Wednesday, June 21, 2017

The Faith Impact

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. (Roma 5:1)


Iman adalah sebuah kata yang sulit untuk didefinisikan bagi saya. Meski penulis Ibrani berusaha menjelaskannya sebagau dasar sari segala sesuatu yang dipercaya dan bukti dari segala sesuatu yang diharapkan, kerapkali kalimat itu masih cukup sulit untuk membuat para pengikut Kristus menghidupi imannya.
Yap, bagi saya iman adalah lebih dari sekadar ke gereja. Iman bukan alasan kita mencantumkan agama Kristen di KTP kita. Iman jauh lebih kompleks karena melampaui nalar kita terhadap keberadaan yang di Atas segala sesuatu. Dan kemudian kuasaNya yang dipercaya mengendalikan segala sesuatu.

Kendati demikian, rasa percaya ini merupakan sebuah relasi dinamis timbal balik yang harus diresapi, dikerjakan dan dihayati hari demi hari. Iman mewujud dalam berbagai ekspresi sehingga bahkan sangat sulit saya menganggap orang ateis tidak beriman. Ketika mereka mempertanyakan Allah sesungguhnya mereka sedang menggumuli Dia. Itu iman.

Karena itu iman perlu terus dipertanyakan. Iman harus terus digumuli dan ini tidak terjadi dalam ruang hampa melainkan dalam relasi kita bersama sesama dan ciptaan. Kerapkali kita mempertanyakan iman setelah berjumpa dengan seseorang, mengalami hidup bersamanya, menyelesaikan masalah hidup bersama, mempertanyakan bersama.

Karena itu Paulus menganggap iman bukan hasil perolehan manusia melainkan karya kasih karunia Allah. Iman itu lahir dari cinta ilahi Allah bagi kita sebab segala sesuatu dalam hidup dunia dan kita ada atas prakarsa Allah tanpa sedikit pun kita. Iman itu membuat kita berjalan dalam hubungan yang terus diperdamaikan oleh dan dengan Allah. Sejalan dengan proses itu, iman menuntun kita pada perubahan hidup ke arah Allah. Iman membuat kita berani berhadapan dengan dosa dan bergumul atasnya bukannya menyerah dan diperbudak.

Iman menolong kita untuk tekun dalam segala proses. Kita belajar sabar karena tahu ujung dan yakin akhir dari segala sesuatu akan bermuara pada Allah. Karena itu kita akan selalu punya pengharapan dan menjadi kuat. Dulu kita diselamatkan karena Yesus mati. Dan sekarang kita hidup dalam kasih karunia karena Allah dalam Yesus hidup.

Keajaiban iman seperti sebuah proses metamoforsis dalam hidup kita. Kita terus berkembang dalam kualitas lebih baik dan karenanya tidak mungkin lagi mundur.

Apa yang anda rasakan dengan iman anda? Apa yang membuat anda berubah dan makin bertumbuh lebih baik? Semoga anda terus bergumul dengan hidup rohani anda...karena jika tidak, kita pasti bermasalah.



Monday, June 12, 2017

Gak Ada yang Gak Mungkin

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12)




Seorang bijak pernah berkata, waktu kecil aku bermimpi merubah dunia. Tapi aku gagal. Ketika aku beranjak dewasa aku bermimpi mengubah masyarakatku, aku sadar itu pun sukit. Semakin matang aku mulai berpikir untuk mengubah keluargaku, lagi lagi itu sulit. Di masa tua aku sadar bahwa untuk mengubah semua itu, aku harus mengubah diriku sendiri. Ya, ucapan si bijak mengingatkan kita bahwa perubahan itu tidak bisa lahir dari keinginan dan perkataan melainkan dari tindakan yang dilakukan secara terus menerus.

Hidup itu diisi dengan pilihan-pilihan. Dan masa lalu, kini dan masa depan adalah buah dari pilihan kita. Jangan salahkan orang lain atau Tuhan atas apa yang kita temui karena hari ini adalah hasil dari pilihan kita sendiri.

