Thursday, August 25, 2016

Jadilah Kuat! (My 31 birthday reflection)

Akhirnya, hendaklah kalian menjadi kuat dengan kekuatan yang kalian dapat dari kuasa Tuhan, karena kalian bersatu dengan Dia.  Pakailah seluruh perlengkapan perang yang diberikan Allah kepadamu, supaya kalian dapat bertahan melawan siasat-siasat yang licik dari Iblis.  Sebab kita berjuang bukannya melawan manusia, melainkan melawan kekuatan segala setan-setan yang menguasai zaman yang jahat ini. Kita melawan kekuatan roh-roh jahat yang menguasai ruang angkasa.  Sebab itu, sekarang, pakailah seluruh perlengkapan perang Allah, supaya pada hari yang jahat kalian sanggup melawan serangan-serangan musuh. Dan supaya setelah kalian berjuang sampai akhir, kalian masih gagah perkasa. Hendaklah kalian siap siaga. 

Pakailah kesetiaan kepada Allah sebagai ikat pinggang, dan ketulusan sebagai baju besimu.  Hendaklah kerelaan untuk memberitakan Kabar Baik yang membawa sejahtera menjadi sepatumu.  Setiap waktu pakailah percayamu kepada Tuhan sebagai senjata penangkis; dengan iman itu kalian dapat memadamkan semua anak panah berapi dari si jahat.  Ambillah keselamatan sebagai topi baja, dan perkataan Allah sebagai pedang dari Roh Allah.

Lakukanlah semuanya itu sambil berdoa untuk minta pertolongan dari Allah. Pada setiap kesempatan, berdoalah sebagaimana Roh Allah memimpin kalian. Hendaklah kalian selalu siaga dan jangan menyerah. Berdoalah selalu untuk semua umat Allah.  Dan berdoalah untuk saya juga, supaya pada waktu saya berbicara, Allah memberikan kepada saya kata-kata yang tepat. Dan supaya saya dengan berani dapat memberitahukan rahasia Kabar Baik itu. Karena Kabar Baik itulah, saya menjadi seorang duta, dan sekarang berada di dalam penjara. Berdoalah supaya saya berani berbicara tentang Kabar Baik itu, sebagaimana saya harus berbicara. (Efesus 6:10-20)

Pagi ini, seperti biasa saya bangun agak telat karena tidur hampir pagi selesai mengerjakan tugas pokja Daftar Pembacaan Alkitab GKP tahun 2017-2018. Dan, setelah mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari koster gereja yang baik (yah, dialah yang pertama hehehehe!), saya membuka hadiah ulang tahun dari Allah pada saya. Efesus 6:10-20. Surat yang ditulis Paulus dalam keadaan sangat sulit ketika dia ada dalam penjara, dan ketika karya penginjilan yang dia lakukan terasa mandek di sana sini karena tantangan dan hambatan yang ada di sekitarnya.

Ketika seseorang mendapat hadiah ulang tahun, dia tentu ingin sesuatu yang membuat dia senang dan bahagia. Sebuah pemberian yang membuat dia menikmati hidup. Tapi firman yang diberi Allah bagi saya hari ini, lebih dari sekadar untuk membuat saya bersenang-senang, malah sebuah dorongan untuk semakin bergiat dalam melakukan segala pelayanan. Yah, itulah yang ingin Dia sampaikan pada saya.

Sepanjang hidup saya yang singkat ini, saya merasa tugas dan tanggungjawab begitu banyak mengalir dalam hidup saya. Usia 31, membuat saya makin mengenal diri saya sendiri, komunitas, panggilan dalam diri saya, dan Tuhan yang saya sembah. Ada banyak hal yang akan berubah. Proses mutasi, meninggalkan jemaat yang saya layani selama ini, semua proses dinamika yang ada di dalamnya, bersama semua idealisme saya yang tidak semuanya bisa diterima oleh orang lain, dan jatuh bangun dalam proses menanggapi panggilan. Kadang, saya berpikir untuk menyerah, tapi untunglah, tidak sampai benaran menyerah! dengan jujur, seperti Daud dalam mazmurnya, saya ungkapkan itu semua.

Saya mengenal diri saya sebagai seorang pekerja. Memang bukan pekerja keras. Tapi juga tidak ada kata malas dalam diri saya. Meski, bukan seseorang yang terlalu rapih, saya ingin semua berjalan semestinya. Menjadi pendeta membuat saya mesti sedikit lebih realistis meski saya sadar tidak boleh sikap realistis menggantikan hal yang prinsip, apalagi Firman Tuhan dan kebenarannya. Maka jika dirasa perlu dibetulkan, saya tidak akan sungkan menyatakannya. 

