Saturday, January 21, 2017

BELAJAR MENGIKUT- YESUS- Matius 4:12-23 (PENGAKUAN IMAN-SIDI)

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Yesus memanggil murid-murid yang pertama
Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia  ." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. 
Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang
Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Satu pasangan muda baru saja mendapatkan anak pertama mereka. Malangnya, anak laki-laki kecil itu lahir dengan sangat cacat, tanpa kedua tangannya. Hanya dua batang kecil di bahu. Ayah anak itu sangat putus asa, mengutuk Tuhan dan nasibnya, dan dokter karena telah membiarkan anak itu hidup. Ayah itu hanya melihat sisi gelapnya saja. Tapi sikap ibunya pantas dicatat. Dia memandang anaknya dan berkata, "Anak yang malang. Dia akan membutuhkan banyak bantuan. Syukur kepada Tuhan kita mampu memberinya,"...benih telah jatuh ke tanah yang baik. Apakah benih akan tumbuh atau tidak tergantung pada kita, tanahnya.

Karenanya, apakah kemudian, SIDI memberi dampak dan pengaruh dalam hidup seorang pengikut Kristus, tidaklah tergantung dari seberapa lama dan seberapa cerdas dia dalam menjawab pertanyaan berhubungan dengan Alkitab, tapi, dilihat dari sikap hidup yang dimunculkannya kelak sebagai anggota jemaat yang dewasa. Sidi, mengingatkan kita: saudara-saudara yang akan mengaku imannya, saat ini, dan anda juga saya yang sudah mengaku sebelumnya, bahwa pertanyaan: apakah hati kita ini tanah yang baik, itu harus dijawab?

Matius membuka cerita pelayanan pekabaran injil pertama yang dilakukan Yesus dengan sebuah kabar duka bahwa Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus dengan misi Injil yang sama dengan Dia, harus ditangkap dan masuk penjara karena tugas pemberitaan Injilnya. Meski demikian, Yesus tidak gentar. Ya, dia berani menghadapi segala konsekuensi, karena sadar betul, itu yang harus dia hadapi. 

Tahukah saudara, konsekuensi mengikut Yesus? 
Dampak pertama bisa dilihat dari seruan Yesus untuk bertobat! Mengikut Yesus berarti menuntut sebuah pemalingan diri dari keinginan diri sendiri dan kenikmatan kita yang selama ini, kita pegang erat-erat. Selanjutnya, ada banyak pilihan, dan seringkali pilihan paling bijak justru ada di jalan yang paling sempit. Makin sering anda memilih yang berkenan pada Tuhan, makin kita dekat dengan jalan Nya. 

Tidak ada standar ganda mengikut Yesus. Sederhana saja, pergi tinggalkan apa yang ada padamu saat ini, yang menghalangi engkau ikut Yesus, lalu ikut Dia. Guru zaman sekarang, meski ke mana-mana mengajar, tetap balik ke rumah sendiri dan punya urusan sendiri, hanya di sekolah bertemu muridnya. Tapi di zaman Yesus, seorang Guru akan diikuti muridnya ke mana ia pergi. Ia akan makan dan tidur bersama muridnya. Ia akan menuntut ketaatan mutlak dari para murid dan bertanggungjawab pada hidup murid, demikian juga murid harus bersedia ikut ke mana pun Gurunya pergi. Itulah pola hubungan guru murid. 

Ketika Yesus memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes, Matius menceritakan dengan singkat awal pemanggilan itu. Tanpa basa-basi. Nunggu ini itulah, sampai ini itulah, dan lainnya. Mereka berempat langsung meninggalkan jala mereka dan mengikut Yesus. Mereka meninggalkan hidup yang lama lalu mengikut apa yang Yesus kerjakan.

Karenanya, perubahan radikal itu bisa saja terjadi. Ketika itu terjadi, mari dukung. Kalau jadi baik, ayo semangati, jangan direndahkan, ya, besok juga mundur lagi! Nanti lho, liat besok! Itu artinya senang liat orang susah, dan susah liat orang senang. Mari belajar jadi komunitas yang selalu membangun dan bukan menjatuhkan!

Dan, kita yang masih berproses dengan tanah kita masing-masing, termasuk saudara-saudara yang percaya, mengaku dan berjanji, tapi tanah anda, hanya anda dan Tuhan yang tahu, silakan berproses dengan hidup Kristen anda setelah ini. 