Karena itu, untuk hal lebih baik, berubah itu harus. Bukan hanya perlu dan layak. Tapi harus. Terutama ketika kita sadar bahwa tanpa mengubah pemikiran, sikap dan tingkah laku kita tidak mungkin kita menjadi lebih baik. Tapi siapa yang siap berubah dan menerima perubahan?

Coba bayangkan jika suatu kali guru kita jadi lebih tegas dari sebelumnya dan memberi sanksi karena kita malas? Apa kita menerima dan mencapnya galak? Atau kita bisa berpikir bahwa ini adalah sebuah kunci menuju perubahan yang lebih baik? Kebanyakan ketika ditegur lebih memilih menyalahkan guru. Saya punya satu dosen yang amat ditakuti di STT Jakarta. Tiap kali dia akan mengajar, dia selalu memberi bahan 20-30 halaman untuk dibaca. Ketika dia  masuk dia akan menanyakan pertanyaan berdasarkan bacaan kita. Habislah kita kalau kita tidak baca. Memang dia menegangkan. Tapi sikapnya yang disiplin memacu kami berubah. Hasilnya kami jadi lebih serius belajar. Itulah guru. Pendorong kita berubah jadi lebih baik.

Sebagai guru rohani, Paulus juga tidak ingin Timotius menjadi anak manja dan gampangan. Di usia 30 tahun seperti saya ini, dia sudah menjadi gembala dari jemaat Efesus yang biang rusuh dan gampang disesatkan dengan rupa rupa ajaran. Konflik dalam jemaat banyak sekali. Bagaimana caranya Timotius bisa menjadi pemimpin di usia semuda itu dengan tangangan yang begitu besar?

Jawabannya tidak terletak pada mana mana kecuali di pundak Timotius sendiri. Paulus mengingatkan Timotius untuk terus bertahan dalam imannya, tetap berjuang dan terus mengasah dirinya menjadi lebih baik. Dia harus membuat orang segan karena sikap dan tingkah lakunya yang baik, tutur katanya yang sopan, dan keteladannya dalam melayani dan beribadah. Termasuk menjaga kesuciannya.

Mungkin kita banyak bertemu contoh jelek. Mungkin di rumah, tidak semua terbiasa rajin, kita terbiasa diomeli dengan kata kata yang tidak pantas. Mungkin juga lingkungan kita bukan tempat yang sehat kita bertumbuh, tapi menjadi anak baik adalah hak kita. Kita mampu mengubah diri dan menjadi pemimpin setidaknya bagi diri kita sendiri.

Seorang gadis bernama Malala Yousafzai dari Pakistan bersedia mengambil risiko karena ingin membuat perubahan bagi lingkungan dan negerinya. Dia bertindak sangat keras dengan menentang diskriminasi bagi anak anak perempuan Pakistan untuk sekolah. Akibat dari sikapnya ini, dia ditembak di kepala oleh pemberontak yang merasa terancam dengan sikapnya. Selalu ada dampak dari sikap baik yang kita buat. Perjuangan diperlukan untuk membuahkan hasil. Tapi Malala tidak segan menempuhnya.

Saya merasa ratusan ayat alkitab dan kata kata motivasi tidak akan cukup membuat kita berubah tanpa kita sendiri tidak bersikap dan mulai dari diri sendiri. Ketika kita SLTA harusnya bukan warna rok dan celana kita yang berganti. Dulu saya seperti itu. Saya bangga dan merasa keren sekali ketika warna biru pekat itu diganti warna abu2. Tapi nyatanya kita makin tua, makin harus siap memikirkan masa depan, makin besar dan harus makin siap bertanggungjawab.

