depan kita.

Semoga, hari ini, kita bisa mengingat selalu cinta Tuhan dan merasakan kuasaNya dalam hidup kita.




Friday, September 2, 2016

BUKAN KACANG LUPA KULIT ---ULANGAN 15:12-18

Apabila seorang laki-laki atau perempuan dari bangsamu menjual dirinya menjadi budakmu, ia harus bekerja untukmu selama enam tahun. Dalam tahun yang ketujuh ia harus dibebaskan. 

Budak yang dibebaskan itu tak boleh dibiarkan pergi dengan tangan kosong. 

Berilah kepadanya dengan murah hati dari apa yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu yaitu kambing domba, gandum dan anggur. 

Ingatlah bahwa kamu dahulu budak di Mesir lalu dibebaskan oleh TUHAN Allahmu; itulah sebabnya saya berikan perintah ini kepadamu. 

Tetapi kalau budak itu tidak mau pergi karena ia mencintai kamu dan keluargamu dan senang tinggal bersamamu, bawalah dia ke pintu rumahmu dan tindiklah telinganya, maka ia akan menjadi budakmu seumur hidupnya. Begitu juga harus kamu perlakukan budakmu yang perempuan. 

Kalau kamu membebaskan seorang budak, janganlah merasa kesal, sebab selama enam tahun ia telah bekerja untuk kamu dengan separuh upah seorang pelayan. Lakukanlah perintah itu, maka TUHAN Allahmu akan memberkati segala usahamu."

Ayub Yahya pernah bercerita, dalam suatu Kebaktian Kebangunan Rohani di sebuah gereja, seorang pendeta berkotbah dengan penuh semangat, "Bila gereja kita mau jadi lebih baik, ia harus bangun dari tidurnya dan berjalan." Jemaat menjawab, "Amin. Harus bangun dan berjalan!" Pendeta itu melanjutkan. " Bila gereja kita mau menjadi lebih baik,ia harus menyingkirkan penghalang-penghalangnya dan berlari!" Jemaat menjawab "Amin. Harus berlari." Pendeta melanjutkan kembali, "Bila gereja kita mau jadi lebih baik, ia harus memasang sayapnya dan terbang!" Jemaat menjawab, "Amin. Harus terbang!" Suara pendeta makin menggelegar. "Bila gereja kita mau terbang tinggi, itu memerlukan biaya!" Jemaat menjawab "Amin. Tidak usah terbang!"

Humor ini menyindir secara halus, semua ungkapan di mulut orang percaya tentang iman, yang pada kenyataannya, tidak selalu bisa kita nyatakan dengan perbuatan. Jika bicara soal "misi" kita bisa menggelegar. Tapi, jika bicara soal harga yang harus dibayar, bisa lain lagi bicaranya.

Ulangan adalah sebuah kitab yang ditulis Musa sebelum dia melepas bangsanya masuk Tanah Perjanjian. Mereka akan menemui sebuah negeri yang baik dengan banyak berkat melimpah di dalamnya. Ulangan dibuat untuk mengingatkan mereka akan siapa diri mereka, dan bagaimana perjalanan kehidupan mereka, agar tidak seperti kacang yang lupa pada kulitnya. 

Penghapusan hutang dan pembebasan budak bukan perkara gampang untuk dilakukan. Bawaan alamiah manusia yang selalu ingin enak, membuat dua hal ini juga menimbulkan keengganan yang pasti pada pemilik budak waktu itu. Ada banyak budak saat itu. Budak yang sebangsa, budak yang lain bangsa. Mereka ada karena bagian dari rantai perbudakan yang panjang yang dianut banyak bangsa. Situasi perang, adanya para tawanan menimbulkan kejahatan baru dengan memperlakukan manusia seperti komoditi barang di antaranya adalah perbudakan. 

Allah berbelas kasihan pada semua manusia. Karena itu, meski di zaman Perjanjian Lama, masih ada budak, tapi aturan yang Allah berikan berusaha membebaskan dan memberdayakan mereka. Ya, bukan cuma bebas, tapi juga berdaya. Hukum Allah diberikan untuk hadirnya kasih di tengah dunia. Dan, tidak mungkin kasih diberlakukan jika kita masih memperbudak orang lain. Mempergunakan mereka untuk kepentingan mereka dan memperkecil tanggungjawab kita terhadap hidup mereka. Itu Tuhan tidak mau.

Waktu enam tahun adalah waktu yang cukup untuk mereka membayar hutang mereka pada orang yang memperbudak mereka. Biasanya orang jadi budak karena berhutang. Tahun ketujuh adalah tahun yang ditentukan untuk membebaskan mereka, dan, majikan mereka harus berupaya supaya mereka bisa berdaya guna ketika mereka lepas dari majikan. Ini dilakukan dengan memberi mereka kambing, domba, gandum dan anggur. Ikatan yang ada dalam kebencian karena dimanfaatkan-memanfaatkan harus diganti dengan hubungan kasih dan hormat. Baru, jika bangsa Israel bisa begitu, mereka pantas disebut sebagai umat Allah.

Nah, supaya misi ini bisa dilakukan, memang ada harga yang harus dibayar. Seperti ilustrasi di atas pipa-pipa berkat ini memerlukan banyak tenaga dan biaya untuk memasangnya. Mesti ada keiklasan dan kemurahan hati untuk tidak enggan memberi. Bangsa ini diajar untuk memberi, sampai sakit. Sesuatu yang sangat sangat sangat tidak kita suka. Bahkan sampai kini.

Di gereja, kita belajar banyak hal untuk melakukan hal-hal yang dunia pikir tidak perlu kita lakukan. Kita melakukannya bukan dengan gaya-gaya an atau mencari keuntungan. Kita belajar memberi kepada Allah. Belajar untuk berbagi. Belajar untuk memaafkan dan menerima orang dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Belajar untuk mau bercapek dan berlelah dalam pelayanan. Perlu banyak harga yang perlu dibayar dalam misi ini.

Lakukanlah karya kasih kita pada orang lain karena kita sudah menerima banyak kemurahan Allah dalam hidup kita. Jangan lupa, bahwa tiap kita, pernah ada dalam perbudakan dan sekarang sudah dibebaskan. Kita pernah ada dalam situasi di mana kita ditolong Allah luar biasa. Jika kita lupa mengingatnya, mustahil dengan sukacita kita akan memberi. Dan, tidak ada orang yang lebih malang kecuali mereka yang tidak merasa dikasihi Allah dan orang lain. JANGAN PERNAH LUPA MENGUCAP SYUKUR!