Saturday, May 13, 2017

Percaya, Mengenal, Melakukan, dan Hidup Bersama Yesus- Yohanes 14:1-14

"Jangan hatimu gelisah," kata Yesus kepada mereka. "Percayalah kepada Allah, dan percayalah kepada-Ku juga. Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kalian. Aku tidak akan berkata begitu kepadamu, sekiranya itu tidak demikian. Sesudah Aku pergi menyediakan tempat untuk kalian, Aku akan kembali dan menjemput kalian, supaya di mana Aku berada, di situ juga kalian berada. Ke tempat Aku pergi kalian tahu jalannya." Lalu Tomas berkata kepada Yesus, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Tuhan pergi, bagaimana kami tahu jalannya?" 

Yesus menjawab, "Akulah jalan untuk mengenal Allah dan mendapat hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kalian mengenal Aku, pasti kalian akan mengenal Bapa-Ku juga. Sekarang kalian sudah mengenal Dia, dan sudah melihat Dia." Maka Filipus berkata kepada Yesus, "Tuhan, tunjukkan Bapa kepada kami, supaya kami puas." 

Tetapi Yesus menjawab, "Sudah begitu lama Aku bersama kalian, dan belum juga engkau mengenal Aku, Filipus? Orang yang sudah melihat Aku, sudah melihat Bapa. Bagaimana engkau dapat mengatakan, 'Tunjukkanlah Bapa kepada kami'? Filipus! Tidakkah engkau percaya, bahwa Aku bersatu dengan Bapa, dan Bapa bersatu dengan Aku? Apa yang Kukatakan kepadamu, tidak Kukatakan dari diri-Ku sendiri. Bapa yang tetap bersatu dengan Aku, Dialah yang mengerjakan semuanya itu. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku bersatu dengan Bapa dan Bapa bersatu dengan Aku. Atau setidak-tidaknya, percayalah karena apa yang sudah Kulakukan.

Sungguh benar kata-Ku ini: Orang yang percaya kepada-Ku, akan melakukan apa yang sudah Kulakukan, --malah ia akan melakukan yang lebih besar lagi--sebab Aku pergi kepada Bapa. Dan apa saja yang kalian minta atas nama-Ku, itu akan Kulakukan untuk kalian, supaya Bapa diagungkan melalui Anak. Apa saja yang kalian minta atas nama-Ku, akan Kulakukan."

Seorang pesulap hendak mempertunjukkan kemampuannya menyebrangi sungai Niagara dengan hanya seutas tali. Dia meminta salah satu dari ribuan penontonnya menjadi sukarelawan untuk dia gendong menyebrangi jembatan. Tak ada seorang pun yang mau. Tiba-tiba seorang anak kecil mengacungkan tangannya dan menyatakan kesediaannya. Dia menggendong anak yang tampak tenang tanpa takut sedikit pun itu menyebrangi tebing. Mereka tiba selama di ujung dan seorang wartawan mewawancarai anak itu. "Kamu hebat! Apa yang membuat kamu berani digendong oleh dia menyebrangi tebing?" Anak itu menjawab, "karena aku percaya padanya, dia itu ayahku.

Mengikut Yesus tidak sama seperti tertarik mencoba obat penumbuh kumis atau rambut yang diiklankan oleh si tukang dan anda mencoba. Ketika tidak sesuai dengan harapan, anda bisa meninggalkan begitu saja. Atau, ikut Yesus karena iseng-iseng.

Mengikut Yesus adalah sebuah jalan yang dipilih. Dan sebagaimana anda mengikut hodos itu, anda memilih jalan itu, dan bersedia menyusuri jalan itu dengan cara apa pun. Apa yang disampaikan Yesus pada para pengikutNya adalah sebuah panggilan untuk mengikuti Dia. Seorang murid Yahudi harus membaktikan hidupnya penuh pada sang Guru. Mereka menyerahkan waktu dan hidup mereka untuk meneladani apa yang dikatakan, diucapkan, dan dilakukan oleh Sang Guru. Karena itu, menjadi pengikut Yesus butuh penyangkalan diri dan kesetiaan.

