Sunday, July 9, 2017

Gereja yang Kaya dalam Kemurahan- 2 Korintus 8:1-15

Saudara-saudara, kami ingin kalian mengetahui juga tentang bagaimana baiknya Allah kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 
Mereka sudah diuji dengan kesukaran-kesukaran yang berat. Tetapi di tengah-tengah kesukaran-kesukaran itu, mereka bergembira dan sangat murah hati dalam memberikan sumbangan untuk menolong orang lain, meskipun mereka miskin sekali. Saya dapat memastikan bahwa mereka memberi semampu mereka, bahkan lebih. Tanpa ada yang menyuruh, mereka minta dengan sangat kepada kami kalau boleh mereka ikut membantu memberi sumbangan kepada umat Allah di Yudea. Mereka memberi jauh lebih dari yang kami harapkan. Mereka mula-mula menyerahkan diri kepada Tuhan, kemudian kepada kami juga, sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebabnya kami sangat menganjurkan Titus--yang memulai usaha ini--supaya ia melanjutkan usaha yang baik ini di antara kalian juga. 

Kalian unggul dalam segala-galanya: Kalian unggul dalam hal percaya, dalam hal menyatakan pendapat, dalam hal pengetahuan, dalam segala macam usaha, dan dalam kasihmu kepada kami. Sebab itu, baiklah kalian juga unggul di dalam usaha yang baik ini. Saya tidak menganjurkan itu sebagai suatu perintah. Tetapi dengan menunjukkan betapa giatnya orang lain menolong sesamanya, saya juga ingin tahu sampai di mana kasihmu. Sebab kalian mengetahui betul bahwa kita sangat dikasihi oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Ia kaya, tetapi Ia membuat diri-Nya menjadi miskin untuk kepentinganmu, supaya dengan kemiskinan-Nya itu, kalian menjadi kaya. Menurut pendapat saya, pada tempatnyalah kalian menyelesaikan apa yang sudah kalian mulai tahun lalu. Sebab kalianlah yang pertama-tama memikirkan dan memulai usaha ini. 

Nah, sekarang hendaklah kalian melanjutkannya menurut kemampuanmu. Hendaknya kalian bersemangat untuk menyelesaikan usaha itu, sebagaimana kalian dahulu pun bersemangat merencanakannya. Kalau kalian rela memberi, maka Allah akan menerima pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. 

Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membebaskan orang lain dari tanggung jawab, dan memberatkan kalian. Tetapi karena kalian sekarang ini dalam keadaan serba cukup, maka sudah sepatutnyalah kalian mencukupi kekurangan mereka. Nanti kalau kalian berkekurangan, dan mereka dalam keadaan serba cukup, maka mereka akan membantu kalian. Dengan demikian kedua-duanya sama-sama dilayani. Dalam Alkitab tertulis, "Orang yang berpenghasilan banyak, tidak berkelebihan, dan orang yang berpenghasilan sedikit, tidak berkekurangan."

Lazimnya, dunia berpandangan bahwa orang yang kaya adalah orang yang memiliki dan memperoleh banyak. Orang akan bahagia jika dia menang banyak dan mendapat banyak. Itu yang biasanya terjadi.

Tapi, jika melihat gambaran mengenai orang-orang yang murah hati dan suka berbagi, kita akan heran. Mereka punya pandangan sendiri tentang menjadi kaya. Mereka merasa untuk menjadi kaya justru mereka perlu berbagi. Kekayaan tidak hadir dalam kelebihan melainkan dalam kekurangan. Dan, meski mereka berkekurangan tapi mereka bisa memberi, mereka menjadi kaya.

Paulus mengatakan sukacita seperti ini dengan khara. Sebuah tindakan memberi yang dilandasi dengan syukur yang mendalam. Kenapa orang Kristen bisa melakukan khara? karena kharis Allah ada dalam dirinya. Kharis adalah kasih karunia yang diberi Allah karena Allah adalah Allah yang bersedia memberi diri-Nya bagi manusia dan alam ciptaan. Kharis itu kemudian terwujud dalam kematian dan kebangkitan Yesus yang memberi diri-Nya bagi kita sebagai sahabat yang baik dan rela berkorban. Karenanya, orang Kristen dengan kharis dalam hatinya akan terus bertumbuh dari satu pemberian ke pemberian lain, inilah karunia roh.