Ada banyak pandangan orang yang salah di dunia ini. Jadi, bandel sesekali itu salah. Jadi beriman itu gak keren. Keren malah yang makin memberontak. Seorang pendeta besar di Amerika Bill Graham pernah berkata, " Memang besar resiko jadi orang baik, tapi akan lebih banyak lagi resiko ditanggung jika jadi orang bebal!" Jadi, meski mengikut Yesus dan diperbaiki Yesus, bikin anda susah. Masih lebih susah lagi hidup anda, ketika anda tidak bersedia dibentuk Yesus. Yakinkan, itu!

Berbekal dengan kisah ini, mari pelajari bahwa Kapernaum meski juga tidak sempurna, dipilih Yesus pertama sebagai tempat pekerjaanNya, karena masih ada yang mau mendengar Dia. Dia akan datang dan memerintah sebagai Raja, di hati orang-orang yang menerimaNya sebagai raja dan bersedia diperintah oleh Dia. 

Mari berproses dengan jalan hidup kita masing-masing! Pelayanan yang anda kerjakan akan membuktikan, seperti apa tanah anda. Hidup yang kita jalani tiap hari akan menunjukkan seperti apa tanah kita. Keluarga yang kita jadikan tempat bergumul tapi terus kita kasihi akan menunjukkan seperti apa tanah kita. Mari menerima Yesus dan segala kebenaran dari Dia.

Saturday, January 14, 2017

"TAAT MENUJU BERKAT" - BILANGAN 14:1-24 (PENEGUHAN MAJELIS JEMAAT DAN PPJ)

Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir? Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir. Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita,maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. " 

Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel. TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka. " 

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun. 

Jadi sekarang, biarlah kiranya kekuatan TUHAN itu nyata kebesarannya, seperti yang Kaufirmankan:TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat. Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari. "

Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu. Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi: Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku, pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka! Semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya. Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. 

St. Fransiskus bercerita kepada Bruder Leo sebagai berikut: "Suatu kali ada seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun lamanya berusaha untuk melihat Tuhan, tetapi selalu saja tidak berhasil. Sepertinya ada sesuatu yang selalu menghalanginya. Lalu pertapa malang ini mulai menangis, berteriak-teriak, dan memohon-tapi juga sia-sia. Dia tidak bisa mengerti hal apa yang mencegahnya melihat Tuhan"

Suatu pagi, dia melompat dari tempat tidur, sangat gembira sekali. Dia sudah menemukan apa yang selama ini menjadi penghalang baginya! Penghalang itu adalah sebuah kendi yang penuh dengan hiasan, satu-satunya benda yang tetap dipertahankannya sebagai miliknya, dan ia begitu sayang pada kendi itu. Tak ada sesuatu lain yang begitu dicintainya selain kendi penuh hiasan itu. Ia mengangkat kendi itu, dan dengan satu kali hempasan, kendi itu hancur berkeping-keping.

"Kemudian, sambil mengangkat pandangan matanya, dia berdoa. Ketika itulah dia baru bisa melihat Tuhan untuk pertama kalinya."

Haruskah kita, sebagai manusia ada dalam kondisi penasaran dan terbangun seperti pertapa tadi, untuk bisa melihat Tuhan dalam hidup kita? Mengapa ada orang yang mudah sekali melihat Tuhan, dan sebagian di antaranya sangat sulit melihat Tuhan dalam hidup mereka?

Jawabannya, mungkin juga seperti cerita di atas, bukan hanya satu, melainkan banyak kendi-kendi dalam hidup kita yang sangat kita cintai. Hal-hal yang ngakunya, tidak kita cintai dan kita banggakan tapi sebenarnya malas kita hancurkan demi melihat Tuhan. Dan, semua orang punya: cinta uang, cinta dihormati, cinta disayangi, cinta diakui, dan cinta-cinta lain yang sama levelnya seperti cinta pada sebuah kendi.

Penyakit ini juga sama seperti yang dialami oleh Israel. Mereka cinta pada kenyamanan mereka, Mereka sangat mengagungkan kemewahan dan hidup dalam kemapanan yang ada di Mesir. Kendi mereka ini mereka bawa dalam otak mereka ke mana-mana sehingga mata mereka tidak bisa melihat perbuatan besar yang telah Allah kerjakan dalam hidup mereka, dan tujuan lebih besar Allah bagi mereka. Percayalah! Ada begitu banyak orang Kristen yang hidup sebagai pengikut Kristus tanpa tahu tujuan besar Allah dalam hidup mereka.

