Thursday, February 9, 2017

CREATIO ET RELATIO- Roma 8:26-39

Begitu juga Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. Maka Allah, yang mengetahui isi hati manusia, mengerti kemauan Roh itu; sebab Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah, dan sesuai dengan kemauan Allah. Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya. 

Mereka yang telah dipilih oleh Allah, telah juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Dengan demikian Anak itu menjadi yang pertama di antara banyak saudara-saudara. Begitulah Allah memanggil mereka yang sudah ditentukan-Nya terlebih dahulu; dan mereka yang dipanggil-Nya itu, dimungkinkan-Nya berbaik kembali dengan Dia. Dan mereka yang dimungkinkan-Nya berbaik kembali dengan Allah, mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Apakah yang dapat dikatakan sekarang tentang semuanya itu? Kalau Allah memihak pada kita, siapakah dapat melawan kita? Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya?

Siapakah yang dapat menggugat kita umat yang dipilih oleh Allah, kalau Allah sendiri menyatakan bahwa kita tidak bersalah? Apakah ada orang yang mau menyalahkan kita? Kristus Yesus nanti yang membela kita! Dialah yang sudah mati, atau malah Dialah yang sudah dihidupkan kembali dari kematian dan berada pada Allah di tempat yang berkuasa. Apakah ada yang dapat mencegah Kristus mengasihi kita? Dapatkah kesusahan mencegahnya, atau kesukaran, atau penganiayaan, atau kelaparan, atau kemiskinan, atau bahaya, ataupun kematian? 

Dalam Alkitab tertulis begini,“Sepanjang hari kami hidup di dalam bahaya maut karena Engkau. Kami diperlakukan seperti domba yang mau disembelih.” Tidak! Malah di dalam semuanya itu kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh Dia yang mengasihi kita! Sebab saya percaya sekali bahwa di seluruh dunia, baik kematian maupun kehidupan, baik malaikat maupun penguasa, baik ancaman-ancaman sekarang ini maupun ancaman-ancaman di masa yang akan datang atau kekuatan-kekuatan lainnya; baik hal-hal yang di langit, maupun hal-hal yang di dalam bumi atau apa saja yang lain, semuanya tidak dapat mencegah Allah mengasihi kita, seperti yang sudah ditunjukkan-Nya melalui Kristus Yesus, Tuhan kita.

Saya masih ingat, dalam pembelajaran geografi, meski mempelajari bagian-bagian bumi dan langit, tetap saja pembelajaran dilakukan menyeluruh. Guru saya memakai globe untuk menjelaskan bagian langit dan bagaimana kegunaannya, tidak pernah terpisah dari kebaikan bagi bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika semuanya terpisah? 
Upsidedown, adalah sebuah film yang menggambarkan terpisahnya dunia atas dan bawah. Sungguh mengerikan, dan menyakitkan.

Banyak teolog memakai konsep perikoresis (= Yunani, tidak terpisahkan) untuk menggambarkan hubungan Allah Tritunggal yang juga dalam relasi bersama dunia tidak terpisahkan. Ini tentu saja, sangat berbeda dengan dualisme Stoik yang berkembang dalam beberapa komunitas Perjanjian Baru yang memisahkan tubuh dan roh, juga memisahkan dunia (yang telah diciptakan dengan sangat baik oleh Allah meski kemudian dirusak dosa), dengan kerajaan Allah. Konsep creation et relatio juga diusung Martin Luther ketika dia bicara bagaimana keselamatan selalu bicara soal manusia yang berbaikan kembali bukan hanya bersama dengan Allah tapi juga dengan seisi ciptaan.

Bagaimana dengan kita?
Apa Gereja memisahkan kita satu sama lain? Teorinya tidak. Sakramen Perjamuan Kudus tidak memisahkan kita melainkan menyatukan kita, orang berdosa yang dipanggil untuk bertobat, saling mengampuni dan saling mendoakan. Kenyataannya, ritual yang tidak dipahami dan iman yang kurang diperdalam, membuat kita kurang bertumbuh. Kemudian, kita sering terjebak pada pengkotak-kotakan. 

Ketika Gereja tidak bisa menghubungkan dirinya dengan Injil yang didengar dan dunia di mana dia ada, maka dia akan gagap dan gugup dalam menyatakan kesaksiannya. Itu mesti selalu disadari dan direspon oleh Gereja dengan belajar terus memahami kehendak Allah dan melakukan dalam hidup keseharian. 