Setidaknya, itulah yang mau Paulus gambarkan sebagai keadaan pada jemaat-jemaat di Makedonia. Mengapa khara mereka luar biasa? Mereka begitu bersemangat memberi dan berbagi, bahkan mereka yang meminta kesempatan untuk diberi keleluasan memberi. Karena mereka merasakan kasih karunia Allah dalam hidup mereka meski mereka ada dalam keadaan hae kata bathous ptoocheia (ada dalam kemiskinan yang sangat mendalam). Jemaat-jemaat di sini termasuk di antaranya Tesalonika adalah jemaat yang tidak kaya, mereka hanyalah terdiri dari petani dan buruh, tidak seperti jemaat Korintus yang penghasilan jemaatnya lumayan. Mereka miskin secara sosial. Selain itu karena mereka menjadi Kristen dan taat, mereka ditindas. Namun justru Paulus menyatakan mereka kaya dalam kemurahan. Mereka ptoochos tapi penuh dengan karios. Mereka miskin tapi kaya. 

Paulus mencatat bahwa kharis Allah bagi Makedonia telah memberi kekayaan rohani yang besar bagi mereka. Dan, itulah ciri keselamatan. Gereja yang selamat adalah yang kaya dalam rohnya. Dan, Makedonia telah menunjukkannya. Kelimpahan yang mereka punya hadir dalam aneka pemberian seperti kuat kuasa untuk bertahan dalam cobaan, karunia dan pelayanan kasih yang melimpah. Karena itu jemaat-jemaat Makedonia mampu tulus dan bermurah hati. Makin didalami kemiskinan sosial jemaat-jemaat Makedonia, makin dihargai kekayaan rohaninya, yang menyanggupkan meerka untuk memberi kekayaan rohani ini.

Dari Makedonia kita bisa melihat bahwa keadaan kurang beruntung sesungguhnya bisa jadi alasan untuk seseorang menjadi enggan berbuat baik, atau tapi sebaliknya. Penganiayaan yang Makedonia alami justru mendatangkan kelimpahan sukacita. Kenapa? Itu yang harus dicari tahu oleh Korintus dan kita. Allah bisa menganugerahkan kekuatan itu pada Makedonia dan kenapa tidak pada Korintus dan kita? 

Orang Kristen Makedonia memberi diri mereka sendiri dengan hasil yang jauh lebih besar dari yang diharapkan. Mereka tidak memberi sekadar untuk memenuhi kewajiban. Jemaat-jemaat baru yang kurang mampu juga ingin melibatkan diri dalam kegiatan membantu jemaat induk dengan murah hati sebagai tanda penghargaan kepada umat yang daripadanya Injil Yesus berasal. Artinya, mereka adalah orang-orang Kristen yang amat bersyukur untuk sebuah karya pekabaran Injil. Mereka amat menghargai karya keselamatan Allah dalam hidup mereka dan itu melampaui ego mereka sendiri terhadap apa yang mereka punya. Karya Yesus hidup untuk memberi diri itu, dihayati, diresapi dan disyukuri lalu diresponi oleh jemaat Makedonia. 

Karena itu, Paulus menantang Korintus melakukan dan merealisasikan keinginan mereka untuk menolong. Paulus memang seakan menjadi pengedar kantong persembahan. Dia melakukannya untuk membangun kesadaran jemaat-jemaat Kristen untuk saling memandirikan satu sama lain. Tidak boleh ada jemaat yang keadaanya jomplang. Yang miskin harus ditolong, yang kaya harus berbagi. Yang berkecukupan diajak mensyukuri lebih lagi. Semuanya harus mensyukuri kasih karunia Allah. 