Namun, Kaleb dan Yosua melihat tujuan besar itu, dan mereka memegang perkataan Musa dan perkataan Allah itu kuat-kuat dalam hati mereka. Ingatkan saudara? dari sekian banyak kalimat orang yang pernah dikatakan mereka pada saudara, mana yang paling saudara ingat? Pasti tidak semua. Bagi Kaleb dan Yosua, kata-kata dari Allah adalah janji yang sangat berharga. Lebih berharga daripada kendi kepunyaan mereka sendiri. Dan, mereka memegangnya erat-erat dalam hidup mereka.

Bukan karena Allah tidak mau bersabar. Tapi, dia memberi kesempatan sampai 10 kali, bangsa itu terus menegarkan tengkuk untuk kemudian bertobat. Tapi, pertobatan bukanlah barang murahan. Suatu kali, Allah akan sungguh-sungguh mengoreksi hidup kita, supaya hidup kita ini makin berkenan di hadapan Dia. Karenanya, ada hukuman yang tetap diberikan Allah sebagai peringatan serius bahwa kekudusan dan ketaatan itu penting. Dan, itulah sumber dari segala berkat.

Jadi, siapkah kita berjalan bersama Yesus? Atau, kita hanya menjadikan Yesus sebagai kartu jimat, yang kepadaNya kita berseru ketika meminta pertolongan, tapi ketika Dia meminta kita taat penuh dan mengoreksi hidup kita, kita menolak? Atau, kita hanya sekadar melambai saja pada Yesus, menemui Dia sebentar di gereja, lalu say dadah, untuk kembali lagi minggu depan? Atau, kita meninggalkan Dia, ketika hidup semakin berat, karena kita tidak percaya pada Dia dalam melewati masa sulit dan tekanan? Ini harus anda jawab.

Juga, harus dijawab oleh para pelayan, anggota Majelis dan PPJ yang akan diteguhkan pada hari ini. Peneguhan merupakan pengesahan dari pelayanan dalam jabatan GKP. Jabatan pelayanan apa pun dalam GKP selalu diaklamasikan dalam bentuk persekutuan, karena kita diberi wewenang oleh Allah dalam Gereja. 

Untuk memegang teguh amanah ini, maka diperlukan proses. Proses yang tidak satu hari, tapi untuk selamanya. Anggota majelis jemaat, baik yang teguh sampai akhir atau pun berguguran dalam proses, juga dikasihi Allah sampai akhir. Biarlah dinamika yang saudara alami dalam pelayanan memberi pembelajaran berharga dalam proses beriman dan percaya pada Tuhan. Dan, yang masih dipercaya, lakukan dengan sebuah keyakinan iman, bahwa Tuhan akan menyediakan berkat dan tujuan besar, jika anda tetap setia. itu yang diberikannya pada Kaleb dan Yosua, juga pada tiap orang percaya. Dan, bagi yang baru mulai, saya mengajak untuk mari berjalan bersama Yesus. Hanya dengan anda percaya bahwa pimpinan Allah ada dalam semua ini, anda akan berhenti merasa dikerjai. 

Dan, bagi jemaat, saudara-saudara kita, bukanlah manusia sempurna, melainkan sama seperti anda semua, sedang berusaha melihat kendi-kendi mereka sendiri, dan mendorong dirinya sendiri untuk memecahkannya demi melihat Allah. Sama seperti anda dan saya, kita semua bertanggungjawab dengan iman kita sendiri, jangan ada yang merasa lebih dari orang lain. Mari kita benahi hidup dan tanggungjawab kita masing-masing. Lakukan tugas panggilan, dalam keyakinan bahwa Tuhan menghendaki, dan Tuhan akan memberkati langkah pelayanan yang telah saudara tempuh. 

Tuhan memampukan.

