Thursday, May 16, 2013

Apa itu PENTAKOSTA?

Sama seperti tubuh kehilangan roh, dan kapal yang kehilangan nahkoda, kita tidak mungkin mampu menjalani hari sebagai pengikut Kristus, tanpa mengenal Roh Kudus. Hidup tanpa menyadari keberadaan Roh Kudus adalah sama dengan melupakan janji baptis kita. Inilah sesungguhnya harta kekayaan yang kita miliki dalam iman percaya kita; kasih Kristus dan Roh Penghibur, Roh yang membuat kita tidak akan pernah jadi anak-anak yatim piatu di dalam dunia ini. (Yohanes 14:18). Sebelum kita merayakan hadirnya Roh Kudus hari ini, ada baiknya pemahaman kita akan-Nya kembali disegarkan.
Bicara mengenai Pentakosta (=yang berarti hari kelimapuluh), tidak bisa dilepaskan maknanya dari Pesta Panen Gandum pada Perjanjian Lama. Pentakosta pada zaman PL adalah perayaan syukur atas berkat Tuhan melimpah dalam panen orang Israel. Tradisi ini dilanjutkan dalam Perjanjian Baru melalui Kisah Pencurahan Roh Kudus (yang dirayakan 50 hari setelah Paskah) dalam Kisah Para Rasul. Intinya kurang lebih sama; rasa syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan pada hidup umat-Nya melalui kehadiran Roh yang Kudus.
Pentakosta semestinya membuat hidup beriman kita selalu bergairah. Karena itu simbolnya dalam ibadah biasanya dihubungkan dengan warna merah sebagai warna liturgis kehadiran api yang menyala, angin, air, dan burung merpati. Begitulah karakter Roh Kudus. Dia adalah Penolong (Yoh 14: 16, Penghibur (Yoh. 16: 7), Pemimpin (Yoh. 16: 13) dan Pengajar (Yoh. 14: 26). Dia Roh Allah sendiri yang hadir dalam diri untuk menolong dan menguatkan kita.
Kehadiran Roh Kudus seperti api. Mestinya ini membuat kita bersemangat dalam melakukan berbagai pekerjaan baik dan pelayanan. Dalam alkitab, banyak hal-hal luar biasa dilakukan oleh Paulus, Silas, Barnabas, Paulus, Tomas, dan para rasul lainnya di dalam kuasa Roh Kudus, yang pastinya kita juga bisa, asal kita bergantung pada Roh Kudus. Masalahnya, justru manusia kristiani di zaman sekarang lebih suka mengabaikan tuntunan dan nasehat Roh Kudus dalam hati. Kenapa? Karena ikut kemauan Roh Kudus, akan menguduskan sekalipun menyakitkan. Sementara ikut keinginan sendiri lebih enak meski mengudiskan.
Apa yang dikerjakan oleh Roh Kudus pagi ini dalam ibadah tentunya banyak sekali, dari mulai memimpin setiap pelayan ibadah untuk melayani dalam kesungguhan hati, sampai menyertai saudara dalam perjalanan ke gereja. Dari mulai menuntun para lansia untuk tetap bersemangat meski sudah tua, sampai menuntun anak-anak sekolah minggu mandi pagi dan semangat pergi sekolah minggu. Tidakkah, semua kegairahan ini menyukakan hati anda? Inilah karya Roh Kudus. Mari bersyukur!
Keberadaan-Nya yang seperti angin, bertiup sekehendak-Nya, mengingatkan kita bahwa karya Allah bisa berlaku di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Tuhan ingin setiap orang selamat, dan Dia bisa menyelamatkan siapa saja. Dan, untuk menjadi alat keselamatan-Nya, Tuhan bisa memakai siapa saja. Jadi,  jangan putus asa, hanya karena kita memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan dalam melayani! Apa yang hina bagi dunia ini, justru dipakai Allah untuk mempermalukan dunia. Apa yang kecil di mata Tuhan bisa dipakainya jadi besar dalam tangan-Nya.
Burung merpati adalah lambang hati yang bersih, kesucian hidup, komitmen dan kesetiaan. Pentakosta mengingatkan kita untuk terus memperbarui hidup dalam pertobatan. Orang kristen harus bertumbuh, tidak boleh bergulat dalam zona nyaman terus menerus. Ingatlah buah Roh; kasih, kesetiaan, kesabaran, kemurahan hati, kelemahlembutan, penguasaan diri, kebaikan dan damai sejahtera. Semuanya itu adalah tanda kita bertumbuh dewasa dalam iman.
Ini tandanya, kita mesti terus berubah ke arah lebih baik, dari yang dulunya pemarah jadi peramah, dari yang tadinya suka selingkuh jadi setia, dari yang dulunya tidak suka dengan belajar Firman jadi suka mendengar dan merenungkan Firman, inilah karya Roh Kudus dalam diri orang percaya.
Air membasuh kita dari segala kotoran. Air juga melambangkan baptisan yang sudah kita terima. Ingatlah bahwa baptisan kita sungguh bernilai. Karena itu, Roh Kudus yang sudah saudara dan saya terima  juga sangat berharga, jangan sia-siakan itu! Mungkin, saat ini, Roh Kudus mengetuk pintu hati kita untuk suatu maksud, mari kita dengarkan dan resapi kehadiran-Nya!
Terkadang, dengan banyaknya pekerjaan yang kita lakukan, sebagai manusia super kuat, kita lupa bersaat teduh, lupa berhening, lupa mendengarkan suara hati kita di mana Roh yang Kudus berbicara. Juga, karena pelayanan sering kita lakukan, kita mengabaikan kekudusan dari Roh itu sendiri. Kita lupa berdoa sebelum melayani. Kita lupa meminta bimbingan Roh Kudus sebelum persiapan. Kita lupa membawa segala sesuatu dalam pertolongan-Nya.
Padahal, tanpa kuasa Roh, tidak mungkin kita teguh tegak berdiri dalam iman. Tanpa pertolongan Roh, tidak mungkin ada kesatuan dalam Gereja. Tanpa bimbingan Roh, tidak mungkin, mulut kita fasih bicara, meski pengetahuan kita kurang, dan kita bisa melakukan banyak perkara dalam pelayanan kita. Ini semua adalah pekerjaan Roh.