Perjalanan Pekabaran Injil Gereja Kristen Pasundan yang sudah berlangsung selama 162 tahun, menjadi titik tolak bagi GKP untuk melihat ke dalam diri. Bagaimana keadaan GKP secara keseluruhan? Apakah kita sudah bisa menyeimbangkan diri dalam kemandirian teologi, daya, dan dana dalam kebersamaan 58 jemaat, dan 6 klasis? Apa semua pos-pos kebaktian, bakal jemaat dan pos pelayanan GKP bertumbuh sebagaimana mestinya? Apa kita sungguh mencukupkan kekurangan saudara-saudara kita dengan kelimpahan yang ada pada kita? Atau, kita masih merasa bahwa kita hidup sendirian?

Pertanyaan ini bisa dijawab ketika kita melihat pada hati kita sendiri dan bertanya pada diri sendiri: apa yang selama ini menjadi titik pusat perhatian kita dalam memberi dan melayani dalam gereja? Bisa dikatakan gereja tidak pernah kekurangan sumber daya, tapi bagaimana kita mengelola sumber daya kita? Jika, kita bisa memakai apa yang ada pada kita untuk menolong mereka yang membutuhkan, maka itu akan mencerminkan suatu kekayaan rohani.

Pernahkah sebagai warga GKP anda bertanya: kira-kira persembahan saya digunakan untuk apa? Saya memberi dalam rangka apa? Apa saya mulai memikirkan secara serius untuk ke mana persembahan dari harta milik saya mengalir? Sesungguhnya perkerjaan Pekabaran Injil itu sangat kompleks dan banyak. Tapi, mana yang jadi prioritas? Ingin membantu semua, tapi mana yang paling perlu dibantu? Apa yang ki
ta punya bisa mencukupkan semua? Bisa. Jika kita semua sama-sama tergerak untuk memberi dan bukan diberi. 

Kita bisa terjebak menjadi parasit atau autarkis. Keduanya sama-sama dilarang. Menjadi parasit, akan selalu memaksa diri kita bergantung pada orang lain padahal seharusnya kita sudah belajar untuk mandiri dan memberi. Hanya anak-anak yang disuapi. Orang yang sudah dewasa akan merasa malu jika dia terus disuapi. Tapi merasa bisa menolong semuanya, tidak perlu ditolong. Juga salah. Kita merasa bangga jika punya banyak urusan dan pekerjaan tapi tidak ditopang dengan kekuatan dan kemampuan untuk bermitra. Itu juga tidak rohani.

Pemberian jemaat yang lumayan seperti Korintus diminta Paulus dilakukan untuk mengajari kita bahwa menjadi kaya itu juga berarti memberdayakan orang lain untuk memberi. Jemaat perlu menjalin kemitraan. Karena itu, GKP Bandung perlu Sumedang untuk menolong Ganjartemu. Karena itu kita perlu klasis untuk menolong kegiatan-kegiatan yang tidak ada di jemaat. Nah, jika Bandung bisa, sudah semestinya Bandung menjadi salah satu SDM klasis untuk menolong jemaat-jemaat lain. Sambil mengajak jemaat lain juga untuk mendoakan dan mengembangkan pos-pos yang ada. Pos-pos yang ada ini bukan hanya milik Bandung, ini milik GKP termasuk milik juga klasis Priangan.

Maka, mari hayati Pekabaran Injil selama 162 tahun ini dalam kesadaran bahwa masih banyak yang perlu kita kerjakan ke depan. Dengan segudang pengalaman dan dirham yang Tuhan titipkan pada Bandung untuk dikembangkan, bagaimana jemaat ini akan terus mengelolanya? Mari belajar dari kemurahan hati Makedonia, dan prinsip keseimbangan dalam persembahan Korintus seperti yang diajarkan Paulus. Dan, berarti pola pikir kita yang harus terus bertumbuh kembang.