Saturday, January 7, 2017

LIHATLAH PADA BINTANG-BINTANG- KEJADIAN 15:1-6

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar . Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu. Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran 

Seorang penulis bernama Bert Balling pernah bercerita, bahwa pada suatu malam di musim 
panas, temannya yang seorang ateis menaiki atap rumahnya dan memandang bintang-bintang di langit dengan alat teleskop yang telah dipasangnya. Ia senang memandang bulan, planet dan gugusan bintang-bintang di langit selama berjam-jam. Suatu kali, dia berkata pada Bert, " Teman, sungguh luar biasa, Semua benda langit ini bergerak begitu teratur. Dengan teleskop ini, saya bisa melihat beberapa titik yang bagus di langit. Tapi, saya tidak pernah melihat Allah...seandainya Ia ada, saya mungkin sudah bisa melihat-Nya..." Bert gantian melihat pemandangan itu dengan teleskop yang sama dan berkata, "Saya juga tidak bisa melihat Allah...tapi mungkin ini adalah kesalahan teleskop ini!"

Kehidupan ini, di mana di dalamnya masalah dan tekanan muncul, seringkali membuat kita terus tertunduk ke bawah. Euforia tahun baru yang sudah usai, karena 2017 sudah tidak baru lagi, ditambah dengan tenggat pekerjaan dan harapan yang belum terkabul, bisa saja membuat kepala kita selalu ke bawah, tertekan, dan mungkin membuat kita jenuh dan putus asa. 

Itulah yang membuat kita tidak bisa melihat bintang-bintang sebagai tanda janji Allah dalam hidup kita. Dan, karena Allah tidak ingin Abram larut dalam sepi dan putus asa, maka dia meminta Abram keluar dari tenda dan berjalan keluar untuk memandang bintang-bintang. 

Sebagai orang kaya dengan harta berlimpah, kekuatiran utama Abram adalah penerus bagi dirinya dan semua kekayaannya. Allah telah berjanji, jika dia bersedia keluar dari Us menuju tanah yang dijanjikan maka Allah akan memberkati keturunan Abram. Tapi, sampai dia berusia 90 tahun, anak yang dijanjikan akan lahir dari rahim Sarai istrinya itu tidak kunjung hadir. Maka, sahabat Allah ini mulai gelisah, tidurnya mulai tak nyenyak, dia mulai kuatir dan murung. Dia dan Sarai tahu bahwa Allah telah berjanji, tapi batas kesabarannya kini mulai diuji.


Menarik bahwa kitab Kejadian menjelaskan cara Allah berpikir dan bertindak dengan sangat manusawi. Sejak dari awal panggilan Abram, kita bisa melihat betapa Allah sangat percaya pada Abram. Dia berkata-kata pada manusia lemah itu. Dan, sekarang pun, Allah tahu kecemasan Abram dan kembali menyapanya. Dia memulainya dengan kalimat, Jangan takut! Allah membiarkan Abram mendaki gunung yang terjal dan susah, tapi Dia selalu memulai percakapanNya bersama Abram dengan jangan takut!


Kalimat jangan takut dikatakan 365 kali. Kalimat yang datangnya dari Allah untuk menenangkan hidup kita ini, cukup dikatakan untuk tiap-tiap hari. Sehingga kapan pun anda dan saya merasa takut, kita bisa yakin bahwa Allah akan selalu meyakinkan dan mendampingi kita, apa pun yang terjadi. Dalam kisah ini, Abram butuh keyakinan, dan kembali Allah menuntunnya untuk keluar dari tenda dan menatap langit yang luas, di sanalah dia berjumpa dengan Allah dan ingat lagi janji Tuhan.


Coba bayangkan, apa yang terjadi, seandainya malam itu, Allah lebih memilih nyumput saja di balik selimut tebalnya sambil berguling-guling dan menutup dirinya? Pastinya, dia sungguh tidak akan bisa tidur semalaman, asam lambungnya kumat, dan bisa jadi, stress akan melanda. Setelah itu, kita baca, Abram bisa tidur dengan nyenyak sebelum ketakutannya berikutnya soal keturunannya nanti datang lagi, tapi lagi-lagi Allah meyakinkan dan menenangkan hatinya.

Saudaraku, hari-hari kita adalah seperti misteri tanpa batas. Ada begjitu banyak hal yang kita tahu, rencana kita, semua ilmu yang kita pelajari dalam dunia ini: melalui berbagai informasi dan sebagainya. Tapi, selebihnya, lebih banyak tidak kita ketahui, lebih banyak semua misteri itu saudara dapat di dalam gereja dengan segala perayaan hidup di dalamnya: ketika seorang bayi lahir, sehat atau pun sakit, siapa yang lebih dulu meninggal, meninggal dengan cara apa, siapa yang terpilih menjadi anggota majelis, ke mana kita akan pindah rumah, apa yang akan kita temui selepas berkebaktian, dan lainnya. Tuhan memberi kita hal-hal untuk kita tahu, tapi lebih banyak yang tidak kita tahu.