Saya tidak tahu, karakter ini timbul dari mana. Mungkin dari kakek saya yang idealis dan keras kepala juga. Tapi juga dari lingkungan sekitar di mana saya tumbuh, di mana di dalam itu, kebenaran diajarkan pada diri saya. Mungkin lingkungan saya terlalu idealis. Mungkin, saya terlalu banyak baca buku yang menginspirasi saya jadi seperti ini. Dan, sampai sekarang, buku seperti memengaruhi saya menjadi seseorang dengan prinsip yang teguh. Juga pengalaman memimpin sejak kecil, baik di tengah keluarga atau sekolah, itu semua mengembangkan idealisme dalam diri saya, keberanian untuk berkata, bersikap kritis terhadap sesuatu, sesuatu yang dianggap beberapa orang kurang sopan. Tapi, orangtua juga bersikap sama, mereka mengembangkan saya menjadi pribadi yang otonom dengan tanggungjawab dan peran saya menolong mereka dalam kesulitan keluarga sejak masih kecil.

Usia yang sekarang ini, adalah usia yang sungguh matang. Meski, saya selalu disebut berwajah seperti anak SMA, nyatanya saya adalah seorang pendeta. Saya tidak bisa memaksa diri sendiri menjadi tua meski sangat ingin, dan kadang merasa gelisah menanti kapan jadi tua hehehehe! 

Efesus 6:10-20 menjadi  lebih luar biasa bagi saya di pagi ini. Sambil mendengarkan alunan suara Bruno Mars dan Chris Martin Coldplay yang riang, saya merenungkan bagian-bagiannya. Kita memang seperti diutus terus menerus untuk berjuang memberitakan kebenaran dalam berbagai situasi di mana pun dan kapan pun.  Usia ini adalah usia di mana saya melihat keberadaan manusia. Manusia bisa saling memangsa sesamanya, dalam segala kelemahannya, ketika dia terdesak, dia bisa melakukan apa pun untuk menyingkirkan orang lain, baik dia sadari atau tidak. Tapi, itu semua harus dimaknai dalam anugerah pengampunan Allah. Pada akhirnya, kita tidak boleh menyimpan luka, dendam dan kepahitan, karena pada dasarnya, kita semua juga berdosa dan melakukan kebodohan yang sama pada orang lain.

Di usia ini, saya memandang relasi antar manusia lebih realitis. Tidak berharap berlebihan, karena memang kita tidak akan pernah bisa berharap pada manusia. Bukan berarti, kita harus menghindarkan diri dari relasi yang ada, tapi bisa belajar menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Saya belajar memahami posisi yang dihadapi orang lain ketika mereka bersikap pada saya, meski sikap yang sama, jarang sekali saya dapatkan dari orang lain.

Kita tidak bisa menjadi manusia yang cuek dan masa bodoh. Dan, naluri seorang pendeta adalah naluri menolong. Itu juga tidak bisa dilepaskan dari natur saya. Namun, segala kelemahan dan kekurangan menjadi pelajaran berharga bahwa menolong segala mahluk dengan segala kepentingannya berarti menjadi illah  bagi diri sendiri dan itu akan sangat tidak baik. Maka, saya belajar untuk secara realistis lagi-lagi menerima dan menyortir segala tanggungjawab. Mengendurkan wewenang jika memang perlu, dan menerima konsekuensi dari segala sesuatu dengan lapang dada.

Kita, diberikan seperangkat senjata Allah yang lengkap ketika berhadapan dengan perikop ini. Kita bisa menjadi kuat bukan dengan kekuatan sendiri. Semua kemampuan itu memang datang dari Allah, ya semata dari Allah. Karena sebelum berkotbah, saya menundukkan diri di hadapan firman Tuhan dan berdoa, semoga saya bercela ini dapat dilayakkan menyatakan kebenaran dari Tuhan. Kita hidup dalam zaman di mana kuasa setan berkuasa dan mereka menguasai hampir segala hal: bahkan gereja dan hidup para pelayannya. Hantaman godaan seksual, keinginan untuk tidak merasa cukup dan berlebihan, dan keinginan menjadi nomor satu merajalela di mana-mana. Tanpa perlengkapan senjata Allah, tidak mungkin gereja bertahan.