Saya menutup renungan ini dengan menyatakan bahwa tiap persembahan yang kita beri itu berharga selama kita menaruh rasa hormat kita pada Allah di dalamnya. Phillip Jakob Spener seorang teolog Lutheran dan pelopor utama gerakan Pietisme merangkum tujuan pokok persembahan dalam gereja.

Semoga di antara orang-orang beriman berlangsung suatu pengumpulan dana yang pantas untuk dapat mendidik, menampung membantu yatim piatu dan janda-janda miskin, orang yang menderita dan tersisihkan dalam masyarakat, dengan cara membagi-bagikan harta miliknya menurut teladan gereja-gereja Makedonia dan Galatia, Korintus serta Akhaya."

Selamat jadi Bahagia dengan Memberi!

Sahabat itu Melekat (Amsal 18:24)

Ada sahabat yang tidak setia, ada pula yang lebih akrab dari saudara. (Amsal 18:24)

Salah seorang pengajar teruna saya waktu sempat "magang" di GKO Depok pernah berkata bahwa semakin kita tua, makin sedikit sahabat kita. Saya masih bingung kala itu, dengan maksud perkataannya, hingga saya menyadari kebenarannya ketika saya makin besar dan dewasa. Makin kita tua, makin kita belajar banyak juga membangun relasi bersama orang lain. Dan, sahabat itu bukan makin sedikit, tapi kita dapat bukan lagi karena kepolosan melainkan karena realistis dengan keadaan, dan kualitasnya makin baik.

Secara teori, makin kita terlibat dalam hidup bersama tiap orang, mestinya kualitas relasi kita makin baik. Idealnya, kita makin bertumbuh dalam kasih (Bdk. Efesus 4:15-16) dan makin mampu mengasihi. Karena itu, kita makin intens dalam membina relasi baik dan menyingkirkan relasi-relasi kurang sehat yang tidak membangun diri kita. Kita berproses dengan jalan dan pertumbuhan kita masing-masing dan dikembangkan melalui pengalaman dengan begitu banyak orang.

Amsal yang merupakan kitab ma'saal kitab hikmat bagi banyak orang, mengajar kita berefleksi lebih dalam mengenai kebijaksanaan yang didapat melalui sikap dan tindakan baik dalam hidup keseharian, termasuk soal hubungan bersama orang-orang sekitar. Secara khusus mengenai sahabat, Amsal mengingatkan bahwa kita tidak akan bisa terbebas dari relasi yang lebih luas bersama masyarakat dan banyak orang. Tapi, kita akan makin belajar bijak dari perjumpaan kita bersama mereka.

Amsal 18:24 menunjukkan antitesa antara teman yang mendatangkan celaka dengan sahabat yang lebih karib daripada saudara. Ini semua menunjukkan kualitas kepribadian seseorang sehingga bisa dikatakan sahabat bagi orang lain, yakni mampu menujukkan kasih yang intens dan konsisten dari waktu ke waktu. Seseorang yang mampu memikirkan sahabatnya lebih daripada dirinya sendiri, yang telah ditunjukkan Yesus bagi kita ketika Dia berkata bahwa Dia bersedia menunjukkan karakter sahabat baik itu dalam kesetiaan dan kerelaan memberi nyawa-Nya sendiri (Bdk. Yohanes 15:13). 

Karakter setia itu yang diinginkan Yesus ada dalam diri tiap orang yang bertumbuh imannya. Kualitas ini adalah salah satu kualitas yang mumpuni juga untuk mampu bergaul dengan baik di tengah masyarakat luas bagi Amsal. Bukan hanya memikirkan diri sendiri, bersedia memikirkan orang lain. Mau dan mampu memberi diri bagi orang lain serta bersedia berbagi hidup dan menganggap orang lain penting, terlepas dari keberadaannya. 

