Friday, March 2, 2012

Kotbah Minggu Sengsara III: Hikmat Allah vs Hikmat Manusia (based on 1 Kor 1:18-25)

Dunia ini punya tolak ukur kebahagiaan. Orang yang bahagia adalah orang yang punya banyak uang, akibatnya orang yang gak punya uang, hidupnya serasa di bui. Menurut dunia ini, orang layak dihormati adalah orang yang punya gelar segunung. Akibatnya, orang yang baik tapi tidak mampu sekolah, dipinggirkan dan dianggap hina. Kata orang dunia, orang hidup di dunia ini harus sukses, harus kaya, harus punya ini dan itu, sehingga kalau tidak punya ini dan itu, bararti itu orang pasti bodoh.
Masalahnya bapak, ibu, di mana kah di belahan dunia ini, kita tidak menemukan orang yang miskin? Bahkan kalau kita lihat di sekitar kita, lebih banyak orang yang miskin dan tidak berpendidikan daripada yang pintar dan kaya. Artinya adalah, kita tidak bisa memilih kepada Allah untuk diciptakan miskin atau kaya, ada di tengah keluarga dokter atau petani. Apa maksud Tuhan dengan semua penderitaan dunia? Mengapa Tuhan tidak jadikan hidup kita sekaya orang lain? Atau sepintar orang lain?
Hari ini, kita mencoba mencari makna hidup melalui perkataan Paulus. Paulus yang pintar dan merupakan orang yang paling taat beragama, sekarang menjadi hinaan dan sindiran oleh beberapa orang Yahudi dan Yunani yang ada di jemaat ini. Mereka bertanya-tanya, mengapa Paulus yang pintar seakan jadi bahan olok-olok karena Kristus? Apa sebabnya? Karena dia mengikut Yesus, Paulus menderita. Harusnya dia bisa hidup dengan damai dan dihormati tapi karena Yesus, Paulus dihina dan dikejar orang lantas jadi narapidana di mana-mana karena dia memberitakan Yesus dan ajarannya.
Semua bertanya, kalau begitu siapa yang bodoh? Bukankah Paulus yang bodoh? Mengapa Paulus mau bersusah payah mengikut Yesus dan menderita bagi Dia? Mengapa Paulus memikul salib bersama dengan Yesus yang sudah lebih dulu disalib?
Untuk orang-orang yang tidak percaya pada Yesus, Paulus memang terlihat bodoh. Bagaimana tidak? Orang paling pintar malah mau mengikut manusia kalah seperti Yesus. Buat orang Yahudi dan Yunani, Yesus itu obyek terhina. Dia pecundang. Tidak mungkin bagi mereka mempercayai Yesus, sebab nyata di depan mata mereka, Yesus mati sebagai penjahat di kayu salib. Bagaimana mungkin Paulus bisa memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias.
Sekarang, pertanyaan itu juga dipertanyakan kepada kita saudaraku. Kita sedang diperhadapkan pada kenyataan bahwa Tuhan yang kita sembah sesungguhnya adalah manusia yang benar-benar manusia. Manusia sejati. Yang bisa sakit dan mati. Yang pada akhirnya mati disalibkan. Selintas untuk semua manusia di dunia ini, Yesus tidak lebih dari orang yang kalah.
Tapi, Paulus menyatakan bahwa bagi dunia ini pemberitaan tentang salib adalah sebuah kebodohan. Setiap orang yang tidak percaya Yesus, bahkan bagi kita yang mulai sangsi pada kuasa Yesus dalam kehidupan kita, pasti akan bertanya, “bagaimana mungkin saya memercayakan hidup saya pada Tuhan yang mati di kayu salib?”. Sekali lagi, salib tidak sesuai dengan standard dunia ini. Jagoan tidak boleh kalah. Yesus bukan jagoan karena ia kalah.
Tapi, Paulus justru menyatakan di situlah letak kebodohan orang-orang dunia ini. Kalau kita hanya bisa melihat salib itu sebagai lambang kekalahan, maka kita sama bodohnya dengan orang-orang Korintus pada jaman itu. Karena justru di tangan Allah, salib bukan lambang kekalahan.
Salib itu adalah lambang anugerah. Salib itu lambang kasih. Itu simbol pemberian. Pernyataan cinta kasih Allah pada manusia. Manusia yang mati di kayu salib itu bukan manusia biasa. Dialah Tuhan sendiri yang bersedia menjadi korban penebusan dosa. Dosa siapa? Dosa kita. Manusia celaka yang menganggap bahwa cintanya adalah sebuah kebodohan.
Untuk siapapun yang merasa sombong dan tidak berdosa. Untuk siapapun yang merasa tidak memerlukan pengampunan dan kasih Tuhan, pasti tidak bisa menyadari ini. Tapi untuk orang yang percaya pada Yesus dan tersentuh oleh kasih-Nya, salib bukanlah lambang kekalahan tapi justru kemenangan.
Karena itu, saudaraku, jangan merasa bodoh karena kita sudah mempercayai Yesus. Seakan dunia ini memperolok-olok kita dengan ungkapan, “ Mana Tuhanmu yang kamu sembah itu, kok kamu masih menderita aja si sampe sekarang?”. Karena sekarang kita tahu, bahwa kita tidak mempercaya jagoan yang kalah, tapi seorang manusia yang penuh dengan belaskasihan. Dan, apakah yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Allah, saudaraku? Apa yang mustahil bagi Allah? Mengorbankan diriNya sendiri saja, Dia bisa. Apalagi memberikan yang lain bagi kita?
Maka, percayalah! Jangan menganggap beriman itu bodoh dan sia-sia. Karena Yesus yang tersalib itu ada banyak orang yang berubah hidupnya saat ini. Itu karena satu manusia yang tersalib itu.
Yesus sudah menunggangbalikkan standar dunia ini. Menurut orang dunia ini, yang layak untuk dihormati adalah uang dan kemapanan. Untuk Yesus, dunia ini perlu cinta dan kasih, dan Dia memberikannya. Nah, kalau standard kasih dan anugerah itu yang Yesus jadikan patokan, janganlah kita juga memperlakukan satu sama lain dengan standard dunia ini.
Dunia ini memberi penghormatan setinggi langit pada mereka yang pintar dan kaya dan memberi penghinaan pada mereka yang terbelakang dan miskin. Gereja tidak boleh seperti itu. Jika gereja seperti itu, gereja bukan memberitakan tentang salib tapi memberitakan tentang dunia. Orang Kristen yang percaya Yesus juga tidak boleh lagi memandang dan mengukur apapun dengan standar dunia ini. Kebanyakan orang tua juga memakai standar kekayaan dan intelektual dalam memilih menantu, sehingga selalu ada kisah Siti Nurbaya di jaman sekarang. Padahal, hikmat Allah yaitu standar iman kepada Yesus hendak juga jadi ukuran. Ada banyak orang tua memberi pendidikan yang mahal-mahal kepada anak-anak, tapi lupa mendidik anak-anak menurut hikmat dari Allah. Akhirnya, anak-anaknya menjadi berhikmat di mata dunia ini tapi menjadi bodoh di hadapan Allah.
Bergaulah dengan sesama bukan karena status dan apa yang mereka punya, melainkan karena kita sama-sama memperoleh anugerah kasih dari Allah di dalam Yesus. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang bodoh bagi dunia ini tapi menjadi yang berhikmat di mata Allah bukan sebaliknya.