Tiap komunitas punya cara sendiri menyatakan persekutuan ini: ada komunitas yang selalu mengawali kerja seharian dengan doa pagi yang isinya kontekstual dengan kerja yang mereka awali saat itu. Ada juga predestinasi Calvin yang kemudian menjadi dasar etos kerja dan ekonomi Kapitalisme Prostestan di banyak negara Eropa yang meski tidak sempurna dalam pergerakkannya kemudian, tetap memberi dasar bagi teologi-kristologi unitarian-trinitarian.

Nah, apakah kita sungguh bisa menghindarkan diri dari jebakan memisahkan segalanya dalam hidup kita? Apa kerja sehari-hari dan kebaktian gerejawi terpisah? Apakah kita hanya harus menjaga perkataan di gereja, dan bisa berkata kotor, kasar dan jorok di luar gereja? Apakah jabatan kependetaan bukan jabatan yang mesti dihidupi dalam segala situasi, dan bukan hanya di atas mimbar saja? Mestinya ketika kita berkata bahwa kekristenan kita adalah dalam dan pada hubungan bersama yang lain, tidak.

Alangkah indahnya, bahwa surat Roma yang sarat dengan muatan hubungan yang diperbaiki bersama Allah, rekonsiliasi, pengampunan dan keselamatan melalui iman, mengingatkan kita untuk terus menjadi alat pendamaian itu dalam apa pun dan bagaimana pun, bersama apa pun. Keselamatan tidak terlepas dari apa yang kita pikir, katakan, dan lakukan. Keselamatan tidak terpisah dari uang di kantong, di ATM, di rekening gereja, dan di mana pun. Kasih Tuhan tidak berhenti ketika kita ada di surga atau masih di dunia, Dia tidak dapat dipisahkan dari kita, karena Dia tidak bisa dan sama sekali tidak ingin terpisah dari kita. Lalu, mengapa kita masih membiarkan diri ini terasing dari Dia dan sesama?

Maka, panggilan keselamatan adalah panggilan berbaikan, panggilan untuk memberi diri diperdamaikan. Ini adalah panggilan rekonsiliatif, panggilan yang memulihkan dan menjadikan baik kembali. Yang baru, menurut kitab Wahyu bukan berarti membuang yang lama, melainkan memulihkannya dengan kekuatan, semangat, dan kasih. Inilah panggilan Allah bagi Gereja dan untuk Gereja.

Apakah dengan pemahaman ini, kita masih abai dengan segala hal dalam hidup dan dunia ini yang mesti kita perbaiki? 
Jangan! Kita tidak diselamatkan untuk menjadi seperti itu!

Saturday, February 4, 2017

BEKAS LUKA TANDA PENGALAMAN- YESAYA 58:1-9

" Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.." (Yesaya 58:6)


Anda semua pasti punya bekas luka. Ada yang diakibatkan karena jatuh, atau berkelahi, atau apa pun. Bekas luka itu pasti mengingatkan anda akan kenangan yang menyertainya, dan bisa jadi, pengalaman itu mengubah hidup kita.

Maksud hati Allah bukan untuk mengguratkan bekas luka pada Israel. Bukan berarti, Dia sengaja membiarkan Israel terluka. Tapi Dia membebaskan Israel memilih keputusannya, meski berulangkali Dia mengingatkan melalui Yesaya. Jika akhirnya, Israel kena hukuman, dan berbekas luka, itu menjadi pengingat pengalaman.

Kadang, belajar itu perlu banyak waktu, atau hanya sebentar saja. Ada orang yang perlu diajar berulang-ulang, ada yang satu kali langsung menurut dan memahami. Israel termasuk yang pertama. Mereka mudah goyah, begitu rapuh, sulit sekali menerima perkataan Allah, dan Allah sempat tak habis pikir, bagaimana lagi mengajar mereka.
Ini semua dikarenakan banyak hal: mereka merasa mereka terpilih sejak awal. Mereka merasa mereka paling super di antara bangsa lain. Mereka merasa pemberlakuan hukum adalah segalanya. Dan, kemudian, si jahat menggoda, bahkan di dalam kesalehan. Justru mereka menjadi saleh secara ritual, tapi jahat secara sosial.

Menjadi terlalu berlebihan di dua kutub itu, saudara, tentu saja bukan hal bijak. Jika kita lebih mementingkan kebaktian dari segalanya, sampai membuat tanggungjawab sosial kita terabaikan, itu tidak seimbang. Ini yang ditegur Allah melalui Yesaya. Mereka sangat tahu berkebaktian, dengan segala tata kramanya, tapi tidak sadar, apa yang sebenarnya Allah inginkan untuk mereka ubah dari hidup mereka sendiri. Meski, tentu saja, sibuk dengan urusan sosial, dan lupa mendasarinya dengan Firman, juga bukan hal baik, Yesaya menyoroti soal kesalehan sosial dalam perikop ini.