Demikian juga, dengan informasi Allah pada Abram. Ada banyak alasan bagi Abram untuk meninggalkan Allah. Allah hanya hadir dalam bentuk suara, dan karena itu, bisa saja orang menganggap Abram orang tak waras. Dia mendengar suara Allah secara pribadi, dalam perjumpaan secara pribadi. Kita juga kerap mendengarkan Tuhan yang berkata, saat kita secara pribadi bersama Dia. Hanya dalam waktu pribadi itu, ada ketenangan untuk bisa mendengar suara Tuhan. Dan, Abram memilih untuk percaya, dan meski sulit untuk tetap percaya, dia memutuskan tetap percaya. Abram percaya kepada Tuhan dan karena itu Tuhan menerima dia sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya. 


Beberapa waktu lalu, dalam kunjungan ke salah seorang ODHA di Tetilade Selatan, kepulauan Tahuna, Sangir Talaud, saya ditantang mendaki sebuah bukit curam berkemiringan 45 derajat dengan jarak tempuh hampir satu jam ke atas. Yang lainnya bisa sampai dalam waktu satu jam, tahukah saudara berapa lama saya menempuh bukit itu? Satu setengah jam, dan hampir pingsan. Saya tidak pernah ngos-ngosan kehilangan nafas seperti itu. Saya menyerah bahkan sejak rit pertama dan minta rombongan meninggalkan saya. Tapi, salah satu pendeta GMIST yang lebih tua, mendorong terus saya naik dan menunggui saya yang kelelahan dan selalu jatuh terduduk selesai mendaki satu rit. Saudara tahu, apa yang dia katakan untuk memacu saya? "Ayo, sedikit lagi, satu rit lagi! tinggal satu rit lagi!" Dan, meski kemudian saya berjumpa dengan banyak rit di depan saya, dengan tersengal, saya akhirnya berhasil sampai di puncak. Pengalaman itu bukan pengalaman biasa buat saya karena saya merasa saat itu, Allah seperti kepada Abram ingin saya menatap ke atas untuk melihat bahwa sebuah tujuan bisa dicapai dan saya tidak sendirian.


Karena itu, saudara, meski kita tidak tahu apa yang akan kita alami di tahun ini. Siapa yang masih akan bersama kita. Apa kita akan melewatinya sampai akhir tahun. Atau hal-hal baru yang harus kita jalani, mari lakukan dalam percaya. Percaya-nya Abram adalah percaya yang konsisten dan persisten: tekun dan gigih. Meski jatuh, bangkit lagi. Meski lemah, berharap dan memohon kekuatan. Meski terluka, mau memulihkan dan bangkit lagi. Meski takut, tapi berani mencoba. Sebab, tanpa tindakan dengan kualitas yang seperti itu, tidak mungkin Abram bisa menekuni hidup sebagai Bapa yang dipelihara perjanjiannya bersama Allah?



Lagu “Tak ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok” (PKJ 241) mungkin merupakan salah satu lagu yang akrab bahkan menjadi favorit kita. Ira F. Stanphill menulis lagu itu pada 1950 saat hidup pernikahannya sedang mengalami kehancuran. Saat itu, ia merasa terluka dan khawatir akan masa depannya. Namun, lagu itu mengungkapkan betapa ia memercayakan dirinya kepada Tuhan. Sekalipun masa depan yang akan ditempuh tidaklah diketahuinya dengan pasti, ia yakin bahwa Tuhan akan tetap menyertai dan memimpin hidupnya.


Tuhan memandu dan menyertai kita dalam segala kecemasan dan kekuatiran kita. Dongakan kepala kita, dan lihatlah bintang-bintang lambang perjanjian Allah bersama Abram. Dalam segala keindahan ciptaan itu, kiranya kita dikuatkan dan ditenangkan. Malah, jika mungkin, ekspresi iman itu, bisa diungkapkan dengan sebuah doa dan kekuatan yang dibagikan Stanphil dengan lagunya ciptaannya. Immanuel telah datang! Allah menyertai kita! Gusti nyarengan!