Lalu, tertarikkah banyak orang dengan ini? Nyata-nyata tidak, seringkali. Ada banyak orang mencari jalan demi bahagia, tapi tidak semua mendapatkan apa yang mereka mau. Ada orang mencari bahagia dari kasih manusia, dari penerimaan dan pujian, dari uang yang mati-matian dicari lalu kemudian dihabiskan untuk mempermak diri, dan bekerja keras menuju puncak kekuasaan. Nyatanya, semua jalan itu tidak membawa pada kebahagiaan.

Demikian juga komunitas Yohanes. Mereka tetap orang Yahudi, namun sekarang, mereka tahu bahwa jalan yang mereka tempuh selama ini tidak membawa mereka pada keselamatan. Sama seperti manusia lain di dunia ini, mereka merindukan hidup kekal bersama Bapa. Mereka merindukan Yerusalem sorgawi tempat perhentian yang kekal. Mereka sungguh-sungguh menginginkan kepastian, jaminan, dan keselamatan di dalam hidup dan mati mereka.

Yesus mengatakan bahwa, sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, Dia akan membawa mereka yang percaya pada-Nya untuk datang pada Bapa. Bukan hanya menuju Bapa, tapi juga akan bersama dengan Bapa tinggal dalam kebahagiaan kekal. Apa lagi, yang kurang? Ketakutan terbesar mereka akan masa depan, dengan siapa mereka akan hidup dan berjalan di tengah dunia ini, semuanya diketahui Yesus dan dijawabNya akan disediakan dalam iman kepada-Nya yang akan membawa mereka yang percaya pada Bapa.

Karena itu Tomas dan Filipus tidak bisa dengan mudah memahami ini. Bagi mereka saat itu, Yesus hanya seseorang yang mereka hormati. Roh Kudus belum bekerja dalam diri mereka. Mereka belum bisa merasakan keilahian Kristus sekalipun berkali-kali Kristus telah menunjukkan mukjizat-Nya. Mereka masih mengandalkan diri sendiri dan sekitar mereka untuk menjadi jalan, kebenaran, dan hidup bagi mereka. Mereka hidup bagi diri sendiri, dan merasa jika mereka tidak berbuat ini itu, mereka tidak akan selamat.

Lalu, Yesus berkata, bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan Jalan, Kebenaran, dan Hidup itu? Dengan mengenal Dia dan melakukan pekerjaan Dia.

Mengenal Tuhan tidak sama dengan berapa kali anda khatam membaca Kitab Suci. Saya pernah memaksakan diri membaca seluruh kitab dan susahnya minta ampun. Tapi membaca tanpa memahami adalah lebih berbahaya. Yang terlebih penting adalah, anda memahami apa yang anda baca, dan haus mencari kebenaran di balik itu. Jika anda sangat rindu mendengar suara Tuhan, maka anda memulai satu langkah untuk mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan adalah perkara pribadi, bukan perkara kolektif.

Mengenal Tuhan seperti anda memiliki ikatan bathin yang kuat dan tahu apa yang dirasakan seseorang yang anda kenal. Sehingga ketika anda melihat matanya saja, anda tahu apa yang dirasakannya. Apakah anda sadar dan takut ketika melakukan dosa, bukan karena takut Dia akan menghukum melainkan karena amat mengasihi, menghormati dan tidak ingin menyakiti perasaan-Nya? Maka, itu adalah selangkah untuk mengenal Dia.
Karena itu, tidak mungkin seseorang bisa mengenal Yesus kalau Dia tidak percaya pada Yesus. Tidak mungkin juga melakukan apa yang Yesus katakan jika kita tidak mengenal Yesus dengan baik. Dan, tidak mungkin, Allah melakukan apa yang kita minta jika kita tidak melakukan kehendak-Nya. Semuanya saling kait mengait.