Ketika saya mau terlena dengan kesulitan dan memilih mundur, Paulus mengingatkan untuk tetap siaga. Tetap setia dan tulus. Tetap rela dan percaya pada Tuhan. Pertahankan iman dan keselamatan. Gunakan semua perkataan dari Allah untuk menyelesaikan segala tantangan dan pergumulan. Dan, dalam segala kekuatan dan kelemahan tetap berdoa dengan tidak putus pada Allah untuk meminta pertolongan. Doa menjadi bagian penting untuk bisa menyatakan kebenaran dan menjadi penghibur di kala susah.

Paulus pun mengalami saat yang sulit. Bahkan di setiap waktu, gambaran ideal mengenai Kerajaan Allah, visi Yesus dalam dirinya, menjadi sangat kontradiktif ketika dihadapkan dengan realitas bahwa dia sakit, dimusuhi, mau dibunuh dan dijauhi. Tapi, terlepas dari itu, tetap ada orang-orang yang mencintai dia dengan amat sangat.

Cinta adalah kekuatan. Jika kita tidak merasa dicintai, kita akan merasa lemah. Jemaat akan merasa dicintai ketika semua keinginan mereka diberi oleh gembalanya. Tapi, sebagai gembala yang baik pun, tidak serta merta semua keinginan domba-dombanya dipenuhi Yesus. Ketika Yesus, karena tegurannya, ditangkap pemimpin agama, domba meninggalkan Dia. Kita perlu terus mengidentifikasi ulang makna cinta. Cinta kadang menyakitkan meski memulihkan. Cinta bisa juga diisi dengan kekecewaan, meski kadang ada tawa gembira. Yang lebih penting, cinta sahabat sejati, selalu datang hanya dari Dia. Unconditional love.

Maka, saya akhiri perenungan saya dengan syukur terdalam pada Allah untuk segalanya. Saya menerima 31 tahun kehidupan saya dengan lapang dada dan bersabar menunggu Allah memberi segala jawaban. Bersyukur saja untuk hari ini dan nikmati mengerjakan tugas yang ada. Terimakasih untuk orang-orang sederhana yang Tuhan beri. Bahwa Dia tidak pernah berhenti mengarahkan saya pada hal kecil dan bukan besar, sebab saya perlu terus bergantung pada Dia. Ketika saya merasa kecil, kuasa Tuhan akan jadi besar dalam diri ini. Thanks, God!



Monday, August 22, 2016

Searching for The Truth: My Postview about Jason Bourne film


I still felt excited since i watched this film tonight with my mum and brother. Not just because the actor was Matt Damon who rised all my sense since his Martian but also Bourne sequel was giving all thrilling and interesting stories about truth and searching identity about man who survived with confusing life. Haha...so i just enjoyed my 2 hours time with it.

Jason Bourne who had been ran and being target to killed by CIA agency, meet with his ex-partner, Nicky Parson. She succeed to hacked CIA files about their secret program which involved Bourne and his father and caused his father's death long time ago. And then, story goes. Dewey, the directors who played by Tommy Lee Jones briliantly trying to find and finished Bourne. For Dewey, Bourne's life will causing so many troubles for CIA and US and make problems. But Bourne, Parsons, and many more include newbie agent who had a lot curiosity about Bourn Heather Lee, know that Dewey had secret and ambition to getting profit for himself because of the projects.

So, there are thrilling times. I enjoyed all the crashed car, shooted actions and many haunted times when Bourne ran and try to saved his life. He was haunted too by Asset, the sniper who had been killed his father and now desired to kill him too.

When regularly, i saw how Bourne asked himself, why did he had been threated like that, i imagined myself. I seemly faced similar problem with myself. When i did all the best effort to myself and always being critized, i was finally gived up and ask many questions to my self, why everyone did that to me? Why am i being blamed to doing and thinking right? Why there's nobody support me to doing all the such things? Why i am being alone to doing this good job?  I just doing the good and then being eliminated because of that? And, i faced myself to Dewey's side. Everyone has their interest. And eventually, they did that for their sake.

Then Jason found all the truth. Why Dewey, Asset and all those people try to killed him. He try to face anything bravely. Seems, there are an instinct and power that stirred him to do that. And he find the answer even he can't trust anybody and just being alone because there was nobody that truly respect him and his life.