Blog saya, diberi judul, hidup di antara dua dunia. Bukan berarti saya arwah gentayangan lho! Tapi, saya mau mengingatkan diri, bahwa iman sesungguhnya selalu dilihat dari dua sisi: kekekalan dan kesementaraan, yang atas dan bawah, yang ini dan itu, menyeluruh. Iman dan perbuatan.

Karena itu, Firman yang kita dengar di Gereja, harusnya, bagusnya, membuat kita gelisah: apakah kita bisa melakukannya di rumah kita? Pada keluarga kita? Pada gelandangan yang ada di depan gereja? Pada syafaat kita yang panjang-panjang? Pada mereka yang butuh bantuan segera? Pada saudaramu yang membutuhkan, siapa pun itu?

Ada banyak bekas luka bisa mengingatkan kita untuk berubah jadi lebih baik, atau lebih buruk, tergantung dari keras dan lembutnya hati. Tapi, pemulihan akan datang dari hati yang lembut. Hati yang mau bertobat, dan keinginan untuk pada akhirnya mengasihi dengan kerelaan.

Orang Kristen selalu bertanya: bagaimana sebuah doa dijawab? Apa syaratnya? Apa mesti ada sesembahan? Memang Tuhan jin lampu aladin? Apa mesti kita menyogoknya? Apa kita mesti menyiksa diri? Tapi, Philip Yancey, mengatakan bahwa doa adalah cara kita membenahi diri kita sehingga siap menerima kehendak Allah dalam hidup. Yang salah bukan ritual doa kita. Yang sering salah kaprah adalah karena kita sibuk dengan segala rencana dan keinginan sendiri, sehingga lupa bahwa bagaimana pun, kehendak Tuhan yang akan terjadi. Karena itu, doa menjadi jawaban, bukan karena doa adalah jampi penuh kuasa, melainkan karena ketika kita berdoa sesuai apa yang Tuhan mau, kuasaNya akan selaras dengan jalannya dunia ini.

Agustinus sang Bapa Gereja mengatakan bahwa doa bukan mengubah segala sesuatu, doa lebih dulu mengubah kita. Cara berdoa penting: sehingga berdoalah sekuat apa pun seperti kita hanya bergantung pada Allah, sekaligus, berkekerjalah seperti banyak orang bergantung pada karya kita. Tidak ada dualisme dalam ibadah dan sikap menurut Agustinus. 

Orang yang berdoa dengan sungguh, maka pribadinya akan berubah sehingga kita bisa menyelami Allah seperti Yesus menyelami Bapa-Nya. Doa membuat kita sabar. Doa membuat kita tekun. Doa membuat kita hening. Doa membuat kita pemurah. Doa menenangkan. Kalau anda tidak tenang ketika berdoa, berarti ada yang salah dengan pemahaman kita tentang doa, seperti Israel salah kaprah dengan kebaktian dan puasa mereka.

Marilah kita saling introspeksi dan belajar mengarahkan hati pada Tuhan yang ingin sekali mengarahkan kita pada dunia, yang dikasihiNya untuk dijadikan ladang pemberitaan kasih dan kerajaanNya. Jangan berhenti berbuat baik di mana pun dan kapan pun, karena itulah doa anda. Dan jangan berhenti berdoa dan beribadah, agar tidak sembarangan bersikap. Jaga kualitas dan kuantitas keduanya. Dan, mulailah dari lingkungan terdekat! Hidup sendiri dan rumah anda!

Selamat epifani!

Saturday, January 21, 2017

BELAJAR MENGIKUT- YESUS- Matius 4:12-23 (PENGAKUAN IMAN-SIDI)

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Yesus memanggil murid-murid yang pertama
Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia  ." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. 
Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang
Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Satu pasangan muda baru saja mendapatkan anak pertama mereka. Malangnya, anak laki-laki kecil itu lahir dengan sangat cacat, tanpa kedua tangannya. Hanya dua batang kecil di bahu. Ayah anak itu sangat putus asa, mengutuk Tuhan dan nasibnya, dan dokter karena telah membiarkan anak itu hidup. Ayah itu hanya melihat sisi gelapnya saja. Tapi sikap ibunya pantas dicatat. Dia memandang anaknya dan berkata, "Anak yang malang. Dia akan membutuhkan banyak bantuan. Syukur kepada Tuhan kita mampu memberinya,"...benih telah jatuh ke tanah yang baik. Apakah benih akan tumbuh atau tidak tergantung pada kita, tanahnya.