Karena itu, perenungan ini adalah sarana kita melihat pada diri sendiri: apakah kualitas hubungan kita dengan Tuhan sudah cukup menjadikan kita bahagia dan menikmati hubungan itu? Hubungan yang baik dengan seseorang tentu akan membawa kebahagiaan, apalagi dengan Tuhan. Dosa akan membuat kita bersembunyi, sendirian, malu, tidak tenang, dan tidak bahagia.

Saya percaya bahwa rumah tempat tinggal yang disediakan Yesus bagi mereka yang percaya pada-Nya bukan hanya ketika kita mati nanti, melainkan saat ini juga ketika kita terus melakukan apa yang berkenan bagi Dia. Mungkin, ada orang yang terpisah dari orang yang dikasihinya saat ini, berada di sebuah tempat yang dingin karena melakukan kehendak Allah. Tapi sesungguhnya dia tidak sendiri, Allah sudah tinggal bersama dia. Dan, apa ketika anda berkendara, Allah tinggal bersama anda? Apa ketika anda sendirian di kamar, Allah tinggal bersama anda? Apa ketika kita pacaran, Allah tinggal bersama anda? Apa ketika kita melayani Allah tinggal bersama Dia?

Jika, itu terjadi, maka damai sejahtera Allah hadir dalam hidup kita.
Selamat merenung. Yesus- Jalan, Kebenaran, dan Hidup


Friday, May 5, 2017

Meneladani Gembala Baik dalam Penyerahan dan Kesetiaan- 1 Petrus 2:19-25

Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.


Dalam percakapan saya dengan salah seorang anggota MJ Tangerang yang amat peduli pada perkembangan anak-anak, saya menyoroti perilaku kasar dari anak-anak zaman sekarang satu sama lain atau pada orangtuanya. "Kenapa ya, anak sekarang, banyak mengalami masalah untuk bersikap sopan pada orang lain dalam bicara atau sikap? "Dia menjawab, "Coba ibu lihat papa dan mamanya! Bagaimana mereka memperlakukan anak-anak mereka. Orangtua yang terbiasa berkata keras dan kasar pada anak akan menghasilkan anak-anak yang seperti itu juga. Tapi, ketika mereka mengedepankan komunikasi yang sehat dan baik, maka anak-anak mereka pun akan belajar menata sikap mereka di hadapan orang lain. 

Saya tidak tahu, anda setuju tidak dengan pandangan anggota Tangerang di atas. Tapi, saya sepakat bahwa salah satu dari buah roh adalah kelembutan dan penguasaan diri. Untuk bisa menjadi lembut kita perlu menguasai diri kita, dan Paulus menyatakan inilah tanda pertobatan paling sulit (dan karena itu disebut paling akhir) yang mesti keluar dari hidup orang Kristen yang bertobat.

Kita berjuang terus bagaimana menguasai diri kita. Termasuk ketika menghadapi hidup dan segala pergumulannya. Zaman kini, kita cenderung tidak sabar dan maunya serba cepat. Kecuali cepat meninggal (itu mungkin satu-satunya ketidakcepatan yang paling kita takuti), kita selalu ingin memperoleh, tiba, dan cepat selesai. Biasa di Tangerang yang ke mana-mana naik kereta cepat, lalu pindah ke Bandung yang harus berjam-jam menempuh jarak 3 km, membuat saya hampir putus asa dan berpikir, kenapa orang bandung betah di bandung? Tapi, ternyata ada lebih dari sekadar cepat-cepat yang Tuhan mau ajarkan.

Alkitab seakan mau memberi kita pemahaman baru mengenai hidup dan bagaimana mengisinya. Bahwa hidup itu bukan melulu soal pencapaian tapi juga soal bagaimana kita mengisinya sedemikian rupa. Bayangkan, orang-orang yang hidup di Asia Kecil, yang mendapat penghiburan dan tuntunan baru dalam hidup mereka untuk bersikap baik melalui Kristus lalu harus kembali lagi ke wilayah mereka dan mengabarkan Kabar Baik itu dalam sikap hidup sehari-hari. Mereka harus bergumul dengan berbagai kesulitan karena mereka mau belajar untuk tetap setia.