Masalahnya, anda dan saya merasakan gak kuasa Roh Kudus dalam hidup kita? Kalau jawabannya iya, kenapa masih ada kuatir berlebihan? Kenapa masih ada hati yang lemah lesu dan putus harap? Bukankah di mana ada kuasa Roh Kudus, ada kekuatan untuk memindahkan gunung, karena iman kita? Di mana ada kuasa Roh Kudus, selalu ada sukacita, harapan, semangat melayani, kerendahan hati, dan kasih kepada sesama? Nah, bersukacitalah!Dia hadir dulu, sekarang, dan nanti! Haleluya! (DE)
Turun, Roh Allah, dalam hatiku;
sucikan daku dan hidupkanlah;
ubah lemahku oleh kuasaMu;
kasihku padaMu murnikanlah.

Tidak kuminta mimpi amat khas,
tanda yang hebat, keajaiban pun;
yang aku minta hanya inilah:
singkirkan kesuraman jiwaku.

Bukankah, Yesus, Dikau berpesan:
Kasihi Allah, ikhlas dan penuh?
Ajar kiranya salib kupegang;
biar kucari dan mendapatkanMu.

Ajarlah aku bahwa Kau dekat;
ajar ‘ku tahan di gumulanku, -
tidak bersangsi, tidak berkesah,
bila tak Kaukabulkan doaku.

Ajar ‘ku tulus mengasihiMu;
diriku dalam Roh baptiskanlah.
Hatiku altar persembahanku,
cinta kasihMu nyala apinya.
                                                                                    (KJ 239 “TURUN, ROH ALLAH DALAM HATIKU”)