Karenanya, apakah kemudian, SIDI memberi dampak dan pengaruh dalam hidup seorang pengikut Kristus, tidaklah tergantung dari seberapa lama dan seberapa cerdas dia dalam menjawab pertanyaan berhubungan dengan Alkitab, tapi, dilihat dari sikap hidup yang dimunculkannya kelak sebagai anggota jemaat yang dewasa. Sidi, mengingatkan kita: saudara-saudara yang akan mengaku imannya, saat ini, dan anda juga saya yang sudah mengaku sebelumnya, bahwa pertanyaan: apakah hati kita ini tanah yang baik, itu harus dijawab?


Matius membuka cerita pelayanan pekabaran injil pertama yang dilakukan Yesus dengan sebuah kabar duka bahwa Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus dengan misi Injil yang sama dengan Dia, harus ditangkap dan masuk penjara karena tugas pemberitaan Injilnya. Meski demikian, Yesus tidak gentar. Ya, dia berani menghadapi segala konsekuensi, karena sadar betul, itu yang harus dia hadapi. 


Tahukah saudara, konsekuensi mengikut Yesus? 

Dampak pertama bisa dilihat dari seruan Yesus untuk bertobat! Mengikut Yesus berarti menuntut sebuah pemalingan diri dari keinginan diri sendiri dan kenikmatan kita yang selama ini, kita pegang erat-erat. Selanjutnya, ada banyak pilihan, dan seringkali pilihan paling bijak justru ada di jalan yang paling sempit. Makin sering anda memilih yang berkenan pada Tuhan, makin kita dekat dengan jalan Nya. 

Tidak ada standar ganda mengikut Yesus. Sederhana saja, pergi tinggalkan apa yang ada padamu saat ini, yang menghalangi engkau ikut Yesus, lalu ikut Dia. Guru zaman sekarang, meski ke mana-mana mengajar, tetap balik ke rumah sendiri dan punya urusan sendiri, hanya di sekolah bertemu muridnya. Tapi di zaman Yesus, seorang Guru akan diikuti muridnya ke mana ia pergi. Ia akan makan dan tidur bersama muridnya. Ia akan menuntut ketaatan mutlak dari para murid dan bertanggungjawab pada hidup murid, demikian juga murid harus bersedia ikut ke mana pun Gurunya pergi. Itulah pola hubungan guru murid. 


Ketika Yesus memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes, Matius menceritakan dengan singkat awal pemanggilan itu. Tanpa basa-basi. Nunggu ini itulah, sampai ini itulah, dan lainnya. Mereka berempat langsung meninggalkan jala mereka dan mengikut Yesus. Mereka meninggalkan hidup yang lama lalu mengikut apa yang Yesus kerjakan.


Karenanya, perubahan radikal itu bisa saja terjadi. Ketika itu terjadi, mari dukung. Kalau jadi baik, ayo semangati, jangan direndahkan, ya, besok juga mundur lagi! Nanti lho, liat besok! Itu artinya senang liat orang susah, dan susah liat orang senang. Mari belajar jadi komunitas yang selalu membangun dan bukan menjatuhkan!


Dan, kita yang masih berproses dengan tanah kita masing-masing, termasuk saudara-saudara yang percaya, mengaku dan berjanji, tapi tanah anda, hanya anda dan Tuhan yang tahu, silakan berproses dengan hidup Kristen anda setelah ini. 


Ada banyak pandangan orang yang salah di dunia ini. Jadi, bandel sesekali itu salah. Jadi beriman itu gak keren. Keren malah yang makin memberontak. Seorang pendeta besar di Amerika Bill Graham pernah berkata, " Memang besar resiko jadi orang baik, tapi akan lebih banyak lagi resiko ditanggung jika jadi orang bebal!" Jadi, meski mengikut Yesus dan diperbaiki Yesus, bikin anda susah. Masih lebih susah lagi hidup anda, ketika anda tidak bersedia dibentuk Yesus. Yakinkan, itu!


Berbekal dengan kisah ini, mari pelajari bahwa Kapernaum meski juga tidak sempurna, dipilih Yesus pertama sebagai tempat pekerjaanNya, karena masih ada yang mau mendengar Dia. Dia akan datang dan memerintah sebagai Raja, di hati orang-orang yang menerimaNya sebagai raja dan bersedia diperintah oleh Dia. 


Mari berproses dengan jalan hidup kita masing-masing! Pelayanan yang anda kerjakan akan membuktikan, seperti apa tanah anda. Hidup yang kita jalani tiap hari akan menunjukkan seperti apa tanah kita. Keluarga yang kita jadikan tempat bergumul tapi terus kita kasihi akan menunjukkan seperti apa tanah kita. Mari menerima Yesus dan segala kebenaran dari Dia.