The film leaved me many questions. I can't answer it all. But, i will not giving up to search all those. Because my life still in here. Now, will not same with yesterday. And yesterday will not same with tommorow. Everything will be changed day by day. And time will answer all those. I will get all that i search and looking for this time someday. But, i have to doing all my best and get a power and healing to strengthen to myself. Hope, i can always doing my best.


Saturday, August 20, 2016

KEMBALI PADA TUHAN, KEMBALI PADA ATURAN- HAKIM-HAKIM 21:13-25

Kemudian seluruh umat Israel mengirim utusan kepada orang-orang Benyamin yang berada di gunung-gunung batu di Rimon untuk menawarkan perdamaian. Oleh sebab itu orang-orang Benyamin itu kembali, lalu umat Israel memberikan kepada mereka gadis-gadis dari Yabes yang tidak dibunuh itu. 

Tetapi jumlah gadis-gadis itu tidak cukup untuk orang-orang Benyamin itu. Umat Israel merasa kasihan kepada orang Benyamin, karena TUHAN sudah meretakkan kesatuan suku-suku bangsa Israel. Sebab itu, tokoh-tokoh yang berkumpul di Betel itu berkata, "Di dalam suku Benyamin tidak ada lagi wanita. Tetapi, apa boleh buat; kita tidak bisa mengizinkan anak-anak gadis kita kawin dengan mereka, karena kita sudah menyumpahi setiap orang dari antara kita yang mengizinkan anak gadisnya kawin dengan seorang Benyamin! Jadi, apakah yang harus kita lakukan untuk mereka yang sisa ini supaya mereka bisa mempunyai istri juga? Jangan sampai Israel kehilangan salah satu dari kedua belas sukunya. Kita harus mencari jalan supaya suku Benyamin dapat mempunyai keturunan seterusnya dan tetap memiliki seluruh tanahnya." 

"Begini," kata mereka, "ada satu jalan keluar, yaitu pada waktu perayaan tahunan untuk TUHAN di Silo." (Di sebelah selatan Silo ini terdapat kota Betel, dan di sebelah baratnya terdapat jalan raya Betel ke Sikhem, sedangkan di sebelah utaranya terdapat kota Lebona.) Maka tokoh-tokoh pertemuan di Betel itu berkata kepada orang-orang Benyamin yang sisa itu, "Pergilah kalian bersembunyi di kebun-kebun anggur di Silo, dan berjaga-jagalah di situ. Nanti kalau gadis-gadis Silo keluar untuk menari selama perayaan tahunan untuk TUHAN, kalian harus keluar dari kebun-kebun anggur itu. Lalu masing-masing harus menangkap seorang gadis dari antara mereka dan melarikannya ke wilayah Benyamin untuk dijadikan istrimu. Kalau ayah atau saudaranya yang laki-laki datang dan menuntut dia, kalian dapat mengatakan, 'Kami mohon, biarkanlah mereka pada kami. Kami tidak merampas mereka dalam pertempuran. Dan karena kalian tidak memberikan mereka kepada kami, kalian tidak melanggar janji, jadi tidak bersalah.'

Maka orang-orang Benyamin itu melakukan apa yang dikatakan kepada mereka. Mereka masing-masing melarikan seorang gadis dari antara gadis-gadis yang menari di Silo. Kemudian mereka kembali ke wilayah mereka sendiri dan membangun kembali kota-kotanya lalu menetap di sana. Orang-orang Israel yang lainnya itu pun berangkat pula. Mereka kembali ke tanah milik mereka di dalam wilayah mereka masing-masing, menurut kaum dan suku-sukunya. Pada zaman itu belum ada raja di Israel. Setiap orang melakukan apa yang dianggapnya benar. 

Sewaktu saya kecil dulu, ada sebuah buku yang sangat saya sukai. Penuh gambar, dan isinya tentang waktu. Ada juga gambar jamnya. Bukunya berwarna. Jika waktunya sarapan pagi dan pergi sekolah, maka jamnya akan menunjukkan pukul 6 dan jika sudah menunjuk pukul 9 malam, maka waktunya saya menggosok gigi lalu tidur. Dari buku itu, saya belajar mengatur waktu. Sekarang, saya sudah dewasa, kadang tidak manut seperti kecil dulu. Tapi buku itu tetap memberi inspirasi. Keteraturan memang menyebalkan kalau kita tidak tahu guna dan manfaatnya. Tapi jika kita renungkan, apa jadinya hidup kita tanpa aturan?