Semoga kelulusan ini membuat kita makin dewasa dan bertanggungjawab. Sebab masa muda yang akan kalian pijaki akan menentukan masa depan kita kelak. Pengalaman yang mengajar saya jadi orang lebih baik adalah ketika melihat salah seorang kakak kelas paling cantik dan pintar di sekolah harus putus sekolah dan menjadi ibu rumah tangga di usia muda karena hamil di luar nikah. Raut mukanya ketika kami keluar menenteng ijazah sedih sekali. Satu keputusan salah yang membuat dia harus menerima risiko besar selamanya. Dia tidak bisa lagi punya kesempatan sma bersama kami.

Nah, semoga kita diberkati dengan semua pengalaman hidup manusia: pengalaman Paulus, Timotius, Malala, dan kakak kelas saya kiranya menjadi pelajaran terbaik dalam hidup supaya kita bisa terus memilih hal hal terbaik dalam hidup kita.

Ingat, masa muda tidak akan terulang lagi. Jadi nikmati dengan kebaikan jangan dengan sembarangan. Torehkan kenangan luar biasa yang akan kita kenang sampai dewasa dan kakek nenek nanti. Belajarlah dengan semangat dan ketekunan karena kesempatan belajar itu tidak sama didapat tiap orang. Dan jadilah yang terbaik dalam apa pun. Miliki mimpi sebab kata Alkitab, masa depan itu ada jika kita percaya Tuhan dan harapan kita tidak akan hilang.


Saturday, June 3, 2017

Dikuasai untuk Menggerakan dan Mengubahkan

Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. (Kisah Para Rasul 2:17)


Pernahkah anda dalam situasi seperti di atas? Takut menghadapi tantangan dalam pelayanan anda? Takut menyelesaikan sesuatu? Takut menghadapi hidup? Takut memulai sesuatu? Takut menghadapi seseorang? Semua orang pernah merasakannya.

Tantangan pertama dan paling besar yang dihadapi Gereja pertama kali adalah mereka tidak bersama lagi dengan badan Yesus yang bersama mereka. Namun mereka mengerti dan tenang bahwa Yesus tidak akan pernah meninggalkan mereka sendiri ketika Dia naik ke sorga. Namun bukan berarti rasa takut tidak ada.

Karena rasa takut itu, kita bisa terjerumus menyakiti satu sama lain. Rasa takut dalam level yang berlebihan kemudian memaksa kita melakukan hal hal di luar nalar, seperti menghindari sesuatu dengan berlebihan. Kita juga tidak bisa hidup tanpa orang lain dan senantiasa bergantung terus menerus karena merasa tidak mampu sendiri.

Dalam Kisah Para Rasul, dikisahkan bahwa Pentakosta hadir dalam rangkaian upacara Shuvaot yaitu Perayaan turunnya Taurat di Gunung Sinai. Turunnya Roh Kudus dalam Pentakosta menghadirkan amanah baru selain mengokohkan para murid bahwa mereka adalah umat Allah. Damai sejahtera yang dijanjikan oleh Yesus dalam Yohanes 14:17 digenapi. Damai sejahtera yang turun ketika mereka menerima kemampuan untuk berekonsiliasi satu sama lain, menghadirkan keterbukaan, kesatuan, dan penerimaan dalam kenyataan hidup yang sesungguhnya. Eirene datang bersamaan dengan shalom yaitu damai di surga yang kemudian dinyatakan dalam perdamaian di muka bumi. Mereka yang sudah menerima damai Allah akan juga mengusahakan perdamaian di bumi.

Pentakosta mengubah murid murid. Mereka menantikan Roh itu hadir. Dan dengan nyala api Roh itu membakar semangat, menggerakkan dan mengubahkan murid murid. Bahasa asing yang mereka kuasai adalah tanda bahwa segala kemampuan dan kesanggupan yang Gereja punya saat ini bukan karena kekuatan kita melainkan karena Roh Kudus. Sayang, kadang kita meremehkannya.