Karena itu, Petrus menabahkan mereka dengan segala konsekuensi hidup tersebut. Kalau kamu dihukum karena melakukan kesalahan, itu sudah sewajarnya, tapi penderitaan karena Kristus kamu pikul karena Dia juga pernah mengalaminya dulu. Dia tidak bersalah tapi kepadaNya ditimpakan berbagai hukuman dan dera. Bahkan dia memperoleh salah paham sampai saat ini. Dan, tidak terhitung dalam perjalanan hidup anda, ketika anda dan saya harus bertahan mengikut Yesus dalam situasi yang tidak mudah dalam hidup kita. 

Lalu, apa yang bisa membuat anda bertahan? Mengapa anda masih setia? Atau, mungkin anda dan saya mulai memutuskan untuk mundur? Ada seorang napi yang hampir mundur dari Tuhan dan memutuskan jadi jahat lagi ketika dia bertahun-tahun dipenjara. Tapi kemudian, dia melihat sebuah tanaman kecil menyembul di permukaan tanah jendela penjara. Dia tersadar, meski dalam tekanan dan himpitan, ada kehidupan muncul, Allah tetap memelihara. 

Kasih karunia Allah tercurah dalam hidup kita, di tengah berbagai penderitaan. Mungkin, kita tidak tahu besok akan makan apa, tapi berkali-kali, kita merasa Tuhan selalu mencukupkan kita dengan cara tidak terduga. Anda dan saya mungkin bergantung pada doa-doa tiap pagi untuk nafkah dan rejeki, tapi lihat dampaknya pada anak-anak dan keluarga anda. Mereka akan melihat betapa keluarganya sangat mengandalkan Tuhan. Dan, adakah kita melakukan segala kegiatan tiap hari tanpa iman? Tidak. Kita bahkan makan tanpa tahu siapa yang menanam beras dan menggosok gigi tanpa tahu komposisi macam apa yang ada di odol itu, dengan iman, bahwa Allah akan menjauhkan kita dari yang jahat. Hampir semua yang kita lakukan tiap-tiap hari adalah iman dasarnya.

Karena itu, jangan menyerah! Jadikanlah kesetiaan Kristus sebagai pedoman. Dan, bersabarlah! Kristus menjadi manusia dan mati karena Dia sadar bahwa segala konsekuensi penyelamatan-Nya. Mungkin, anda bisa mengatakan bahwa anda dan saya bukan Yesus. Tapi, kekuatan Kristus dikaruniakan kepada kita untuk memikul segalanya karena Dia adalah gembala dan pemelihara jiwa kita.

Nah, kasih Tuhan itu tidak cukup membuat kita jadi baik tanpa peran kita untuk mau bekerjasama dengan Allah. Roh Kudus tidak bisa berdiam di hati orang yang tidak menerima-Nya dengan kerendahan hati. 

Suatu hari Minggu sebuah gereja tampak dipenuhi jemaat. Saking penuhnya, sampai banyak pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk. Sesaat sebelum kebaktian dimulai, tiba-tiba lima orang berpakaian hitam-hitam masuk ke dalam gereja. Berdiri di depan dan mengeluarkan senjata otomatis mereka. Salah seorang dari mereka berteriak, "Siapa yang mau mati untuk Yesus, tetap di tempatnya!" Tiba-tiba, orang-orang di balkon berlari berhamburan untuk menyelamatkan diri. Diikuti kelompok paduan suara. Jemaat yang duduk di barisan belakang ikut berlari keluar. Penatua juga ikut menghilang. Setelah beberapa saat yang penuh kegaduhan, akhirnya tinggal sekitar dua puluh orang yang tetap duduk di kursinya. Kelima orang yang tak dikenal itu lalu menurunkan senjatanya dan berkata kepada pendeta yang dari tadi tampak melongo di atas mimbar. "Pak Pendeta, silakan Bapak mulai kebaktian ini. Kami telah menyingkirkan semua orang munafik untuk pergi."