Sebenarnya para hakim sudah diberi Tuhan pada bangsa Israel, tapi dengan segala kegagalan dan kelemahan, Israel gagal menaati pemimpin dan aturannya. Ada banyak manusia memimpin mereka tapi mereka gagal diikuti dan ditaati. 

Kenapa?
Karena sejak dari awal, Israel gagal melihat Tuhan Allah sebagai pemimpin yang sejati dan sumber dari sumber kepemimpinan. Mereka mau manusia memimpin, maka Tuhan mengirim hakim-hakim, itu pun masih tidak didengar sehingga Tuhan memberi mereka raja, seperti yang mereka mau, tapi nafsu dan kegemilangan dunia ternyata tidak menjamin semua proses menjadi baik saja. Malah, peperangan kemudian terjadi, dalam masa Raja-raja, mereka pecah dan dibuang ke Babel.

Nah, terbukti, dengan mengandalkan manusia, bukannya tertib malah semakin kacau. Maka pemimpin dan aturan tidak akan berhasil dalam kepemimpinan tanpa pertolongan Allah dan hati yang setia pada Dia. Ini yang Israel lupa.
Karena masing-masing punya keinginan, maka mereka melupakan siapa mereka. Kebesaran dan kemegahan keturunan Yakub yang sangat banyak dibawa keluar dari Mesir ini, terpecah dan saling berperang satu sama lain. Ketika masing-masing berpikir dirinya paling benar, dirinya paling hebat, dan menghitung jasa-jasanya sendiri. Maka kemudian kita bisa melupakan siapa yang perlu dilayani dan mengorbankan mereka. 

Apakah gereja ada dalam situasi ini? Bisa jadi. Semua gereja ada dalam hadangan masalah ini. Jika kita tidak sadar, kita semua dalam segala kelalaian untuk menjaga hubungan pribadi kita dengan Allah, bisa saja jadi bagian dari alat perpecahan dalam gereja. Apa itu yang sungguh diinginkan Allah? Saya yakin tidak. KaryaNya selalu mengutuhkan dan mempersatukan. Bukan menceraikan dan memisahkan.

Gereja kadangkala bisa menjadi penuh kebencian. Bisa menjadi tempat di mana kita saling mengabaikan. Juga bisa menjadi tempat di mana kita saling menyalahkan. Tapi, karya Tuhan tidak pernah berhenti ada di dalam gereja. Tetap orang datang dan mendengar FirmanNya. Tetap setiap rumah tangga mencari wajahNya dan memohon pengampunanNya. Kita memang tidak bisa melihat isi hati kita. Tapi, Tuhan pasti memahami dan mengerti betapa tulusnya kita memohon pengampunan dan berharap yang terbaik bagi gereja. 

Karena itu, dalam setiap pengalaman dan pembelajaran kita, mari belajar dari aturan-aturan kita. Jangan hanya hafal seperti orang Farisi tanpa tahu maknanya. Tapi pahami kenapa gereja dulu membuatnya? Setiap masalah, dengan setiap aturan harus dipahami dulu maknanya. Lalu, pikirkan, siapa yang kita senangkan dengan aturan itu? Dan apa dampaknya bagi pengembangan kehidupan bersama. Bagi saya, yang utama, pemimpin-pemimpin dan pelaksanaan aturan-aturan itu harus membawa kita, bukan pada taat pada manusia, tapi taat pada Tuhan. Semakin serupa dengan Tuhan. 

Kenapa?
Kita lihat, bahwa tanpa campur tangan Allah, akal budinya manusia menjadi seperti sampah. Tiga kali orang Israel bertanya, siapa yang mesti mereka hancurkan dan bunuh? Tuhan mengiyakan seakan tidak peduli karena mungkin Dia sudah lelah melihat kedegilan mereka, ingin berbuat seenaknya. Ketika Tuhan melepaskan tangannya, apa yang terjadi? Hancur sedikit demi sedikit.

Jadi, lupakan aturan untuk manusia atau manusia untuk aturan. Dalam hidup kita, harusnya kehendak Allah yang menjadi utama dan harus nyata dalam tiap kata dan perbuatan. Baik dalam ortodoksi maupun dalam ortopraksis. Baik dalam ajaran yang benar maupun dalam tindakan yang benar. Semua harus selaras, dengan integritas, dalam intergritas itu, ada rasa hormat pada Allah yang menjadi dasarnya. Jika kita mau mengelola gereja dengan Allah sebagai dasarnya, maka itulah yang mesti kita lakukan.

Deus Semper Maior!