Bukankah, zaman kini, ketulusan adalah salah satu hal yang begitu langka? Kita lebih mudah menetapkan standar pada tiap orang untuk bisa karib dan dekat dengan kita? Seringkali orang banyak melihat siapa saja yang bisa menjadi teman kita, sementara yang lainnya hanya menjadi golongan yang terpinggirkan? Bagaimana tiap-tiap orang yang hidupnya sudah diubahkan Kristus bisa memiliki kasih yang sama dan besar bagi tiap-tiap orang? Memang keteladanan macam itu, ada pada diri Yesus semata. Namun, kita yang terus belajar hidup dalam Dia, pasti dimampukan juga untuk memiliki kualitas macam itu.

Menjadi setia dan tulus memang tidak mudah, tapi mungkin. Kita mungkin tidak mendapatkan itu dari tiap orang. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak belajar menjadi sahabat yang baik. Maka, berdoalah agar pertama-tama kita mampu setia dan tulus. Dan kemudian, berdoalah bagi orang-orang seperti itu, yang pastinya ada. Mereka akan selalu ada bersama kita di sepanjang jalan, meski kehadiran mereka mungkin kurang kita rasakan.

Selamat Bersahabat! Selamat Melekat! 

Tuesday, July 4, 2017

HIDUP dan MATI, KRISTUS di dalamnya! (Pengkotbah 6:10-14)

Apapun yang ada, sudah lama disebut namanya. Dan sudah diketahui siapa manusia, yaitu bahwa ia tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanyaKarena makin banyak kata-kata, makin banyak kesia-siaan. Apakah faedahnya untuk manusia?Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?

Apa kita masih ingat dengan jatuhnya pesawat helikopter Basarnas beberapa hari lalu di pegunungan Dieng yang menewaskan delapan awaknya sekaligus? Menjadi tanya besar bagi kita bagaimana mungkin Allah memanggil mereka yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa orang lain? Seharusnya mereka selamat? Seharusnya mereka tetap hidup? Tapi mereka bukan pemilik hidup mereka. Pemilik hidup manusia adalah Tuhan.

Kematian adalah sebuah misteri, demikian juga dengan hidup. Tiap kali kita berulangtahun, kita ingat sudah berapa lama kita hidup dan menikmati segalanya namun kemudian ingat bahwa kita selalu ingat dengan kesudahan. Sebuah akhir. Dan, itu pasti akan kita temui.

Karena itu istilah memento mori ada. Istilah latin yang berarti "ingatlah kamu pasti mati!" atau dipertegas menjadi kamu harus mati. Yang konon memiliki banyak kisah dibalik penyebutannya. Suatu kali ada seorang jenderal yang selalu ingat untuk tidak sombong didalam semua keberhasilannya karena dia punya asisten yang selalu berteriak padanya, memento mori!memento mori! Ingat suatu saat kamu akan tua! Suatu saat kamu akan berakhir!  Suatu saat kamu akan dijatuhkan begitu kata asistennya itu.

Maka manusia seringkali menolak kematian. Kita membayar untuk tetap muda dan tetap kuat. Kita berusaha untuk tetap cantik. Kendati demikian Kohelet berkata bahwa kadang-kadang orang bajik tidak lebih pintar daripada orang bodoh. Dan yang biasanya sudah berlaku tidak akan bisa dihentikan oleh apa pun, kalau memang kita harus berakhir ya berakhir. 

Seruang Pengkotbah ini bukan lantas menjadikan kita pesimis. Kita tidak perlu berusaha untuk tetap sehat dan kuat. Apa pun sarana yang diberi Allah untuk kita menjadi kuat dan sehat, itu harus dilakukan karena Allah ingin kita kuat untuk menjalani hidup. Tapi, adakalanya kita harus menyerah menghadapi akhir kita sendiri. Seorang penyair Goenawan Muhammad mengingatkan kita bahwa hidup kita ini bisa ada karena peran serta banyak pihak termasuk Tuhan, orangtua, sahabat, dan banyak lagi. Maka, kita belajar untuk tidak merasa kita tidak butuh siapa siapa. 