Kisah humor ini, menitipkan satu pesan: Banyak orang terpanggil, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh terpanggil. Dan jika kita ingin memuliakan Tuhan dalam hidup kita, muliakan itu bukan hanya dalam kenyamanan kita namun terutama dalam kesulitan hidup kita. Di situlah iman dan kesetiaan kita akan sungguh diuji. Selamat menyambut Paska dengan karakter baru.

Friday, April 28, 2017

Kebersamaan yang Berarti-Lukas 24:13-35

 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 

Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 

Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" 

Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.


Pernahkah saudara menyadari bahwa sering anda bersama dengan keluarga atau sahabat dekat dalam satu bangku di mana pun, tapi saudara dan dia tidak saling terhubung satu sama lain? Pemandangan satu meja tapi sibuk dengan gadget masing-masing terjadi di mana-mana. Sampai-sampai ada satu komunitas persekutuan doa di Amerika yang mencantumkan salah aturan ketemunya adalah saling menjauhkan diri dari gadget. Salah satu iklan HP terkenal "menghubungkan orang" berubah sekarang jadi "memisahkan orang". Orang yang tidak punya HP akan tersingkir, dan dunia maya menggantikan senyuman nyata, rangkulan nyata, dan sentuhan nyata dalam dunia yang nyata. Bahkan ada satu film berkisah tentang seorang laki-laki yang punya kekasih di dunia komputer, dan ceweknya itu benar-benar komputer, bukan manusia. 
Ini tentu bukan murni karena kesalahan teknologi. Sebab dari awal, teknologi diciptakan untuk menolong dan bukan untuk merusak. Di tangan kita yang lemah dan berdosa ini, sisi manfaatnya berubah. Tabiat dosa manusia, membuat kita jadi hamba, dan menjadikan benda penguasa dalam hidup kita. Itu yang berusaha Yesus selesaikan ketika Dia ingin berurusan dengan semua dosa kita.
Syukur kepada Allah, kebangkitan Yesus terjadi dalam dunia yang nyata! Peristiwa kebangkitan-Nya diceritakan dalam Alkitab sebagai sesuatu yang sungguh terjadi, meski teknis di luar akal pikiran manusia dan tidak bisa dijelaskan oleh ilmu apa pun. Kenapa Kebangkitan Yesus menjadi nyata? Sebab Dia yang bangkit itu menyatakan diri-Nya pada murid-murid: dalam sebuah perjumpaan. Dalam sebuah kebersamaan. 
Bayangkan, dalam hidup setelah kematian, Yesus masih saja mencari dan berusaha hadir dalam kebersamaan bersama dengan orang-orang yang dikasihi-Nya. Misi-Nya bukan bagi diri-Nya sendiri, karena Dia sadar bahwa tubuh-Nya adalah anda dan saya. Maka, Dia mencari, menemukan, dan merangkul semua yang percaya pada-Nya dalam peristiwa-peristiwa pribadi, seperti yang dialami dua murid dari Emaus ini.
Suasana duka dan kehilangan dialami oleh banyak murid termasuk dua orang ini. Mereka kecewa tapi tetap saja tidak mengerti tentang apa yang terjadi dan kenapa ini itu harus terjadi. Sehingga bahkan ketika Yesus yang bangkit itu menyapa mereka, mereka tidak mengenali Dia. Ya, begitulah kita sebelum mengenal Yesus, tidak kenal siapa diri kita, tidak tahu apa yang terjadi, tidak mengerti keadaan, bertindak dan berpikir semaunya sendiri, kitalah yang menjadi pengendali atas semuanya. 
Tapi, Yesus tidak pernah menyerah pada siapa pun. Tidak sedikit pun. Meski orang menolak-Nya, membenci-Nya, bahkan salah paham dan meninggalkan-Nya, Dia tetap berusaha mencari dan menemukan hingga keselamatan itu hadir dalam diri setiap orang. Dan, karena itu Dia tetap bersama dua murid ini, menggali pemikiran mereka, menjadi sahabat dalam perjalanan mereka, dan meski dia dianggap asing pad awalnya, perjalanan mereka akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang seru dan menakjubkan juga mengubahkan.