Berapa banyak dari kita enggan berdoa? Jangankan berdoa bagi orang satu jam, kadang syafaat saja terasa begitu menjemukkan bagi kita. Kita enggan merenungkan Firman di rumah karena merasa Alkitab sudah ada di HP kita masing masing. Untunglah, masalah kadang muncul, hanya karena ketika ada masalah lah kita bisa setidaknya mengingat Allah dan FirmanNya.

Semua orang yang melihat kelakuan para murid menjadi heran. Meski tidak digambarkan secara bombastis seperti seremonial luar biasa, Pentakosta membawa dampak bagi sekitar hidup murid Kristus. Kehidupan, tindak tanduk dan perilaku mereka membawa kehebohan. Kehebohan yang menyenangkan karena Kisah Para Rasul mencatat bahwa cara mereka hidup sungguh layak ditiru. Mereka bisa berbahasa ibu mereka tapi juga mengerti bahasa ibu yang digunakan oleh orang lain. Ada penerimaan terhadap mereka yang berbeda dan bukannya kecurigaan.

Petrus yang telah dipanggil kembali menjadi sahabat Yesus kini tampil berani dan konsisten. Dia bisa dengan tegar memproklamirkan imannya di hadapan banyak orang dan mengkritisi apa yang salah menurutnya dari komunitasnya sendiri.

Gereja juga merupakan tempat untuk belajar menata diri dan komunitas kita, saudara! Kita tidak bisa menyenangkan tiap manusia. Jika kita tergoda untuk saling menyenangkan satu sama lain, kita akan mengabaikan kewajiban kita menyenangkan Tuhan. Dan menyenangkan Tuhan itu bukan hal yang mudah karena seringkali kita harus berbenturan dengan ego manusia. Gereja adalah tempat belajar itu.

Kadang kita berharap ini dan itu dari orang lain tapi nyatanya tidak ada manusia tanpa kelemahan. Kadang kita merasa sendirian dan ditinggalkan dan kita begitu marah. Kadang kita merasa orang bisa membantu kita tapi mereka tidak membantu kita karena kelemahan dan ego mereka. Dalam persekutuan kita belajar banyak tentang hal itu.

Roh Tuhan yang diberi Tuhan melalui pentakosta mengajar kita untuk bertindak lebih baik. Kita harus menyadari berbagai peristiwa yang terjadi sehingga tiap tiap orang bisa menopang dan ditopang dalam karya pelayanan kita. Sebab, tanpa saling menopang, apa Gereja bisa bertahan? Tidak. Kita hanya akan saling menceraiberaikan satu sama lain.

Karena itu, semoga dengan mengingat nubuatan nabi Yoel melalui kotbah Petrus kita bisa menjadi berani dan kuat untuk mengerjakan hal baik dalam hidup kita. Pentakosta harus membuat kita punya integritas dalam berkata dan berbuat. Pentakosta harus membuat kita berani mengacungkan jari dan bukannya menunjuk orang lain. Pentakosta berarti saling menopang satu sama lain.

Kita tentu ingat kisah Menara Babel? Sebuah menara yang dihancurkan Allah dalam Kejadian, menara itu adalah simbol kemegahan namun juga lambang kutukan Allah karena melambangkan kesomongan manusia dan keinginan manusia menjadi komunitas yang eksklusif. Peristiwa Pentakosta berlawanan dengan kisah Babel. Pentakosta harus membuat kita makin bisa sedia melayani dan merapatkan ikatan kita dengan semua manusia di muka bumi ini.

Di mana kita belajar? Di gereja, di rumah sebagai gereja kecil kita, dan dalam lingkungan kita. Mari tanyakan pada diri kita sendiri: apa sungguh damai Allah sudah hadir dalam hidup kita sehingga kita mampu melalukan pelayanan yang membawa berkat bagi banyak orang. Miliki keberanian untuk terus melakukan yang terbaik. Dan semoga komunitas kita menjadi komunitas yang saling menopang.

Selamat pentakosta