Di tengah perjalanan iman orang yang meninggal, pasti ada banyak hal yang sudah dilalui. Apa yang dia rasakan tentang dirinya sendiri. Iman naik turun bersama Tuhan. Ada peran serta keluarga di situ, juga ada gereja yang selama ini selalu ada bersamanya. Banyak yang menyertai dalam perjalanan hidup seseorang yang sudah meninggal. Ini mengingatkan bahwa hidup manusia itu seberapa sulit dan berlikunya tetap merupakan perjuangan yang bernilai. Hidup kita ini dibentuk oleh orang-orang lain dalam keseharian, bukan hanya oleh diri sendiri. Karena itu, iman Kristen yang dihidupi dalam kehidupan kita tidak boleh diresapi sendiri saja, melainkan harus dihayati dalam hidup bersama orang Kristen lain, orang yang berbeda, bahkan dengan seisi ciptaan.

Itulah caranya kita mempersiapkan akhir kita masing-masing. Yakni mengisinya dengan hal-hal berarti. Suatu kali seorang profesor ingin mengajar para mahasiswanya tentang arti hidup. Dia meletakkan batu-batu kali dari mulai yang paling besar ke dalam sebuah tong. Murid-murid heran, karena mereka pikir untuk menjadi penuh, sebaiknya tong diisi dengan yang paling kecil dulu seperti pasir dan lain sebagainya. Maka profesor itu mengerti keheranan mahasiswanya. Setelah seisi tong penuh, dia berkata, " Nah, hidup selalu dimulai dengan apa yang paling besar dan utama dalam hidup yang kalian taruh dalam hidup kalian. Jika itu uang, maka itu yang akan mengisi sebagian besar hidupmu. Jika itu cinta manusia, maka itulah yang akan mengisinya. Jika kalian menaruh yang terbesar dan terbanyak itu adalah hal2 duniawi maka yang kecil-kecil seperti keluarga, kasih sayang dan Allah hanya akan memenuhi sisanya. Tong ini tidak akan penuh. Tapi lihatlah, jika kalian mulai mengisinya dengan hal-hal kecil seperti kerja keras, cinta, dan kasih sayang serta iman yang tidak putus2nya lambat laun kalian akan mampu menempatkan hal besar dalam hidup dan hidup kalian akan menjadi penuh.

Orang yang meninggal, tidak akan bisa lagi memperoleh hidupnya. Waktunya sudah selesai. Dia akan berhadapan dengan Allah yang akan menjadi hakim bagi semua kesetiaan iman yang sudah dia lakukan di dunia, sesuai dengan talenta yang diberi Allah baginya. Kita yang masih hidup dalam dunia ini, yang harus tetap mengingat memento mori kita masing-masing. Kapan pun waktunya, dengan cara bagaimana pun. Semua perjumpaan pasti berarti, dan Tuhan berkarya di dalamnya. Baik ketika kita berjumpa di tempat ini, belajar dari Firman Tuhan, dan semoga tiap Firman Tuhan bisa membuat kita bertumbuh. 

Hidup perlu dirawat dan dipelihara, orang Kristen berusaha melakukannya dengan hidup dalam persekutuan. Kita hidup bagi Kristus. Kristus di dalam kita, kita hidup bagi Kristus. Mungkin memang rupanya masih sama, keluarganya masih sama, rumahnya masih sama, tapi caranya memandang hidup berbeda. Hidup yang berisi dan bernilai. Dari memento mori, hidup yang tidak selamanya dan pasti berakhir. Mati yang pasti, kita belajar kepastian hidup.

Mungkin hidup kita memang tidak selamanya. Tapi hidup kita ini diberi Allah bukan dengan sia-sia. Jangan dibentuk seperti balon yang kelihatan melayang ke atas tapi ketika meletus kosong dan habis, melainkan jadikan seperti telur yang kelihatan rapuh tapi menyimpan kehidupan. Kehidupan yang sejati. Semoga yang telah kembali pada hakikatnya kepada Bapa sungguh meneladankan pada kita hidup yang sejati. Hidup yang menjadi buah dan memberkati banyak orang.