Saturday, March 24, 2012

Buka Dulu Topengmu!: Yohanes 12:1-8

Pada suatu hari seorang gadis mengirimkan sebuah foto dirinya pada pacarnya. Di balik foto tersebut, sang gadis mencantumkan kata-kata cinta, "Dari Whitney yang mencintai dan akan selalu mencintaimu selamanya. Nb: Kalau kita putus, jangan lupa kembaliin fotonya padaku yah, soalnya aku hanya punya satu." Ironis memang, kalimat pertama merupakan janji setia, kalimat kedua merupakan kebalikannya, minta barang kembali pada yang punya seakan tidak mau rugi. Cinta tapi tidak tulus.
Siapapun di antara kita pasti tidak akan pernah mau berkawan atau beristri atau bersuamikan orang yang seperti itu. Tapi sadarkah saudara, acapkali dalam kehidupan ini, kita juga seringkali "lain di mulut lain di hati".
Di luarnya bermuka manis, sementara dalam hati menyimpan kekesalan. Seperti orang pakai Sekarang ini, a-topeng.
Banyak orang mengenakan topeng; topeng penampilan keren, topeng kebaikan, topeng kemurahan hati, topeng kata-kata manis dan janji surga, padahal isi hatinya sama sekali gak memiliki niatan untuk melakukan apa yang dikatakan. Itu semua karena tidak tulus.
Begitupun dalam hidup beriman. Hidup beriman yang menuntut bukti dari kedewasaan iman kadang membuat seorang Kristen terjebak dalam topeng kerohanian. Supaya terlihat lebih rohani, segala sesuatu dalam pelayanan dimulai dalam doa, tapi ketika berbicara masalah program dan pengambilan keputusan seringkali kurang bijak dan bertentangan dengan prinsip-prinsip alkitab. Banyak orang juga datang dan aktif ke gereja tidak mewaspadai isi hatinya sendiri dan memiliki motivasi lain selain untuk Tuhan, yang kemudian membuatnya mengenakan topeng untuk membuat dirinya terlihat lebih baik di mata orang lain.
Yudas Iskariot tentunya seorang yang kelihatan sangat piawai sekali di bidang keuangan. Memang, dialah yang mengendalikan kebijakan keuangan dalam "komunitas pengikut Kristus" Sekilas, prinsip yang dia pegang terlihat baik ketika dia mengkritik apa yang Maria lakukan. "Kenapa sih uang itu gak dibagi-bagi saja pada orang miskin?" Sepintas terlihat begitu rohani dan sangat religius. Semestinya Yesus senang dan bangga punya murid seperti Yudas Iskariot.
Tapi, justru inilah topeng yang dikenakan oleh Yudas Iskariot. Ia mengenakan topeng kemurahhatian. Berpura-pura murah hati padahal dalam hatinya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Di mulutnya dia berkata, " Ah...buang-buang uang saja, kenapa sih tidak buat orang miskin?" Padahal dalam hatinya, dia berkata, " Ah..buang-buang uang saja, kenapa sih dikasih Yesus, emang apa sih berharganya Yesus? Meningan dikasih aku uangnya!". Sudah dapat ditebak, Yudas sama sekali tidak mencintai orang miskin. Dia sama sekali tidak mencintai Yesus. Siapa yang dia cintai? Hanya dirinya sendiri.
Yesus, pastilah sangat sedih dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh muridnya itu. Bathinya mungkin terkoyak. Dan selalu itulah yang terjadi saudara, ketika kita mulut kita berkata kita mengasihi Tuhan tapi hati kita berkata tidak dan menganggap seolah Dia tidak ada. Ketika kita berkotbah tentang Dia tapi, kelakuan kita sama sekali tidak menunjukkan rasa takut dan hormat kepada Dia, sesungguhnya, kita sedang menyalibkan Yesus dan menunjukkan bahwa kita lebih cinta diri kita sendiri daripada cinta Yesus.
Kisah ini bukannya ingin mengajak kita mengagungkan Maria, melainkan ingin mengajak kita belajar dari dua orang murid ini. Keduanya dikasihi oleh Tuhan, tapi hanya satu yang balas mengasihi Dia, yang lain lebih memilih mengasihi dirinya sendiri.
Jika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tapi kita masih mengenakan berbagai topeng dalam kehidupan kita maka baiklah kita mulai memperbaiki diri. Sesungguhnya, tidak ada satu hal pun dalam hati ini yang bisa disembunyikan dari Tuhan yang kudus. Mungkin orang lain tidak tahu, tapi Tuhan pasti tahu. Jadi, tidak ada gunanya berbohong sama Tuhan. Kecuali, kita sudah tidak memiliki lagi rasa takut kepada Tuhan.
Perkara Yudas Iskariot dan Maria adalah pelajaran beriman. Orang belum bisa dikatakan beriman kalau hanya berbuat baik, ia juga harus memiliki hati yang baik. Orang belum bisa dikatakan beriman kalau dia hanya memberi dengan tangannya, dia baru dikatakan beriman kalau dia juga bisa memberi hati dan bahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan dan sesama.
Beriman adalah tanpa topeng. Beriman itu tulus dari dalam hati dan memancari keluar. Kalau manusia saja bisa merasakan ketulusan, apalagi Tuhan. Kalau manusia saja senang dengan kejujuran, apalagi Tuhan. Bukankah selama ini Tuhan tulus tanpa topeng mengasihi kita? Dia tidak pernah berpura-pura mengasihi kita. Karena itu, Dia juga layak mendapatkan seluruh isi hati kita.
Tulus tanpa topeng itu bisa ditujukan lewat pengurbanan. Maria mengurbankan minyak narwastu yang setara dengan mahar pernikahan untuk menunjukkan cintanya yang besar. Apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan cinta kita yang besar pada Tuhan?
Saya rasa, tidak semua dari kita bisa jadi pendeta dan mengabdikan hidup untuk Tuhan sepanjang hayat. Tidak semua dari kita punya banyak uang untuk menjadi penyokong gereja. Tapi, pasti ada pengurbanan dan pemberian yang bisa kita berikan sebagai tanda cinta kasih kita untuk Allah. Sesuatu yang tulus tanpa topeng, itulah yang dikehendaki Dia. Berikanlah yang terbaik. Berilah sampai sakit. Baru itu yang namanya persembahan.
Ada begitu banyak orang ikut Tuhan gak mau berkurban, menderita, sakit, dan berlelah-lelah. Kita hanya mau menikmati kondisi yang enak dan diberi bukannya memberi. Akhirnya kita bisa mengenakan berbagai topeng supaya tetap terlihat rohani padahal dalam hatinya tidak mau memberi sampai sakit.
Jika anda dan saya sungguh-sungguh mengasihi Dia, jangan hanya berikan uang, jangan hanya berikan waktu, berikanlah seluruh hidup kita bagi Dia. Kenapa? Karena Dia sudah memberikan segalanya dan bahkan hidupNya bagi anda dan saya. Kol 3:23 Apappun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Tuhan memberkati kita yang mau beriman tanpa topeng.