Saudara, Paska selalu mengingatkan kita bahwa Yesus yang kita sembah sebagai Tuhan itu seseorang, bukan sesuatu. Kita tidak mengikut seseorang yang kata orang, tapi seseorang yang pernah hidup 2000 tahun lalu, dan kehidupan-Nya menimbulkan sebuah persekutuan yang sangat besar bernama Gereja. Jadi, amat sayang, jika kita bergereja saat ini, pulang dan pergi dari kebaktian sama saja, berdosa lagi dan lagi, lalu hanya tahu bahwa ibadah agama kita dilakukan karena diwariskan. Anda dan saya melewatkan sebuah perjumpaan yang berarti, sebuah perjumpaan yang sangat ingin Yesus lakukan dalam diri anda dan saya.
Kita tahu kemudian, kebersamaan yang Yesus hadirkan pada diri dua murid itu, pertanyaan-pertanyaanNya yang memancing, membuat mereka penasaran dan menumbuhkan proses belajar lebih lanjut. Mengikut Yesus bukan soal mendapatkan jawaban, melainkan soal menemukan hidup yang sebenarnya. Ketika mereka dikuasai Roh Kudus, dan mendapatkan peristiwa pengingatan melalui pemecahan roti, mereka sadar bahwa mereka berjumpa dengan Guru mereka yang sangat mereka kasihi itu. 
Pertanyaannya:
1. Apakah kita diubahkan Tuhan melalui Paska ini?
2. Apakah kita sudah menjadi sebuah komunitas di mana di dalamnya tiap orang diubahkan Tuhan?
Jika, kita terus saja memalingkan wajah kita dan tidak mau menoleh pada Tuhan. Sibuk dengan kepentingan kita sendiri, membiarkan hati dan hidup kita seperti tanah yang penuh ilalang, onak dan duri, maka hati kita akan terus menjadi keras. Saya kerap merasakan kemurahan Allah itu melalui hal-hal sederhana, dari wats ap rekan2 karyawan di sekretariat gereja. Dari pertolongan semua koster di gereja, dari pendampingan semua bapak-bapak yang melayani bersama saya hari ini, dari kehadiran bapak ibu, bahkan dari semua pelayanan yang terasa menjemukan, selalu saja ada orang-orang yang menjadi rekan seperjalanan yang menguatkan. Melalui itu, saya merasa Yesus hadir bersama saya, seperti dalam perjalanan di Emaus. 
Mari jadi komunitas yang mendengarkan. Yesus juga mendengarkan. Mari refleksikan perjalanan hidup kita bersama Yesus, pakai waktu-waktu kebaktian kita seoptimal mungkin. Wujudkan sebuah persekutuan dan kebersamaan yang menyentuh, menguatkan, dan membangun. JIka kita sudah diubah Kristus, maka ceritakan peristiwa luar biasa itu pada seisi rumah kita. Cintai mereka dan habiskan waktu berkualitas bersama mereka. Pandang mata mereka, dekap mereka hangat, syukuri keberadaan mereka, nikmati kebersamaan bersama mereka. Seorang pendeta senior yang menjadi bapa rohani saya, pernah berkata pada saya untuk menghabiskan waktu saya sedapat mungkin dengan keluarga saya, karena kelak jadi pendeta, hal-hal seperti itu sangat mahal. Itu terjadi sekarang ini, tapi saya bersyukur karena saya tetap punya mereka sebagai rekan seperjalanan yang setia. 
Keluar dari gedung gereja ini, anda akan dijumpai Yesus, anda akan berjumpa Dia, mungkin anda tidak menyadari itu. Tapi jangan terlalu lama larut dalam ke-akuan kita. Sadarilah Dia yang berjalan bersama anda. Dan undanglah Dia juga untuk masuk dalam hati anda, keluarga anda, pelayanan anda, dan gereja anda! Selamat berjalan bersama Yesus!